
Ditempat lain.
"Dokter, bagaimana keadaan anakku?" Robert langsung menanyakan keadaan David ketika dokter yang menangani anaknya itu keluar dari ruangan.
"Hah" dokter itu menghela napas panjang sembari menggelengkan kepalanya, "Maaf tuan Louis, tapi sepertinya Anda tidak akan pernah bisa punya cucu dari Tuan Muda David."
"Apa maksudmu?" tanya Robert dengan putus asa.
"Kedua telurnya pecah dan senjatanya tidak akan pernah bisa bangun lagi" jawab Dokter tersebut, kemudian pergi meninggalkan Robert yang nampak sangat terpukul setelah mendengar kabar mengenai anaknya.
Semalam, setelah ia meninggalkan David di kamar hotel dengan Alisha, ia tidak mendapatkan kabar apapun lagi dari anaknya itu, namun pada saat itu ia tidak merasa khawatir sedikitpun, karena menurutnya, anaknya sedang kelelahan setelah puas bermain dengan wanita yang ia sekap di kamar hotel.
Akan tetapi, setelah hampir satu jam berlalu sejak Robert meninggalkan hotal, ia tiba-tiba saja mendapatkan panggilan dari pihak hotel yang mengatakan jika anaknya sedang terluka dan telah dibawa ke rumah sakit. Saat itu, Robert memang sedikit khawatir karena takut terjadi sesuatu pada anaknya.
Dan benar saja, apa yang ia khawatirkan ternyata benar-benar terjadi, bahkan keadaan David jauh lebih parah dari apa yang pernah dia bayangkan sebelumnya, dan karena hal itu, selamanya dia tidak akan pernah bisa mendapatkan seorang cucu, karena anak semata wayangnya itu telah menjadi seorang Kasim.
"Sialan! Aku pasti tidak akan membiarkan wanita sialan itu hidup!" gumam Robert, kemudian pergi dari rumah sakit dengan marah.
Setelah meninggalkan rumah sakit, Robert kemudian pergi menuju ke hotel untuk melihat rekaman kamera pengawas yang ada didepan kamar anaknya, dan dengan status serta uang yang ia miliki, Robert pun berhasil mengetahui siapa yang telah melakukan kekejaman itu kepada anaknya.
"Apa kalian tahu siapa pemuda itu?" tanya Robert.
"Maafkan kami Tuan Louis, kami tidak mengetahui siapa pemuda itu" jawab manajer hotel yang juga ada di sana.
"Apa? Bagaimana mungkin kalian tidak mengetahuinya? Memangnya lewat pintu mana pemuda sialan ini masuk?"
"Te-tentu saja lewat pintu depan, Tuan"
"Lalu kenapa kalian tidak mengetahuinya? Apa kalian semua tidur saat dia masuk? Aku tidak mau tahu, bagaimanapun caranya, kalian harus mengetahui siapa pemuda ini, jika tidak, kalian akan mendapatkan akibatnya!" ancam Robert, kemudian pergi meninggalkan hotel.
Ketika berada di lobi hotel, Robert mengeluarkan ponsel dari sakunya dan langsung menghubungi seseorang, "Tiger, aku butuh bantuan mu!" ucap Robert ketika panggilannya terhubung.
"Baiklah, kalau begitu kita bertemu ditempat biasa" ucap pria diujung telepon.
***
Sementara itu, di rumah Daniel.
Saat ini, Daniel dan Alisha tengah menyantap sarapan yang telah disajikan oleh para pelayan, suasana yang begitu canggung memenuhi seluruh ruangan tersebut, karena ini adalah kali pertamanya mereka sarapan hanya berdua saja.
"Alisha, bagaimana dengan kuliahmu?" Daniel mencoba memecah suasana canggung tersebut.
"Untuk sementara ini, aku tidak akan datang ke kampus, karena kejadian kemarin masih terus terngiang di benakku" jawab Alisha.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan jika tidak ke kampus?"
"Entahlah, dulu aku sering menghabiskan waktu dengan jalan-jalan dan belanja di mall, tapi sekarang sepertinya tidak bisa."
"Kalau begitu, setelah ini aku akan mengajakmu belanja di mall" sahut Daniel.
"Ukhuk" Alisha tersedak ketika mendengar perkataan Daniel.
Alisha mengangguk pelan, "Apa aku tidak salah dengar?"
