
Roy tercengang menyaksikan kelima belas pengawal yang kini meringkuk dilantai, ia juga tidak menyangka jika Daniel memiliki kekuatan yang begitu luar biasa, bahkan ia berhasil menumbangkan mereka hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
Sebenarnya, Roy sendiri juga mampu mengalahkan lima belas pengawal sekaligus, namun untuk waktunya, mustahil ia bisa melakukannya secepat Daniel, dan rasanya tidak mungkin ia tidak terkena satu pukulan-pun dari mereka.
"Tuan Roy, apa Anda ingin mencoba?" tanya Daniel dengan sopan, namun bagi Roy, pertanyaan itu terdengar seperti sebuah ejekan.
Roy tersenyum kecut seraya menggelengkan kepalanya, walaupun ia lebih hebat dari kelima belas pengawal itu, namun jika dibandingkan dengan Daniel, tentu ia masih berada di tahapan yang masih sangat rendah.
"Mu-mungkin lain kali saja, Tuan Muda."
"Baiklah, kalau begitu kami pamit" sahut Daniel, kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut, namun langkahnya terhenti ketika berada diambang pintu.
"Tuan Roy, aku akan meminta Heru mengirimkan kompensasi untuk bawahan-mu, bagaimanapun juga, aku tetap akan bertanggungjawab."
"Terima kasih, Tuan Muda!"
***
Setelah meninggalkan tempat tersebut, Daniel meminta Heru untuk segera membawa mereka kembali ke rumah, ia juga membatalkan niatnya untuk merekrut pengawal, karena menurutnya, di kota A ini tidak ada yang cocok untuk menjadi pengawal istrinya.
"Daniel, bagaimana dengan rencana sebelumnya?"
"Aku yakin tidak ada yang pantas untuk menjadi pengawal-mu di kota A ini, karena untuk bisa menjadi pengawal-mu, orang itu setidaknya harus bertahan dari tiga pukulan-ku" jawab Daniel.
"Sekarang bagaimana?"
Daniel tersenyum kemudian membelai lembut pipi Alisha, "Kau tenang saja, aku akan merekrut prajurit-ku sendiri dan merekalah yang akan menjadi pengawal-mu."
"Baiklah, aku serahkan semuanya padamu" sahut Alisha.
Setengah jam kemudian, mereka akhirnya sampai di rumah mereka di kawasan Great Mountain Villa. Setibanya di kamar, Daniel kemudian mengeluarkan ponselnya, lalu mencatat satu-satunya nomor yang ia hafal selain nomor istrinya sendiri.
"Semoga masih bisa dihubungi" gumam Daniel, kemudian menghubungi nomor tersebut.
"Halo, siapa ini?" tanya seseorang di ujung panggilan.
"Alpha one!" ujar Daniel setelah diam selama beberapa saat.
"Roger that!" sahut orang itu, kemudian memutuskan sambungan panggilan suara tersebut.
Daniel menghela napas panjang kemudian tersenyum kearah layar ponselnya yang masih menyala, ia benar-benar senang karena nomor yang selama ini simpan dalam ingatannya, ternyata masih bisa dihubungi.
Seseorang yang baru saja ia hubungi adalah satu-satunya anggota skuadron Alpha yang masih tersisa, dia juga merupakan tangan kanan sekaligus wakil Daniel saat masih memimpin skuadron tersebut.
"Dengan adanya dia, aku tidak perlu mengkhawatirkan keselamatan Alisha lagi."
"Dia siapa?" tanya Alisha yang baru keluar dari kamar mandi.
"Temanku."
"Laki-laki atau perempuan?" tatapan curiga langsung diarahkan pada Daniel.
Daniel tersenyum kemudian menghampiri Alisha, lalu melingkarkan tangannya di pinggang istrinya itu, "Perempuan, dia adalah bawahan-ku saat masih memimpin skuadron dulu."
Alisha mengernyitkan dahi, "Kau menyukainya?"
"Alisha, satu-satunya perempuan yang aku sukai itu adalah kau, dan tidak ada perempuan lain yang bisa merebut diriku darimu."
"Lalu kenapa kau menghubunginya?"
Daniel mendaratkan kecupan lembut di dahi Alisha, kemudian menjelaskan kenapa dia menghubungi bawahannya itu, karena ia ingin bawahannya itulah yang menjadi pengawal Alisha nantinya.
