
Setelah itu, Daniel mengajak Alisha untuk menghampiri kakeknya dan memberikan ucapan selamat padanya, tidak lupa, keduanya juga minta maaf kepada Tuan Handoko karena mereka tidak bisa memberikan apapun sebagai hadiah, tapi keduanya tetap berjanji akan memberikan hadiah itu adalah waktu dekat.
Tuan Handoko bisa memaklumi hal itu, lagipula dia memang tidak mengharapkan apapun dari cucu dan juga cucu menantunya itu, karena bantuan yang telah diberikan oleh Daniel untuk keluarganya sudah ia anggap sebagai hadiah terbesar baginya, jadi dia benar-benar tidak menginginkan apapun lagi dari mereka.
"Daniel, Alisha, kalian mau kemana?" tanya Tuan Handoko ketika melihat keduanya menuju pintu keluar.
"Kakek, aku dan Daniel ingin pergi sekarang juga, karena kehadiran kami di sini hanya akan membuat masalah untuk kalian. Lagipula, keberadaan kami tidak diinginkan di rumah ini" jawab Alisha, kemudian pergi bersama suaminya itu.
Tuan Handoko hanya bisa menghela napas panjang sembari menatap kepergian Daniel dan Alisha, sebagai seorang kakek, ia merasa telah gagal melindungi cucunya sendiri, dan sebagai seorang ayah, dia merasa telah gagal mendidik putrinya, kalau tidak, semua ini tidak akan mungkin terjadi di keluarganya.
Pada akhirnya, acara ulang tahun yang seharusnya berlangsung dengan meriah dan penuh kebahagiaan, malah menjadi hancur dan penuh dengan kekacauan, apalagi setelah Daniel mematahkan kaki Angga yang membuat para tamu tidak ingin berlama-lama berada di sana, karena mereka tidak ingin terkena imbas dari masalah tersebut.
***
Di dalam taksi.
"Alisha, apa kau baik-baik saja?" tanya Daniel.
"Aku baik-baik saja" jawab Alisha yang mencoba menyembunyikan kesedihannya dari Daniel.
Meski Alisha berusaha menyembunyikannya, namun Daniel sudah bisa menebak bagaimana perasaan istrinya itu, kemudian ia merangkul Alisha kedalam pelukannya agar dia tenang, namun hal itu malah membuat air mata yang sudah ia tahan tumpah.
"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja, karena aku akan selalu ada untukmu" ucap Daniel.
Alisha tidak mengatakan apapun, perasaannya saat ini benar-benar hancur hingga membuatnya tidak bisa mengatakan apapun lagi, bagaimana tidak, sosok seorang ibu yang begitu berharga baginya, malah tega menjualnya pada laki-laki lain. Padahal, ibunya sudah tahu bahwa dia sudah memiliki seorang suami.
"Daniel"
"Ada apa Alisha?"
Alisha melepaskan pelukan Daniel, kemudian menghapus air matanya, "Apa kau mau berjanji satu hal padaku?"
"Tentu saja" jawab Daniel.
"Berjanjilah untuk tidak meninggalkan aku dalam keadaan apapun, dan berjanjilah untuk tidak memiliki wanita lain dalam hidupmu selain diriku."
Daniel tersenyum mendengar perkataan istrinya itu, "Baiklah, aku berjanji" ucapnya.
"Terima kasih" sahut Alisha, lalu memeluk suaminya lagi.
Setengah jam kemudian, mereka akhirnya tiba di kawasan Great Mountain Villa, namun karena Alisha tengah tertidur, Daniel hanya bisa menggendongnya sampai ke rumah mereka yang ada di puncak Great Mountain Villa, pasalnya, taksi tidak diizinkan untuk masuk ke kawasan tersebut.
Setibanya di rumah, Daniel langsung membawa Alisha ke kamar dan merebahkannya di tempat tidur, lalu ia menutupi tubuh istrinya dengan selimut agar dia tidak kedinginan. Setelah itu, Daniel keluar dari kamar dan pergi ke ruang tamu.
"Tuan, apa Anda ingin makan malam?" tanya Heru.
Daniel menggelengkan kepalanya, "Heru, apa kau memiliki pengalaman dalam bidang usaha?"
"Tentu saja Tuan, karena sebelumnya saya pernah bekerja di salah satu perusahaan di kota A ini, hanya saja, saya dikeluarkan karena dituduh melakukan korupsi" jawab Heru.
