
"Aku benar-benar senang karena Tuan Muda Wijaya sudah membantuku, tapi bisakah aku mengetahui alasan kenapa Tuan Muda membantu keluargaku?" tanya Tuan Handoko.
"Sejujurnya, aku tidak mengetahui jika Tuan Handoko sedang membutuhkan bantuan, dan uang yang aku transfer itu adalah mahar untuk meminang cucu Anda, Alisha" jawab Angga.
Daniel yang mendengar perkataan Tuan Muda keluarga Wijaya itu langsung mengepalkan tangannya, dan jika saja tidak ada orang lain di sana, ia pasti sudah menghajar pria itu sampai babak belur, karena ia sudah berani ingin melamar istrinya didepan matanya sendiri.
"Tuan Muda Wijaya, tidakkah Anda mengetahui bahwa Alisha sudah menjadi istriku?" tanya Daniel.
Angga menoleh ke arah sumber suara tersebut, ia tersenyum licik setelah melihat siapa yang berbicara padanya, "Oh, jadi ini menantu tidak berguna itu? Ya! Aku memang sudah mengetahui bahwa Alisha sudah menikah, tapi dari informasi yang aku dapatkan, Alisha tidak bahagia denganmu, bahkan tidak menerimamu sebagai suaminya."
"Angga Wijaya, jaga ucapan mu!" sahut Alisha.
"Kenapa aku harus menjaga ucapan ku? Bukankah yang aku katakan tadi itu benar adanya, Alisha Handoko?"
Alisha terdiam, ia tidak bisa menyangkal perkataan Angga barusan, tapi itu dulu, sebelum Daniel menyelamatkan dirinya, sedangkan sekarang, ia sudah membuka hatinya untuk Daniel, walaupun belum sepenuhnya, tapi perasaan itu benar-benar sudah ada dalam dirinya untuk Daniel.
"Lihat, kau bahkan tidak bisa menyangkal perkataan ku, itu artinya, apa yang aku katakan memang benar!" ucap Angga.
Sementara itu, semua tamu undangan mulai mengarahkan pandangan mereka pada Daniel dan Alisha, bahkan mereka sudah mulai membicarakan pasangan suami-istri itu. Tidak hanya itu saja, mereka bahkan menganggap jika kemesraan yang ditunjukkan oleh Daniel dan Alisha hanyalah sebuah setingan belaka.
"Tuan Wijaya, sebenarnya apa tujuanmu datang kemari? Apa kau hanya ingin merusak suasana hatiku?" Tuan Handoko akhirnya angkat bicara, ia benar-benar tidak bisa membiarkan pemuda sombong itu mempermalukan cucunya didepan semua orang.
Angga mengalihkan pandangannya pada Handoko, "Tuan Handoko, aku rasa tidak ada masalah dengan pendengaran mu, jadi aku tidak akan mengulangi apa yang sudah aku katakan tadi" ucapnya.
"Maaf, aku tidak bisa menerima lamaran mu, lagipula cucuku sudah menikah dan kata siapa dia tidak bahagia?"
"Kalau begitu kembalikan uangku!"
Johan dan yang lainnya mulai geram, mereka benar-benar tidak menyangka jika pemuda yang sudah terkenal dengan kesombongannya itu ternyata juga tidak tahu malu, padahal, dia tidak memberikan uang sepeserpun pada Tuan Handoko, tapi masih saja berani memintanya kembali.
"Baik, akan aku kembalikan, tapi dengan syarat, kau harus menyebutkan nomor rekeningnya" sahut Tuan Handoko.
Kemudian, dengan penuh rasa percaya diri, Angga mulai menyebutkan nomor rekeningnya, namun disinilah letak kesalahannya, karena nomor yang ia sebutkan berbeda dengan nomor milik The Alpha, dan hal itu bisa dijadikan oleh Tuan Handoko sebagai senjata untuk membalas perbuatan pria tidak tahu malu itu.
"Apa kau bercanda? Nomor yang kau sebutkan tadi jelas sangat berbeda dengan nomor sebelumnya, apa jangan-jangan kau hanya berbohong?"
Angga mulai panik, ia baru menyadari bahwa permintaan Tuan Handoko untuk menyebutkan nomor rekeningnya adalah sebuah jebakan, ia kemudian mengarahkan pandangannya pada Dewi untuk meminta bantuan, namun Dewi hanya menggelengkan kepalanya, karena dia sendiri tidak mengingat nomor tersebut.
