The Alpha

The Alpha
Membantu secara diam-diam



Beberapa saat sebelumnya.


Disaat semua orang tengah panik memikirkan cara untuk membantu Tuan Handoko, Daniel secara diam-diam memerintahkan Omega untuk membantunya menyelesaikan masalah keluarga Handoko.


"Omega! Bisakah kau membantuku?" tanya Daniel.


"Katakan saja, Tuan!"


"Bantu aku mengirim uang sebanyak sembilan miliar ke rekening Tuan Handoko, tapi ingat, jangan gunakan nama asliku" ucap Daniel.


"Baik Tuan, pengiriman akan dilakukan dalam sepuluh detik."


Setelah waktu sepuluh detik berlalu, didepan Daniel tiba-tiba saja muncul layar biru transparan seperti sebelumnya, namun layar biru itu tidak menunjukkan status Daniel, tapi menunjukkan jumlah saldonya yang telah berkurang, dengan kata lain, proses pengiriman telah berhasil dilakukan oleh Omega.


"Terima kasih, Omega" jawab Daniel.


Ding!


[Selamat, Tuan telah berhasil menyelesaikan misi tersembunyi, hadiah sudah dimasukkan ke penyimpanan sistem]


Daniel cukup dikejutkan oleh suara notifikasi yang tiba-tiba saja muncul didalam kepalanya, ia benar-benar tidak menyangka jika bantuan yang ia berikan kepada keluarga Handoko ternyata adalah sebuah misi yang tersembunyi. Dan sekarang, ia malah penasaran pada hadiah yang diberikan oleh sistem karena telah berhasil menyelesaikan misi tersembunyi tersebut.


"Omega, buka hadiahku" ucap Daniel.


"Baik, Tuan!"


Ding!


[Selamat! Tuan berhasil mendapatkan sebuah mobil sport Bugatti Veyron edisi terbatas.]


[Selamat! Tuan berhasil mendapatkan uang sebesar 500 juta rupiah.]


Daniel tersenyum senang melihat notifikasi yang muncul didepan matanya itu, dan sangat kebetulan, sekarang ia memang membutuhkan sebuah mobil. Selain itu, ia juga sangat senang karena berhasil mendapatkan sejumlah uang, meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk menambah saldonya.


Disaat yang bersamaan.


"Daniel, kenapa kau malah tersenyum? Apa yang membuatmu begitu bahagia?" tanya Dewi.


"Kenapa aku tersenyum? Tentu saja karena aku bahagia mendengar kabar dari kakek barusan" jawab Daniel.


"Jangan bohong! Aku yakin saat ini kau tersenyum karena bahagia di atas penderitaan kami!" sahut Dewi.


"Cukup! Apa kau lupa pada perkataan ku sebelumnya?"


"Saat ini, kita harus memikirkan cara untuk mengembalikan uang para investor, meskipun kita sudah mendapatkan bantuan sebanyak sembilan miliar, tapi jumlah ini masih belum cukup untuk mengembalikan uang mereka" ucap Tuan Handoko.


"Ayah benar, meskipun kita sudah mendapatkan bantuan dari orang itu, tapi itu belum menyelesaikan masalah kita sepenuhnya" sahut Johan.


"Maafkan aku kakek, aku tidak bisa memberikan bantuan apapun untuk saat ini" ucap Daniel.


Tuan Handoko menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa Daniel, kehadiranmu sudah cukup membantuku."


Sebenarnya, Daniel sudah sangat membantu dengan mentransfer uang sembilan miliar pada Tuan Handoko, namun karena ia tidak ingin identitasnya terbongkar, iapun hanya bisa berpura-pura seolah tidak bisa memberikan bantuan apapun. Padahal, bantuan yang ia berikan jauh lebih besar daripada yang lainnya.


"Lalu, berapa kekurangan yang masih tersisa?" tanya Anna.


"Jika ditambah dengan bantuan dari orang misterius itu, uang yang kita miliki sekarang adalah sebanyak lima belas miliar, sedangkan uang para investor itu berjumlah tiga puluh miliar" jawab Tuan Handoko.


Setelah cukup lama membahas masalah yang tengah menimpa keluarga mereka, Tuan Handoko kemudian meminta mereka semua untuk beristirahat, karena selain malam yang sudah semakin larut, ia sendiri juga sudah sangat lelah dan butuh segera beristirahat. Lalu mengenai masalah itu, mereka akan membicarakannya lagi besok.


