
Saat mendengar Daniel ingin merekrut pengawal, Heru yang sejak awal hanya diam akhirnya angkat bicara, karena kebetulan dia mengenal seseorang yang menyediakan jasa pengawal untuk orang-orang ternama di kota A ini.
Dan saat ini, mereka bertiga sudah berada ditempat tersebut, tempat yang cukup tersembunyi dan tidak terlihat seperti tempat yang menyediakan jasa pengawal seperti biasanya, bahkan tempat itu lebih mirip seperti kedai kopi biasa.
"Heru, apa ini tempatnya?" tanya Daniel.
"Benar, Tuan Muda."
Meski tidak terlalu yakin namun Daniel mencoba untuk percaya pada asistennya itu, setidaknya ia sudah memberikan kesempatan padanya untuk membantu, kalaupun tidak ada yang sesuai dengan kriterianya, maka dia bisa mencari yang lain.
"Tuan Muda, tunggulah di sini sebentar" ucap Heru setelah mereka masuk ke tempat tersebut.
"Baiklah" jawab Daniel singkat.
Setelah mendapatkan izin, Heru kemudian meninggalkan Daniel dan Alisha di sana, sementara dirinya masuk ke salah satu ruangan yang ada di tempat tersebut. Dan sepuluh menit kemudian, Heru keluar lagi bersama seorang pria berbadan kekar.
"Tuan Muda, dia adalah temanku dan pemilik tempat ini, namanya Roy."
Daniel hanya mengangguk, kemudian mengulurkan tangannya pada Roy, namun pria itu nampak acuh dan hanya memberikan tatapan remeh pada Daniel.
"Heru, apa kau yakin pemuda ini punya uang?"
Heru menghela napas panjang, "Roy, aku sudah menjelaskan semuanya padamu, jadi aku harap kau bisa menjaga sikap!"
Daniel mengerutkan dahi, ia tidak menyangka jika uluran tangannya malah akan diabaikan begitu saja, bahkan tidak menyangka jika dirinya malah akan diremehkan oleh pemilik tempat tersebut, namun ia berusaha untuk tenang, karena masih menghargai Heru.
"Anda tidak perlu khawatir, saya bisa membayar Anda lebih dari yang Anda harapkan."
"Benarkah? Bagaimana kalau dua ratus juta?"
"Tidak masalah!"
"Tidak, maksudku lima ratus juta!"
"Deal!"
Roy mengerutkan dahi ketika melihat Daniel mengulurkan tangannya sekali lagi, ia sedikit heran dengan sikap Daniel yang begitu santai bahkan tidak memberikan penawaran sedikitpun.
Padahal, kebanyakan keluarga kaya yang sudah ia layani, mereka akan menunjukkan kekhawatiran saat dirinya menaikkan harga untuk jasanya itu.
"Bagaimana kalau satu miliar?"
"Uang bukan masalah untukku, tapi apakah Anda bisa menjamin keselamatan istri saya dari bahaya apapun?"
"Kau..."
Roy mulai ragu dan bingung mengenai identitas pemuda di depannya saat ini, karena sebelumnya, Heru hanya mengatakan jika Tuannya membutuhkan bantuan seorang pengawal.
Sebagai seseorang yang sudah sering melayani keluarga kaya, Roy tentunya sudah sangat mengerti bagaimana watak orang-orang itu, namun pemuda di depannya itu benar-benar berbeda dari kebanyakan orang kaya yang pernah ia layani.
"Kau meragukan kemampuan orang-orang ku?"
"Bisa iya dan bisa juga tidak, semua itu tergantung bagaimana Anda menyikapinya" jawab Daniel.
"Baiklah, bagaimana kalau kau mencobanya sendiri?" tantang Roy.
Karena Daniel menerima tantangannya, Roy kemudian mengajak mereka ke ruangan khusus tempat ia melatih para pengawal, tepatnya di lantai dua bangunan tersebut.
Setibanya di sana, Roy kemudian menghentikan latihan yang sedang dijalani oleh para calon pengawal, lalu ia menjelaskan maksud dan tujuan Daniel datang ke sana.
Tidak hanya itu saja, Roy juga menambahkan jika Daniel ingin menantang beberapa orang dari mereka, padahal, yang sebenarnya adalah, dia sendirilah yang telah memberikan tantangan itu pada Daniel.