Para tamu undangan yang sebelumnya membicarakan Daniel dan Alisha sekarang malah berbalik membicarakan Angga, walaupun mereka sendiri tidak terlalu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, tapi kesimpulan yang mereka dapatkan dari kejadian itu adalah, Tuan Muda keluarga Wijaya itu adalah pemuda yang tidak tahu malu.
Karena sudah terlanjur terjebak oleh Tuan Handoko, Angga kemudian mengakui bahwa dirinya bukanlah The Alpha, ia juga mengatakan bahwa semua itu adalah rencana Dewi yang ingin menjodohkan Alisha dengan dirinya, lalu, ia juga menjelaskan bahwa dirinya akan membantu masalah keluarga Handoko asalkan Alisha menjadi miliknya.
Tatapan semua orang kini terarah pada Dewi, termasuk Alisha dan juga Daniel yang tidak pernah menyangka bahwa biang keladinya adalah ibu mereka sendiri, "Ibu, kenapa ibu melakukan semua ini? Ibu sendiri tahu kalau aku sudah menikah dengan Daniel, lalu kenapa ibu masih saja menjodohkan aku dengan orang lain?"
"Tuan Muda, pergilah, bawa Alisha bersamamu, aku jamin tidak akan asa yang bisa menghentikan mu" lanjutnya.
"Dewi! Apa yang kau katakan?!"
"Memangnya kenapa? Alisha adalah putriku, aku berhak menentukan masa depannya!"
"Tuan Muda, aku mohon padamu, bawa putriku pergi dari sini"
Angga tersenyum senang mendengar perkataan Dewi, kemudian ia menghampiri Alisha namun langkahnya dihadang oleh Daniel, "Jangan pernah menyentuh istriku" ucapnya.
"Apa kau tidak dengar perkataan ibu mertuamu barusan? Dia sudah menyerahkan istrimu padaku, jadi kau tidak berhak menghentikan aku untuk membawanya pergi."
"Satu langkah lagi, jika kau berani maju satu langkah lagi, aku jamin kau tidak akan bisa berjalan dengan baik lagi" ancam Daniel.
"Hahahaha, memangnya siapa kau sehingga berani mengancam ku, jangankan dirimu, bahkan seluruh keluarga Handoko saja tidak akan pernah bisa menyentuhku!" sahut Angga, kemudian melangkah maju mendekati Alisha.
Daniel meraih bahu Angga, untuk menghentikan langkahnya, "Kau bertanya siapa aku? Aku adalah orang yang akan menghancurkan keluargamu!" ucapnya, lalu melayangkan tinjunya ke wajah Angga hingga membuat pemuda itu terpental dan terjungkal di lantai.
Setelah itu, Daniel mendekati Angga yang sedang berusaha untuk bangun, tapi Daniel tidak membiarkannya, karena sebelum pemuda sombong itu sempat berdiri, Daniel telah lebih dulu mematahkan kakinya, bahkan suara tulangnya yang patah terdengar dengan nyaring hingga membuat semua orang bergidik ngeri.
"Ini buruk, cepat hentikan Daniel, jika tidak dia akan membunuh pemuda sialan itu!" ujar Tuan Handoko.
"Ayah, Daniel tidak akan mungkin melakukan itu" sahut Johan.
"Kalian tidak mengerti, jika dia ingin membunuh seseorang maka dia akan melakukannya, cepat, hentikan dia sebelum terlambat!" ucap Tuan Handoko.
Johan dan yang lainnya masih sulit untuk percaya pada perkataan Tuan Handoko, karena menurut mereka, tidak mungkin Daniel mau melakukan hal seperti itu, apalagi ditengah-tengah kerumunan seperti sekarang ini. Meski begitu, mereka berempat tetap melakukan perintah ayahnya dan mencoba untuk menghentikan Daniel.
"Daniel, hentikan! Apapun yang kau pikirkan sekarang aku mohon jangan dilakukan" ucap Johan.
"Daniel! Apa kau sudah gila? Kau baru saja menyebabkan masalah untuk keluarga kami!"
"Cukup Dewi! Justru kau lah yang telah menyebabkan masalah untuk keluarga kita!" sahut Johan.
"Arkhhh! To-tolong panggilkan ambulan"
Sementara semua orang tengah panik dengan situasi yang tengah terjadi sekarang, Daniel justru masih nampak tenang dan santai seperti biasa, bahkan ia terlihat seperti tidak melakukan apapun.
"Dengarkan aku baik-baik, jika kau masih berani menggangguku ataupun keluarga Handoko, aku jamin kau dan keluargamu tidak akan pernah bisa tidur dengan tenang!"