"Memangnya apa jabatan mu waktu itu?"
"Manajer keuangan."
Heru mengerutkan alisnya ketika mendengar perkataan Daniel, pasalnya, tugas yang diberikan oleh Daniel adalah tugas yang hampir mustahil untuk dilakukan. Bagaimana tidak, keluarga Wijaya adalah keluarga yang sangat sulit untuk disentuh, meski mereka berada di bawah keluarga Louis, tapi mereka benar-benar tidak bisa dipandang rendah.
"Tuan, kenapa Anda ingin mencari informasi mengenai keluarga Wijaya?" tanya Heru.
"Kau tidak perlu tahu, karena tugasmu hanyalah menuruti perintahku, jika kau tidak sanggup, maka aku akan memerintahkan orang lain untuk melakukannya" jawab Daniel.
"Baik Tuan, akan saya lakukan, tapi butuh waktu yang sedikit lama bagi saya untuk mendapatkan informasi yang Tuan inginkan" sahut Heru.
"Tidak masalah, yang penting kau bisa mendapatkannya."
Sebenarnya Daniel bisa saja meminta bantuan Omega untuk mencari informasi yang ia inginkan, dan ia hanya perlu menunggu selama beberapa menit saja untuk mendapatkannya, namun ia tidak bisa melakukan itu, karena ia memiliki rencana lain dan membutuhkan bantuan Omega.
"Omega!"
"Iya Tuan!"
"Laporkan perkembangan saham ku di perusahaan Wiliam Group."
"Untuk saat ini, Tuan masih menjadi pemegang saham terbesar di semua perusahaan milik Wiliam Group."
Sudah lima tahun berlalu sejak Daniel memiliki sistem, dan selama lima tahun itu sudah banyak hal yang dilakukan oleh sistem untuknya, diantaranya adalah menanamkan saham di berbagai macam perusahaan besar di Asia, dan salah satunya adalah Wiliam Group.
Meski selama ini Daniel selalu saja mengabaikan saran Omega untuk membangun sebuah perusahaan, namun Daniel bukanlah orang yang tidak memikirkan masa depan, ia memang menolak untuk menjadi pengusaha, karena tidak memiliki pengalaman di bidang tersebut. Selain itu, ia juga tidak ingin disibukkan oleh semua urusan perusahaan.
Akan tetapi, Daniel yang saat itu masih memiliki banyak uang di penyimpanan sistemnya, kemudian meminta Omega untuk menanamkan saham di beberapa perusahaan di Asia, namun Daniel tidak ingin Omega melibatkan dirinya, dengan kata lain, dia hanya akan menerima bersihnya saja.
Daniel tersenyum senang mendengar perkataan Omega, "Baiklah, kalau begitu atur pertemuanku dengan Wiliam besok pagi."
"Baik Tuan!"
Tidak lama kemudian, ponsel Daniel tiba-tiba saja berdering, "Siapa yang menghubungiku malam-malam begini?" gumamnya sembari mengeluarkan ponsel dari sakunya.
Daniel dibuat bingung ketika melihat yang menghubunginya adalah nomor yang tidak dikenal, pasalnya, ia belum pernah memberikan nomor ponselnya kepada siapapun kecuali Alisha, dan tidak mungkin juga Alisha menghubunginya dengan nomor lain.
"Halo, siapa ini?" tanya Daniel setelah menjawab panggilan suara tersebut.
"Selamat malam, apakah ini Tuan Daniel?" tanya seseorang di ujung panggilan.
"Iya, ini aku Daniel."
"Maaf mengganggu Anda malam-malam begini Tuan, aku hanya ingin menanyakan kapan Anda akan mengambil mobil Anda?"
"Mobil?" Daniel sedikit kebingungan dengan pertanyaan orang itu, karena ia tidak pernah merasa telah memesan mobil sebelumnya, tapi tidak lama kemudian, ia akhirnya ingat darimana mobil itu berasal.
"Besok, aku akan mengambilnya besok" jawab Daniel.
"Baik Tuan, saya akan mengirimkan alamatnya dan maaf karena sudah mengganggu waktu istirahat Tuan." sahut pria tersebut, lalu memutuskan sambungan panggilannya.
"Sepertinya aku harus mengambil mobilku terlebih dahulu sebelum menemui Wijaya" gumam Daniel.