
Setelah Tuan Handoko memutuskan sambungan panggilan suara itu, Daniel kemudian pergi menuju ke kamar Alisha untuk memberikan penjelasan padanya, walaupun ia sendiri tidak yakin apakah Alisha akan percaya atau tidak, tapi setidaknya, untuk saat ini hanya itulah yang bisa dia lakukan.
Tok... tok... tok!
"Ada apa, apa kau lupa dengan yang kukatakan sebelumnya?"
"Tentu saja aku masih ingat dan karena itulah aku datang ke sini" jawab Daniel.
"Ya sudah, kalau begitu jelaskan sekarang!"
"Alisha, setidaknya izinkan aku masuk lebih dulu."
Suasana di dalam kamar menjadi hening, setelah beberapa saat berlalu terdengar suara gagang pintu yang diputar, "Sekarang jelaskan padaku!" sahut Alisha, ia berdiri didepan pintu dengan kedua tangan menyilang di dadanya.
"Hah" Daniel menghela napas panjang, "Maaf karena telah menyembunyikan semua ini darimu, sebenarnya, kartu itu adalah hadiah ulang tahun yang telah aku siapkan untukmu" ucapnya.
"Apa maksudmu?"
Daniel menjelaskan jika ia sudah merencanakan ini sejak lama, ia mengatakan jika dirinya meminta bantuan temannya yang sedang berada di luar negeri untuk membuat sebuah kartu hitam, namun ia tidak ingin kartu itu atas nama dirinya melainkan nama istrinya.
"Sejujurnya, aku ingin memberikan kartu ini padamu saat perayaan hari ulang tahunmu, namun karena tadi pagi kau terus memaksa untuk ikut, aku pun hanya bisa menyerahkan kartu itu padamu" ucap Daniel mengakhiri penjelasannya.
"Ja-jadi..." Alisha tidak tahu harus berkata apa lagi, ia benar-benar terharu dan tidak menyangka jika suaminya itu telah menyiapkan hadiah untuk ulang tahunnya nanti.
Daniel tersenyum senang, "Alisha, semua ini aku siapkan untukmu, mungkin jumlahnya tidak sebanyak yang kau bayangkan, tapi suatu saat nanti, aku akan memberikan sesuatu yang lebih dari ini" ucap Daniel.
Alisha tidak mampu berkata-kata lagi, ia benar-benar bahagia hingga membuat matanya digenangi oleh cairan bening, kemudian, ia melangkah maju dan langsung memeluk Daniel, "Terima kasih, Daniel."
Daniel akhirnya bisa bernapas lega karena Alisha percaya pada penjelasannya, meski begitu, ia masih merasa bersalah karena harus berbohong pada istrinya sendiri, "Maafkan aku Alisha, suatu saat nanti aku akan menjelaskan semuanya padamu" ucapnya dalam hati.
Setelah cukup lama, Alisha kemudian melepaskan pelukannya, "Jadi, berapa uang yang kau habiskan untuk membuat kartu itu?" tanya Alisha.
"Tidak banyak, hanya sepuluh miliar saja" jawab Daniel dengan santai.
"Apa? Se-sepuluh miliar?"
Sebenarnya jumlah uang yang dimiliki Daniel sebelumnya tidak sampai sebanyak itu, namun setelah asisten Tuan Wiliam mengirimkan uang sebanyak satu triliun ke rekeningnya, Daniel langsung memerintahkan Omega untuk menambahkan 10 miliar kedalam kartu milik Alisha.
"Daniel, darimana kau mendapatkan uang sebanyak itu?" tanya Alisha, tatapan matanya tiba-tiba menjadi tajam, "Kau tidak habis merampok bank, kan?"
"Hahaha, tentu saja tidak, Alisha. Aku tidak akan segila itu sampai harus merampok bank" jawab Daniel.
"Jadi, apa aku boleh tidur di kamar malam ini?"
Alisha mengangguk pelan, "Tentu saja boleh."
*
*
*
Malam semakin larut, Daniel yang masih belum tertidur memilih untuk duduk di balkon kamarnya sembari menikmati lautan bintang yang menghiasi gelapnya langit malam.
"Omega, tampilkan statusku"
[Status.
- Nama: Daniel
- Kesehatan: 100 (Sangat sehat)
- Kekuatan: 75
- Kecepatan: 75
- Saldo: Rp. 990.000.000.000
Kemampuan:
Seni bela diri (Master)
Menguasai 10 bahasa (Ahli)]
"Sembilan ratus miliar, sepertinya akan butuh waktu yang sangat lama untuk menghabiskan uang sebanyak ini" gumam Daniel seraya memandangi layar biru transparan yang menunjukkan informasi dirinya.
