
Setelah mengutarakan maksud kedatangannya, Daniel kemudian meminta Wiliam untuk menceritakan mengenai perusahaannya, karena ia ingin mengetahui perkembangan serta berapa banyak yang telah ia dapatkan dari saham yang ia taman di perusahaan mereka.
Sesuai dengan permintaan Daniel, Tuan Wiliam kemudian menceritakan keadaan perusahaan mereka, ia juga mengatakan seluruh total yang telah didapatkan oleh Daniel sejak pertama kali menanam saham di perusahaan mereka.
"Jadi, total pendapatan Tuan Muda selama dua tahun ini adalah dua triliun rupiah" ucap Wiliam, "Apa Tuan Muda ingin mengambilnya sekarang?"
Daniel berpikir sejenak, untuk saat ini dia memang membutuhkan lebih banyak uang, apalagi untuk menjalankan rencana yang telah ia susun.
"Tidak, aku hanya ingin meminta setengahnya saja, sisanya kau gunakan saja untuk membangun perusahaan baru itu, jika masih kurang, kau bisa menghubungiku kapan saja."
"Baiklah, kalau begitu saya akan memerintahkan asisten saya untuk mengirimkan uangnya sekarang juga" sahut Tuan Wiliam.
Kemudian, ia menghubungi asistennya lalu memintanya untuk mengirim uang sebanyak satu triliun rupiah ke rekening Daniel.
"Tuan Muda, asisten saya sedang memprosesnya, mohon menunggu sebentar lagi" ucap Wiliam.
Daniel mengangguk pelan, "Baiklah, karena urusanku sudah selesai, aku akan pergi sekarang" ucapnya.
"Tuan Muda, tunggulah sebentar lagi, setidaknya sampai uang itu masuk ke rekening Anda" sahut Wiliam mencoba menghentikan Daniel.
"Tidak apa-apa, aku akan memeriksanya nanti. Lagipula, aku percaya sepenuhnya padamu, Wiliam" ucap Daniel, kemudian pergi meninggalkan kediaman keluarga Wiliam.
Senyuman indah terukir di wajah tua Wiliam ketika mendengar perkataan Daniel, ia benar-benar tidak menyangka jika dirinya baru saja mendengar sesuatu yang selama ini sangat ia dambakan, yaitu sebuah rasa kepercayaan dari sang Alpha.
Bagi Wiliam, kepercayaan dari sang Alpha adalah sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang yang berjumlah triliunan, karena setelah mendapatkan rasa kepercayaan dari sang Alpha, ia sangat yakin jika masa depan keluarganya akan semakin cerah, bahkan bukan hal yang mustahil bagi keluarganya untuk menduduki peringkat keluarga terkaya di dunia.
"Kalian dengar itu? Sang Alpha baru saja mengatakan bahwa dirinya percaya sepenuhnya padaku, ini adalah awal yang benar-benar sangat baik untuk kita semua" ucap Wiliam setelah suara mobil Daniel menghilang dari pendengarannya.
"Ayah benar, kepercayaan sang Alpha adalah awal dari masa depan yang sangat cerah untuk keluarga kita" sahut Rama.
Wiliam mengangguk pelan, "Baiklah, sekarang aku ingin kalian semua mempersiapkan segala sesuatunya, jangan sampai kita membuat kepercayaan sang Alpha hilang dari keluarga kita!"
"Baik, ayah!"
.
.
.
Ditempat lain.
Wajah Alisha nampak murung dan tidak bersemangat sama sekali, meskipun sebelumnya ia sangat senang karena dapat berbelanja sesuka hatinya, namun ketidakhadiran Daniel membuat rasa senang itu menghilang secara perlahan dan digantikan oleh rasa bosan.
Selain itu, ada sedikit rasa penasaran dalam dirinya mengenai kartu hitam yang diberikan oleh Daniel, pasalnya, ia sudah membeli banyak barang dengan benda itu dan jumlah uang yang telah ia habiskan mencapai dua ratus juta, namun anehnya, uang di dalam kartu itu seolah tidak pernah habis.
"Memangnya berapa banyak tabungan Daniel?"
Alisha mulai curiga dengan jumlah tabungan yang dimiliki oleh suaminya, memang benar Daniel pernah mengatakan jika dirinya memiliki sedikit tabungan, tapi ia tidak mengatakan berapa jumlah tabungannya itu.
Tidak hanya itu saja, Alisha juga pernah memeriksa warna hitam pada kartu itu, karena menurut Daniel, warna hitam itu hanyalah tempelan belaka, namun setelah diperiksa, warna hitam itu ternyata asli dan bukannya sebuah tempelan.
"Hah" Alisha menghela napas panjang, "Daripada aku bingung, lebih baik aku periksa saja kartu ini" gumamnya, kemudian pergi menemui Heru yang tengah menunggunya di tempat parkir.
"Heru, apa sudah ada kabar dari Daniel?"
"Belum, Nyonya. Mungkin Tuan masih menyelesaikan urusannya" jawab Heru.