"Pendengaran mu baik-baik saja, kan?"
"Tentu saja, memangnya aku tuli?!"
"Kalau begitu kau tidak salah dengar."
"Memangnya kau punya uang?"
"Aku masih memiliki sedikit tabungan, jadi kau tidak perlu khawatir" jawab Daniel.
Alisha tidak mengatakan apapun lagi, meskipun ia tidak tahu berapa jumlah tabungan yang dimiliki oleh suaminya itu, tapi Alisha sangat yakin jika tabungannya tidaklah sebanyak yang ia pikirkan, meski begitu, ia tetap setuju karena tidak ingin membuat Daniel kecewa dengan menolak ajakannya.
Selesai sarapan, Alisha langsung kembali ke kamar untuk bersiap-siap, sedangkan Daniel, ia masih berada di meja makan dan mengobrol bersama Heru, dan entah mengapa, Alisha malah berpikir jika Daniel sedang berusaha untuk meminjam sejumlah uang dari kepala pelayan itu, padahal yang mereka bicarakan bukanlah itu.
Setengah jam kemudian, Alisha akhirnya turun keluar dari kamar dan langsung menemui Daniel yang sedang menunggunya di ruang tamu, "Apa kita akan berangkat sekarang?" tanya Alisha.
Daniel benar-benar terpana ketika melihat penampilan istrinya itu, meskipun wajahnya tidak dihiasi oleh riasan yang tebal, tapi kecantikannya benar-benar bisa membuat jantung Daniel berdegup kencang, bahkan ia sampai tidak mendengar perkataan istrinya barusan.
"Apa ada yang aneh dengan wajahku?" tanya Alisha.
Daniel tersadar dari lamunannya dan langsung menggelengkan kepalanya, "Tidak ada yang salah, bahkan kau terlihat sangat cantik" jawab Daniel.
Wajah Alisha seketika langsung memerah karena dipuji oleh Daniel, meskipun ia sudah sering mendengar pujian seperti itu dari laki-laki lain, khususnya David, tapi entah kenapa ada yang berbeda dari pujian yang diberikan oleh Daniel, bahkan bisa dikatakan bahwa pujian Daniel barusan adalah satu-satunya pujian yang berhasil membuatnya salah tingkah.
"Su-sudahlah, lebih baik kita berangkat sekarang" ucap Alisha.
Daniel memberikan senyuman terbaiknya untuk Alisha, lalu setelah itu, mereka berdua berangkat menuju ke mall terdekat, dan karena mereka tidak memiliki mobil, merekapun berangkat dengan menggunakan mobil Heru, dan tentu saja, Heru sendiri yang menjadi supir mereka.
"Heru, maaf karena sudah merepotkan mu" ucap Alisha.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Lagipula, ini adalah bagian dari tugas saya" jawab Heru.
"Hah" Alisha tiba-tiba menghela napas panjang, "Andaikan saja aku punya mobil sendiri" gumamnya pelan, namun perkataannya terdengar dengan jelas oleh Daniel.
"Mobil, ya? Sepertinya aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan dengan uang ini" ucap Daniel dalam hatinya.
Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit, mereka akhirnya tiba di mall yang letaknya tidak terlalu jauh dari kawasan Great Mountain Villa, dan setibanya di sana, Daniel langsung mengajak Alisha untuk berkeliling sembari mencari sesuatu yang bisa mereka beli.
"Alisha, apa kau menginginkan sesuatu?" tanya Daniel.
"Sebenarnya ada dan ini sangat penting, tapi lupakan saja, karena aku bisa membelinya lain kali" jawab Alisha.
"Kenapa tidak sekarang saja? Memangnya apa yang kau inginkan?" tanya Daniel.
"Aku ingin membeli ponsel baru, karena ponselku yang lama sudah hilang. Sudahlah, jangan pikirkan itu lagi, lebih baik kita menikmati waktu santai ini saja. Lagipula, aku belum membutuhkannya sekarang" jawab Alisha.
Walaupun wajah Alisha menunjukkan senyuman terbaiknya, tapi Daniel bisa mengetahui jika dibalik senyuman indah itu, terdapat sebuah keinginan yang harus segera dikabulkan, dan karena tidak ingin mengecewakan istrinya, Daniel kemudian menarik tangan Alisha menuju ke salah satu toko ponsel yang ada di mall tersebut.