
"Daniel, apa kau yakin? Harga ponsel ini lebih dari dua puluh juta" Alisha berbicara dengan suara pelan agar tidak didengar oleh pelayan toko tersebut.
Daniel tidak mengatakan apapun dan hanya memberikan senyuman terbaiknya pada Alisha, kemudian ia mengalihkan pandangannya pada pelayan toko, "Ambilkan satu lagi yang sama seperti ini" ucapnya.
"Baik Tuan" sahut pelayan toko ponsel tersebut, kemudian mengambilkan ponsel yang diinginkan oleh Daniel.
"Daniel, apa kau gila? Darimana kau mendapatkan uang sebanyak itu?" tanya Alisha.
Saat ini, Alisha benar-benar sangat khawatir dan takut jika Daniel tidak bisa membayar kedua ponsel yang sudah ia pesan, jika Daniel benar-benar tidak bisa membayarnya, maka mereka tidak hanya akan mendapatkan masalah, tapi juga akan dipermalukan oleh pelayan toko tersebut.
"Aku masih punya tabungan" jawab Daniel.
"Tuan, ini ponsel yang Anda inginkan dan total semuanya menjadi lima puluh juta" ucap pelayan toko.
"Oke" jawab Daniel kemudian mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dari saku celananya.
Alisha melebarkan kedua matanya ketika melihat kartu hitam yang ada ditangan suaminya itu, sebagai seseorang yang berasal dari keluarga yang cukup berada, Alisha tentu saja mengetahui jika kartu hitam itu bukanlah kartu biasa, karena orang yang bisa memiliki kartu itu adalah orang dengan kekayaan yang benar-benar sangat besar.
Lalu, bagaimana Daniel bisa mendapatkan kartu tersebut? Bahkan keluarga Handoko saja yang sudah termasuk keluarga terkaya di kota A ini tidak memiliki kartu itu. Selain itu, hanya ada beberapa orang saja yang memiliki kartu itu di Negara ini, salah satunya adalah Tuan besar keluarga Wiliam dan putrinya.
"Tuan Muda, ini kartu Anda dan terima kasih sudah berbelanja di toko kami" ucap pelayan tersebut dengan ramah.
Ucapan pelayan toko ponsel itu berhasil membangunkan Alisha dari lamunannya, meski begitu, ia nampaknya masih belum bisa mencerna situasi yang baru saja terjadi, dan bisa dilihat dengan jelas bahwa Alisha masih berusaha untuk melenyapkan kebingungan yang melanda dirinya.
"Daniel, darimana kau mendapatkan kartu hitam itu?" tanya Alisha.
"Aku mendapatkannya setelah menabung di bank" jawab Daniel.
"Apa kau pikir aku bodoh? Kartu hitam itu bukanlah kartu biasa, dan hanya sedikit orang di kota ini yang memilikinya, lalu bagaimana kau bisa memiliki kartu tersebut hanya dengan menabung di bank?"
"Jadi begini" ucap Daniel, kemudian berbisik pada Alisha, "Sebenarnya kartu itu adalah kartu biasa, sedangkan warna hitam itu hanyalah tempelan saja."
Alisha nampak kaget ketika mendengar penjelasan Daniel, ia benar-benar tidak menyangka jika suaminya akan melakukan hal seperti itu. Akan tetapi, perkataan Daniel barusan akhirnya membuat Alisha bernapas lega, karena apa yang ia pikirkan ternyata tidak benar sama sekali.
"Betapa bodohnya aku, tentu saja warna hitam itu adalah tempelan belaka, lagipula darimana Daniel mendapatkan uang sebanyak itu" gumam Alisha.
Alisha tentunya langsung percaya pada penjelasan Daniel barusan, karena menurut cerita kakeknya, Daniel adalah anak yatim piatu dan tidak memiliki pekerjaan menetap, jadi mustahil jika ia tiba-tiba saja memiliki sejumlah besar uang yang bisa membuatnya mendapatkan kartu hitam tersebut.
"Alisha, maafkan aku karena harus berbohong padamu, aku belum siap mengatakan semuanya padamu dan tidak mungkin aku mengatakan jika aku memiliki sistem" ucap Daniel dalam hatinya.
***
Setelah puas bersenang-senang dan membeli berbagai macam barang, Daniel dan Alisha akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah, karena selain tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan, keduanya juga sudah terlalu lelah dan ingin segera beristirahat, jadi mereka memutuskan untuk mengakhiri jalan-jalan mereka hari ini.
Ding!
Ditengah-tengah perjalanan menuju ke rumah, Daniel tiba-tiba saja mendengar suara dentingan notifikasi di kepalanya, yang menandakan akan ada misi lain untuknya. Akan tetapi, apa yang dikatakan oleh sistem justru membuat Daniel kaget.
"Peringatan! Sistem mendeteksi adanya bahaya yang tengah mengincar tuan!"
"Omega, apa kau bisa mendeteksi darimana datangnya bahaya itu?" tanya Daniel.
"Iya! Bahaya yang mengintai Tuan berasal dari mobil hitam yang berada di belakang mobil Tuan" jawab Omega.
