The Alpha

The Alpha
Tawaran kerjasama



Setelah mendapatkan kunci serta surat-surat mobilnya, Daniel kemudian memacu mobil sport tersebut menuju ke kediaman keluarga Wiliam, dan disepanjang perjalanan, mobil yang ia kendarai itu menjadi pusat perhatian, bahkan beberapa orang juga merekam mobil Daniel saat sedang melaju.


"Gila! Mobil sport jenis apa itu?"


"Itu adalah Bugatti Veyron, dan jika aku tidak salah, itu adalah edisi terbatas dan harganya lebih dari 60 miliar rupiah."


"Benar-benar luar biasa, beruntung aku sempat merekamnya, dan aku yakin jika diupload di sosial media, pasti akan langsung jadi trending."


Orang-orang yang sempat merekam saat mobil Daniel melaju dengan kecepatan sedang, langsung membagikan video tersebut di laman sosial mereka masing-masing, dan benar saja, hanya dalam hitungan menit, video tersebut langsung menjadi trending.


***


Setelah berkendara dengan mobil barunya selama lima belas menit, Daniel akhirnya sampai di kediaman Wiliam, meskipun ia belum pernah ke sana sebelumnya, namun berkat bantuan Omega, ia bisa menemukan jalan tercepat menuju ke kediaman Wiliam dan jika saja ia melaju dengan kecepatan tinggi, mungkin dia akan sampai kurang dari sepuluh menit.


Sementara itu, Tuan Wiliam beserta seluruh anggota keluarganya telah berkumpul didepan rumah, ekspresi gugup dan cemas nampak terukir jelas di wajah Tuan Wiliam ketika melihat sebuah mobil sport mahal berhenti di halaman rumahnya.


"Gila! Bukankah itu Bugatti Veyron edisi terbatas?"


Cintya langsung heboh ketika mengetahui jenis mobil sport yang ada didepan matanya saat ini, bahkan ia langsung mengeluarkan ponselnya untuk memotret mobil tersebut, namun tindakannya dihentikan oleh Tuan Wiliam.


"Cintya, apa yang kau lakukan? Jangan melakukan hal yang tidak penting yang bisa membuat keluarga kita malu!"


"Aku kan hanya ingin mengambil gambar!" sahut Cintya, kemudian menyimpan ponselnya lagi.


Didalam mobil, Daniel masih mencoba untuk mengatur napasnya agar tidak gugup, meskipun di mata keluarga Wiliam dia adalah orang yang sangat berkuasa, tapi nyatanya, ia masih saja gugup karena baru pertama kali melakukan hal seperti ini.


"Hah" Daniel menghela napas panjang, "Tenanglah Daniel, kau bisa mengurus semuanya" ucapnya pada diri sendiri, kemudian keluar dari mobil.


Disaat yang bersamaan, Tuan Wiliam, anak serta menantu laki-lakinya langsung menghampiri Daniel, kemudian mereka menundukkan kepala seraya berkata, "Selamat datang, The Alpha."


Daniel hanya menunjukkan senyuman terbaiknya serta menganggukkan kepala, meskipun wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun, tapi jantungnya benar-benar berdetak dengan kencang, yang menunjukkan bahwa dirinya sedang gugup.


"Tuan Muda, silahkan masuk" ucap Tuan Wiliam, kemudian mereka masuk ke rumah.


Setibanya di ruang tamu, Daniel diperlakukan bagaikan seorang raja oleh Tuan Wiliam, ia bahkan tidak duduk sebelum Daniel memintanya untuk duduk. Selain itu, ia juga meminta Rama untuk menjadi pelayan yang akan melayani Daniel.


"Wiliam, jangan terlalu sungkan, aku datang hanya untuk membahas beberapa hal denganmu, jadi perlakukan aku sebagai tamu biasa saja" ucap Daniel.


"Tuan, Anda adalah orang yang sangat berjasa bagi saya dan keluarga saya, jadi tidak mungkin kami memperlakukan Tuan sebagai tamu biasa" sahut Tuan Wiliam.


Daniel menggelengkan kepalanya, "Aku justru tidak nyaman berbicara dengan situasi seperti ini, jadi sebaiknya kalian semua duduk saja, dan Anda, kenapa malah Anda yang menuangkan anggur untukku? Apakah tidak ada pelayan di rumah ini?"