Di dalam kamar Daniel dan Alisha.


"Daniel, menurutmu siapa yang telah membantu kakek?" tanya Alisha.


"Entahlah, tapi yang jelas dia adalah orang yang sangat baik" jawab Daniel.


"Aku juga tahu itu, jika dia bukan orang baik, lalu kenapa dia mau mengirimkan uang yang begitu banyak tanpa menyertakan namanya" sahut Alisha.


"Sudahlah, sekarang lebih baik kita istirahat, agar saat bangun besok kita memiliki cukup tenaga untuk menyiapkan pesta ulang tahun untuk kakek."


"Kau benar, tapi aku benar-benar sedih karena tidak bisa memberikan bantuan apapun pada kakek."


Daniel mengubah posisinya yang semula terlentang menjadi miring ke arah Alisha, ia juga menopang kepalanya dengan menggunakan sikunya, "Tenanglah, aku yakin semuanya akan baik-baik saja" ucap Daniel.


Alisha tidak mengatakan apapun lagi, karena saat ini matanya tengah fokus menatap mata suaminya itu, dan tanpa ia sadari, tatapan Daniel yang sangat dalam berhasil membuat jantungnya berdetak dengan kencang, begitupun sebaliknya.


Pada titik ini, Daniel mencoba untuk memberanikan dirinya dengan mencondongkan tubuhnya, sehingga membuat wajahnya dan wajah Alisha menjadi semakin dekat, dan pada saat yang bersamaan, jantung mereka berdua berdetak semakin kencang, bahkan mereka bisa mendengar dengan jelas detak jantungnya masing-masing.


"Alisha, aku..." ucapan Daniel terhenti karena Alisha telan lebih dulu merangkul lehernya dan mengecup bibirnya dengan lembut.


Daniel cukup dikejutkan oleh perbuatan Alisha yang sangat tiba-tiba itu, bahkan ia tidak menyangka jika Alisha akan benar-benar menciumnya, padahal ia sempat berpikir jika Alisha akan langsung menolak, atau bahkan marah karena perbuatannya itu.


Tapi nyatanya, apa yang ia pikirkan itu tidaklah benar sama sekali, karena Alisha tidak hanya tidak menolak ataupun marah padanya, justru dialah yang lebih dulu mendaratkan bibirnya pada bibir Daniel, walaupun hanya sebatas kecupan belaka, tapi itu sudah membuat Daniel merasa cukup senang.


"Daniel, bisakah kau menunggu sebentar lagi, setidaknya sampai hatiku benar-benar sepenuhnya terbuka untukmu" ucap Alisha.


Daniel tersenyum sembari membelai pipi Alisha yang lembut, "Tenang saja, aku akan menunggu sampai hari itu tiba" sahut Daniel.


Meski ada sedikit rasa kecewa dalam hatinya, tapi Daniel tidak bisa melakukan apapun untuk saat ini, lagipula, dia sudah berjanji pada dirinya untuk tidak memaksa Alisha agar mau menerima dirinya, oleh sebab itu, satu-satunya hal yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah bersabar.


"Terima kasih, Daniel. Aku senang karena kau masih mau bersabar menungguku."


"Tentu saja aku masih sabar, lagipula aku baru saja memberikan ciuman pertamaku padamu" ucap Daniel.


"Apa? Jadi itu tadi..."


Daniel mengangguk pelan, "Benar, itu tadi adalah ciuman pertamaku"


"Itu artinya kita sama, karena itu tadi juga ciuman pertamaku" sahut Alisha.


"Benarkah?"


"Mungkin sulit bagimu untuk percaya, tapi selama aku berpacaran dengan David, aku tidak melakukan apapun dengannya, bahkan aku selalu menolak saat dia mencoba mencium ku" jawab Alisha.


Daniel memberikan senyuman terbaiknya, "Tentu saja aku percaya, Alisha" ucapnya.


"Terima kasih" sahut Alisha lalu memeluk suaminya itu dengan erat, "Malam ini aku ingin tidur dalam pelukanmu, apakah boleh?"


"Kenapa tidak?" jawab Daniel.


Pada akhirnya, mereka berdua terlelap dalam pelukan masing-masing, dan tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang tengah mengawasi mereka dibalik pintu kamar.


"Bagus, karena Alisha belum pernah disentuh olehnya, itu artinya rencana ku akan berjalan dengan lebih mudah" gumam Dewi, kemudian pergi meninggalkan kamar anaknya itu.