Daniel langsung menoleh kebelakang dan benar saja, di belakang mobil mereka ada sebuah mobil Van berwarna hitam, hanya saja, Daniel tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang ada di dalam mobil tersebut, karena kaca yang mereka gunakan adalah kaca khusus yang membuat orang lain tidak bisa melihat kondisi di dalam mobil.
"Baik Tuan!"
"Daniel, ada apa?" tanya Alisha.
"Aku sendiri tidak yakin, tapi mobil hitam dibelakang terlihat sangat mencurigakan" jawab Daniel.
Alisha menoleh ke belakang untuk melihat mobil yang dimaksud oleh Daniel, "I-itukan mobil yang waktu itu?"
"Alisha, apa maksudmu?" tanya Daniel.
Dengan ekspresi panik yang tergambar jelas di wajahnya, Alisha kemudian menceritakan bahwa mobil hitam itu ada di tempat kejadian dia diculik, walaupun saat itu dia dipukul hingga pingsan, tapi Alisha masih ingat dengan jelas bahwa mobil hitam itu adalah mobil yang sama dengan yang ada di belakang mereka sekarang.
"Sepertinya mereka adalah orang yang sama dengan yang menculik mu waktu itu" ucap Daniel.
"Karena kalian berani muncul di depanku, maka jangan harap untuk bisa lolos lagi" gumam Daniel, tatapan matanya yang biasanya tenang langsung berubah tajam.
"Heru, hentikan mobilnya, aku akan mengurus para bajingan ini" ucap Daniel.
"Apa? Tidak! Aku tidak setuju!" sahut Alisha.
"Alisha, orang-orang seperti mereka tidak bisa dibiarkan begitu saja, dan semakin kita diam, mereka akan semakin menindas kita."
"Daniel, ini sangat berbahaya!"
"Tenanglah, aku akan pulang setelah menyelesaikan mereka" sahut Daniel kemudian meminta Heru untuk menghentikan mobil.
Setelah mobil berhenti, Daniel langsung turun dan menutup pintu mobil, agar Alisha tidak ikut keluar, ia juga memerintahkan Heru untuk segera membawa Alisha kembali ke vila, bahkan ia melarang Heru menuruti perkataan Alisha, apalagi jika dia ingin berhenti sebelum mencapai vila.
Pada saat yang bersamaan, mobil Van hitam yang mengikuti mereka juga berhenti, lalu dari dalam mobil tersebut keluar beberapa pria bertubuh kekar, dan masing-masing dari mereka membawa sebilah pisau ditangannya.
"Jadi kau, bajingan yang sudah membuat Tuan Muda keluarga Louis menjadi seorang kasim?" tanya salah seorang dari mereka.
"Kau benar, akulah orangnya!" jawab Daniel.
"Bagus! Kalau begitu kami akan melakukan hal yang sama padamu!"
Para pria bertubuh kekar itu kemudian berlari ke arah Daniel dan langsung menyerangnya dengan brutal, mereka bahkan tidak peduli dengan situasi dan tempat mereka berada sekarang, karena yang mereka ingin lakukan hanyalah membunuh Daniel sesuai dengan perintah yang telah diberikan oleh bos mereka, yaitu Tiger.
"Apa kalian bawahan Tiger?" tanya Daniel sembari menghindari setiap serangan yang diarahkan padanya.
"Bukan urusanmu!"
Daniel tersenyum sinis, walaupun mereka tidak menjawab pertanyaannya, tapi ia sangat yakin jika mereka adalah anak buah Tiger, karena sebelumnya, ia juga pernah diserang oleh anak buahnya, bahkan ia berhasil mendapatkan informasi mengenai keberadaan Tiger dari salah satu orang yang menyerangnya waktu itu.
"Tiger, sepertinya kau perlu diberi pelajaran" ucap Daniel dalam hatinya.
Daniel bergerak kesamping untuk menghindari serangan yang diarahkan ke dadanya, disaat yang bersamaan, ia berhasil meraih tangan pria yang menyerangnya itu, kemudian, Daniel mematahkan tangan pria tersebut dan meraih pisau yang telah jatuh ke tanah.
"Biar aku tunjukkan bagaimana cara menggunakan pisau dengan baik" ucapnya, lalu melakukan serangan balasan.
Berbeda dengan bawahan Tiger yang hanya menyerang secara membabi buta, serangan yang dilakukan oleh Daniel justru lebih terarah dan berhasil mendarat ditempat yang ia inginkan, meski begitu, Daniel berusaha keras agar serangannya itu tidak merenggut nyawa musuhnya, karena akan sangat gawat jika ia sampai melakukan pembunuhan ditempat umum seperti ini.
Lima menit kemudian, orang-orang yang hendak menyerang Daniel sekarang tengah tergelatak di tanah dengan luka di sekujur tubuh mereka, namun luka-luka yang ada ditubuh mereka bukanlah luka yang fatal, melainkan hanya goresan kecil yang cukup untuk membuat mereka meringis kesakitan. Selain itu, Daniel juga mematahkan tangan dan kaki mereka, agar kedepannya mereka tidak akan bisa mengusiknya lagi.