"Hah" Daniel menghela napas panjang, "Sepertinya keinginanku untuk hidup tenang masih belum bisa terwujud, apalagi sekarang aku sudah menambah musuh."
Sebenarnya, tujuan Daniel datang ke kota A ini bukan hanya untuk menikahi Alisha, tapi ada satu tujuan lain yang ia miliki, yaitu ingin hidup dengan tenang dan melupakan masa lalunya yang kelam.
Akan tetapi, keinginannya untuk bisa hidup dengan tenang sangatlah sulit untuk diwujudkan, karena sejak datang ke kota A ini, berbagai macam masalah selalu saja datang menghampirinya, baik itu masalah dengan ibu mertuanya ataupun masalah dengan orang-orang di sekitarnya.
Sekarang, masalah yang hampir sama kembali menghampirinya, padahal, ia berpikir jika masalahnya akan selesai setelah berurusan dengan keluarga Louis, tapi nyatanya, masalah lain datang lagi melalui orang dan keluarga yang berbeda.
Tapi, yang tidak terpikirkan dan tidak pernah disangka olehnya adalah, orang yang membawa masalah untuk dirinya adalah ibu mertuanya sendiri.
"Sebenarnya apa yang diinginkan oleh ibu Alisha, kenapa dia sangat membenci diriku."
"Daniel, maafkan ibu, aku sendiri tidak tahu kenapa dia tidak menyukaimu" sahut Alisha yang baru saja terbangun dan mendengar ucapan Daniel.
Daniel tersenyum, "Kenapa kau malah bangun?"
"Entahlah, mungkin karena aku sudah tidak terbiasa tidur sendirian lagi" jawab Alisha, lalu menghampiri Daniel dan duduk di pangkuannya.
"Alisha, sejak kapan kau memiliki keberanian seperti ini? Apa kau tidak tahu jika aku bisa saja melakukan sesuatu padamu."
Alisha tersenyum manja sembari melingkarkan tangannya di leher Daniel, "Lakukan saja, lagipula aku ini adalah istrimu, bukan?"
Suasana menjadi hening dan sunyi ketika tatapan mereka bertemu satu sama lain, perlahan namun pasti, wajah mereka semakin mendekat hingga tak menyisakan jarak sedikitpun.
"Alisha, aku mencintaimu" ucap Daniel, lalu mengecup bibir istrinya itu, dan akhirnya berlanjut dengan ciuman hangat yang melenyapkan udara dingin yang menerpa tubuh mereka.
*
*
*
Rumah sakit.
Setelah menerima kabar mengenai anaknya, Surya Wijaya langsung pergi menuju ke rumah sakit untuk melihat anaknya, namun langkahnya terhenti ketika melihat seseorang yang tengah duduk didepan sebuah ruangan.
"Robert, apa yang kau lakukan di sini?" sapa Surya, setelah memastikan siapa orang tersebut.
Pria yang tidak lain adalah Robert Louis sekaligus ayah David itu menoleh kearah sumber suara, "Surya? Kenapa kau di sini?"
"Anakku baru saja dibawa ke sini, dan aku datang untuk menjenguknya."
"Apa yang terjadi pada Angga?"
Surya mengepalkan tangannya, kemarahan yang sangat besar tergambar jelas diraut wajahnya, "Menurut informasi yang aku dapatkan, kakinya dipatahkan oleh seseorang saat berada di keluarga Handoko."
"Apa nama orang itu Daniel?" sahut Robert.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Karena anakku juga mengalami hal yang sama, tidak... bahkan keadaannya lebih buruk dari anakmu" jawab Robert.
"Lalu, kenapa kau malah diam saja di sini?"
"Surya, pemuda yang kita hadapi ini bukanlah pemuda biasa, karena dia bisa membuat seseorang sekelas Tiger bertekuk lutut."
"Apa maksudmu?"
Robert kemudian menceritakan jika dirinya sudah pernah meminta bantuan pada Tiger untuk membunuh Daniel, namun yang terjadi justru sebaliknya, Daniel tidak hanya tidak mati, tapi orang-orang Tiger yang bertugas membunuh Daniel malah berakhir di rumah sakit.
"Lalu, apa rencana mu sekarang?"
"Surya, bagaimana kalau kita bekerjasama untuk menghabisi pemuda sialan itu."
"Tidak masalah, tapi aku ingin mendengar rencana mu terlebih dahulu" sahut Surya.
"Aku ingin menghubungi seseorang yang pasti bisa menyelesaikan masalah ini, dan tenang saja, karena dia tidak seperti Tiger ataupun yang lainnya, karena dia adalah salah satu penguasa di dunia bawah tanah."