"Baiklah, kalau begitu antar aku ke bank" sahut Alisha.
"Baik, Nyonya!"
.
.
.
Alisha masih mematung di dalam mobil sembari memandangi kartu hitam yang diberikan oleh suaminya, ada begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya setelah memeriksa kartu tersebut ke bank, karena menurut pihak bank, kartu itu asli dan telah dibuktikan keasliannya oleh mereka.
"Nyonya, apa Anda baik-baik saja?" tanya Heru, karena sejak keluar dari bank, istri tuannya itu terlihat tidak bersemangat.
"Aku baik-baik saja" sahut Alisha.
"Lalu, kemana tujuan kita sekarang, Nyonya?"
"Langsung pulang, aku ingin menunggu Daniel pulang."
"Baik, Nyonya."
.
.
.
Daniel yang baru saja sampai didepan rumah, langsung berbalik ketika mendengar suara mobil mendekati vila, dan saat ia berbalik, senyuman indah langsung terukir di wajahnya, karena yang berada di dalam mobil itu adalah istrinya, Alisha.
"Apa kau bersenang-senang?" tanya Daniel.
Alisha tidak menjawab, tatapannya nampak tajam seperti seseorang yang sedang marah, "Daniel, katakan yang sejujurnya tentang kartu hitam ini!"
"Apa maksudmu Alisha?"
"Jangan mengelak lagi, Daniel. Aku sudah memeriksa ke bank dan nama yang tertera di sana adalah namaku."
Daniel diam membisu, ia tidak menyangka keputusannya yang ia ambil secara tiba-tiba sebelum meninggalkan rumah, ternyata malah membawanya pada situasi yang sangat rumit seperti sekarang ini.
Tadi pagi, karena Alisha terus memaksa untuk ikut bersamanya, Daniel akhirnya meminta bantuan kepada Omega untuk mengubah data pemilik pada kartu hitamnya menjadi nama istrinya, ia juga meminta Omega untuk mengubah sandinya menjadi tanggal lahir Alisha, agar nantinya Alisha bisa menggunakan kartu itu sesuka hatinya.
Tapi siapa sangka, Alisha malah memeriksakan kartu itu ke bank sehingga ia mengetahui semuanya, dan sekarang, ia menuntut penjelasan dari Daniel mengenai kepemilikan kartu tersebut.
"Kenapa kau diam saja? Cepat jawab pertanyaan ku!"
Daniel masih tetap diam, ia benar-benar bingung harus memberi penjelasan seperti apa pada Alisha, karena tidak mungkin dia mengatakan bahwa dia memiliki sistem yang bisa membantunya melakukan apapun.
"Hah" Alisha menghela napas panjang untuk menenangkan dirinya, "Selagi kau tidak memberikan penjelasan, jangan harap untuk tidur di kamarku!" ucapnya, kemudian pergi meninggalkan Daniel.
Daniel mengusap wajahnya dengan kasar, ia benar-benar bingung dan tidak tahu harus menjelaskan apa pada istrinya. Selain itu, ia juga tidak menyangka jika dirinya sangat ceroboh, padahal selama ini ia adalah orang yang sangat berhati-hati.
"Tuan, apa Anda baik-baik saja?" tanya Heru.
Daniel menggelengkan kepalanya, "Tidak Heru, aku sedang tidak baik-baik saja" jawab Daniel, lalu masuk ke rumah.
Saat hendak melewati pintu, ponsel Daniel tiba-tiba saja berdering, meskipun kesal karena diganggu, ia tetap mengeluarkan ponselnya untuk mengetahui siapa yang menghubunginya.
"Nomor tidak dikenal, siapa lagi ini?" Daniel menekan tombol hijau yang tertera pada layar ponselnya.
"Daniel, apa kau sedang sibuk?" suara Tuan Handoko terdengar dari ujung panggilan.
"Kakek, darimana kakek mendapatkan nomor ponselku?"
"Alisha yang memberikannya. Jadi, apa kau sedang sibuk sekarang?" Tuan Handoko mengulang pertanyaannya.
"Tidak, aku sedang tidak melakukan apapun" jawab Daniel.
"Baguslah, dua hari lagi adalah hari ulang tahun Alisha, kakek berencana untuk merayakan ulang tahunnya di tempat tinggal kalian, tapi jangan beritahu Alisha, karena kakek ingin memberikan kejutan untuknya."
Ketika mendengar penjelasan Tuan Handoko, Daniel tiba-tiba terpikirkan sebuah ide yang mungkin dapat menjawab semua pertanyaan Alisha.
"Baiklah, aku akan mengirimkan alamatnya pada kakek, tapi menurutku, akan lebih baik lagi kalau kita merayakannya di suatu tempat, maksudku selain di tempat tinggal kami" ucap Daniel.
"Baiklah, bagaimana kalau di salah satu hotel milik kakek saja?"
"Iya, di sana saja" jawab Daniel.