Para pria yang ada di sana sontak mengarahkan pandangan mereka pada Daniel, dari senyuman serta tatapan mata mereka semua, bisa dilihat dengan sangat jelas jika mereka semua sedang meremehkan Daniel.
"Saat ini, ada sekitar lima belas pengawal yang tersisa, kau boleh memilih siapapun dari mereka yang ingin kau hadapi" ucap Roy.
Daniel tersenyum, ia bisa membaca rencana licik Roy yang ingin mempermalukan dirinya, "Tidak usah basa-basi, maju saja semuanya!" ujar Daniel.
Semua orang yang mendengar perkataan Daniel benar-benar dibuat kaget, terutama Alisha yang sangat mengkhawatirkan Daniel. Sementara Roy dan para pengawal, mereka merasa sedang diremehkan oleh Daniel.
"Jangan terlalu sombong!"
"Tuan Roy, jika kau ingin bergabung juga tidak masalah" sahut Daniel, kemudian melangkah maju mendekati para pengawal tersebut.
"Hahahaha!" perkataan Daniel membuat mereka semua tertawa.
"Hei, bocah! Apa kau sadar dengan ucapan-mu barusan?"
"Jika kau ingin menghadapi Tuan Roy, sebaiknya kau berlatih selama sepuluh tahun terlebih dahulu."
"Bocah, sombong itu ada batasannya, kau tidak akan menang melawan Tuan Roy sekalipun hanya dalam mimpimu."
"Bisa kita mulai sekarang?" tanya Daniel yang malas meladeni orang-orang itu.
"Cihh! Jangan sampai kau menyesali keputusanmu ini!"
Pria itu kemudian melangkah maju dan langsung menyerang Daniel dengan tinjunya, namun sebelum tinjunya itu mengenai sasaran, Daniel telah lebih dulu menghindar ke samping, lalu menyerang pria itu dengan tinjunya.
Pukulan Daniel tepat mengenai pria itu hingga membuatnya terjungkal di lantai, beberapa pria lainnya nampak tidak terima jika teman mereka dipukuli, mereka kemudian maju dan menyerang Daniel bersama-sama.
Namun, setiap serangan yang mereka lancarkan selalu berhasil dihindari oleh Daniel dengan mudah, bahkan ia berhasil menjatuhkan mereka dengan sangat mudah pula, dan hanya dengan satu pukulannya, Daniel telah berhasil membuat mereka terjungkal.
"Majulah semuanya, aku sedang tidak punya banyak waktu!" ujar Daniel.
"Jangan sombong kau, bocah!"
Karena sudah tidak tahan dengan sikap angkuh dan sombong yang Daniel tunjukkan, mereka semua akhirnya maju dan mengeroyok Daniel, namun lagi-lagi, setiap serangan yang mereka lancarkan selalu berhasil di tahan atau dihindari oleh Daniel.
Selain menghindar, Daniel juga terus melancarkan serangan pada mereka yang berada dalam jangkauannya, kecepatan serangan serta kegesitannya yang luar biasa, membuat mereka sangat sulit untuk menghindari setiap serangan Daniel.
Dua pria di belakang Daniel melancarkan tinjunya secara bersamaan, sementara pria lain didepannya juga melancarkan serangan dengan tendangan mereka, dan untuk menghindarinya, Daniel kemudian melompat ke udara.
Saat masih berada di udara, Daniel memutar tubuhnya seraya melayangkan tendangan dan berhasil mendarat di wajah pria didepannya, lalu saat mendarat di lantai, Daniel kembali berputar melayangkan tendangan dengan tumitnya.
Dalam sekejap, dua orang pria kembali berhasil dijatuhkan oleh Daniel tanpa usaha yang begitu berarti, dan saat ini, hanya tersisa enam pria yang masih bisa berdiri, sementara yang lainnya sedang meringkuk di lantai.
Mereka bukannya tidak bisa berdiri lagi, hanya saja, mereka lebih memilih untuk tidak berdiri lagi, karena kalau tidak, mereka hanya akan mendapatkan pukulan keras Daniel untuk yang kedua kalinya.
Para pengawal itu memiliki tubuh yang kekar dan tenaga yang kuat, begitupun dengan ketahanan tubuh mereka, namun semua itu seolah tidak berarti dihadapan Daniel, karena satu pukulan Daniel saja sudah cukup untuk membuat mereka meringkuk kesakitan.