"Hah" Daniel menghela napas, "Panggil semua pelayan, minta mereka untuk melayani kita sebagai mana mestinya."


"Dan satu lagi, berhentilah memanggilku Tuan, cukup panggil namaku saja, Daniel."


Tuan Wiliam sedikit tidak mengerti dengan sikap pemuda didepannya itu, karena biasanya, orang-orang yang memiliki kekuasan cenderung lebih sombong dan angkuh, tapi pemuda yang ada di depannya saat ini sangat jauh dari dua hal tersebut, bahkan dia terlihat sangat biasa dan rendah diri.


"Baik Tuan."


Setelah para pelayan datang dan semua keluarga Wiliam duduk di sofa ruang tamu, Daniel kemudian mengatakan maksud kedatangannya yang ingin menanyakan situasi perusahaan keluarga Wiliam, ia juga mengutarakan niatnya yang ingin bekerjasama dengan keluarga Wiliam untuk membangun sebuah perusahaan.


Akan tetapi, Daniel juga mengatakan bahwa dirinya tidak akan ambil bagian dalam perusahaan itu nanti, dengan kata lain, Daniel hanya ingin menjadi pemilik dari perusahaan itu saja, sedangkan yang mengelolanya adalah keluarga Wiliam. Lalu, ia juga menjelaskan bahwa lima puluh persen dari hasil perusahaan itu nanti akan menjadi milik keluarga Wiliam.


Selain itu, Daniel juga menjelaskan bahwa keluarga Wiliam tidak akan mengeluarkan uang sepeserpun pada saat pembangunan nanti, karena semua biaya yang dibutuhkan untuk membangun perusahaan itu nantinya akan ditanggung olehnya seorang diri, yang artinya, keluarga Wiliam hanya perlu membangun dan mengelola perusahaan itu saja.


Tuan Wiliam dan anggota keluarganya tentu sangat senang mendengar hal ini, bagaimana tidak, kerjasama yang ditawarkan oleh Daniel akan sangat menguntungkan bagi keluarga mereka, karena sekian tidak akan mengeluarkan uang sepeserpun, mereka juga akan mendapatkan hasil sebanyak lima puluh persen.


"Jadi bagaimana, apa Anda setuju, Tuan Wiliam?" tanya Daniel.


"Tuan Muda, kerjasama yang Anda tawarkan benar-benar sangat menarik, tapi izinkan saya membicarakan hal ini dengan seluruh anggota keluarga terlebih dahulu" jawab Tuan Wiliam, namun perkataannya itu hanya sekedar basa-basi saja, karena mustahil mereka menolak kerjasama yang sangat menguntungkan tersebut.


"Aku sangat sibuk dan tidak punya banyak waktu, aku beri kalian waktu lima menit untuk membahas masalah ini" sahut Daniel.


"Baik, Tuan Muda, kalau begitu izinkan kami membahasnya sebentar di ruang keluarga" ucap Tuan Wiliam, kemudian mengajak anak dan menantunya ke ruang keluarga.


"Ayah, kenapa harus membahasnya lagi, bukankah akan lebih baik kalau langsung diterima saja?" tanya Rama.


"Iya ayah, kenapa tidak langsung diterima saja?"


"Aku memang ingin menerima kerjasama itu, tapi tidak secara langsung, meskipun keluarga kita tidak sebanding dengan Tuan Muda Daniel, tapi jangan sampai kita terlihat begitu rendah dimatanya" jawab Tuan Wiliam.


Memang benar bahwa Tuan Wiliam tidak akan mungkin menolak kerjasama yang sangat menguntungkan tersebut, tapi jika dia menerimanya secara langsung, maka dia akan terlihat seperti orang yang tidak memiliki harga diri dan hanya mementingkan keuntungan saja, oleh karena itu, dia sengaja meminta waktu pada Daniel untuk mempertimbangkan tawaran tersebut.


Setelah beberapa menit berlalu, Tuan Wiliam dan yang lainnya akhirnya datang kembali ke ruang tamu, lalu ia mengatakan bahwa keluarganya setuju untuk menjalin kerjasama dengan Daniel. Selain itu, ia juga menanyakan pada Daniel tentang perusahaan apa yang ingi dibangun dan kapan mereka bisa memulainya.


"Terserah kalian saja mau membangun perusahaan apa, lalu mengenai waktunya, aku akan mengabari kalian nanti" jawab Daniel.


"Baik, Tuan Muda" jawab mereka serempak.