Selain sudah sangat mengenal siapa bawahannya itu, Daniel juga tidak ingin Alisha merasa canggung karena di kawal oleh laki-laki. Selain itu, Daniel juga tidak suka jika istrinya itu dekat-dekat dengan pria lain, walaupun hanya seorang pengawal.
"Orangnya seperti apa?"
"Memangnya mau kemana lagi?"
Daniel tersenyum, "Karena aku ingin memangsamu!"
***
Ditempat lain.
Gadis cantik yang nampaknya masih berumur 25 tahun, mengerutkan dahinya ketika menatap nomor asing yang menghubunginya, namun karena penasaran, ia tetap menjawab panggilan suara tersebut.
"Halo, siapa ini?" tanya gadis bernama Grace tersebut.
Setelah diam selama beberapa saat, orang yang menghubunginya akhirnya bicara, namun bukannya menjawab pertanyaannya, pria itu malah menyebutkan sebuah kode nama yang hanya diketahui oleh orang tertentu saja.
"Roger that!" ujar Grace, kemudian menutup sambungan panggilan suara tersebut.
Senyuman indah nampak terukir di bibir Grace, meski pria itu tidak menyebutkan namanya, namun Grace sudah mengetahui siapa pria itu sebenarnya, karena ia hanya mengenal satu orang pria yang memilki kode nama tersebut, yaitu Daniel.
"Setelah sekian lama, akhirnya komandan menghubungiku juga" gumam Grace, kemudian melempar ponselnya ke tempat tidur.
Setelah itu, Grace bergegas mengganti pakaiannya, karena sekarang, ia harus berangkat menuju ke tempat Daniel berada, walaupun Daniel tidak mengatakan apapun, namun kode nama yang ia berikan sudah membuat Grace yakin jika Daniel membutuhkan bantuannya.
Selesai mengganti pakaian dan menyiapkan barang-barangnya, Grace kemudian memesan tiket pesawat melalui sebuah aplikasi di ponsel pintarnya, dan ia sangat beruntung karena tiket menuju ke negara dimana Daniel berada, masih tersisa untuk satu orang.
"Daniel, tunggu aku!"
***
"Alisha, kau sedang apa?" tanya Daniel pada istrinya yang tengah sibuk di dapur.
"Aku ingin menyiapkan makan malam untuk kita."
"Bukankah sudah ada para pelayan?"
Alisha mengangguk, "Aku tahu itu, tapi sebagai seorang istri, aku harus melayani suamiku dengan baik, termasuk menyiapkan makanan untukmu."
"Nanti saja, karena sekarang aku ingin mengajakmu menjemput seseorang" sahut Daniel.
"Siapa?"
"Calon pengawal-mu!"
"Dia sudah sampai?"
"Sebentar lagi akan sampai, jadi sebaiknya kita sudah di bandara saat dia sampai nanti, karena sama sepertiku, dia juga baru pertama kali datang ke negara ini" jelas Daniel.
Alisha mendesah pelan, sebenarnya ia tidak ingin berangkat karena harus menyiapkan makan malam untuk Daniel, namun jika dirinya tidak ikut pergi, maka sama saja dengan ia merelakan suaminya bersama wanita lain.
"Baiklah, tunggu sebentar!" ujar Alisha, kemudian bergegas ke kamar untuk mengganti pakaiannya.
Lima belas menit kemudian, Alisha akhirnya keluar dari kamar dengan pakaian yang berbeda, namun penampilannya justru membuat Daniel mengerutkan dahi, karena penampilan Alisha benar-benar berbeda dari biasanya.
Meski merasa heran dengan penampilan Alisha, tapi bukan berarti Daniel tidak senang jika istrinya itu tampil cantik, hanya saja, ia sedikit bingung dengan penampilan istrinya yang terlihat sedikit berlebihan.
Padahal, mereka hanya ingin menjemput calon pengawal, tapi penampilannya malah mirip seperti ingin menjemput seseorang yang sangat penting, sehingga Alisha harus menjaga penampilannya agar terlihat cantik di depan orang tersebut.
"Sayang, kita hanya ingin menjemput seorang pengawal, kenapa kau harus..."
"Aku melakukan ini demi dirimu!" ujar Alisha memotong perkataan Daniel.
"Maksudmu?" tanya Daniel yang nampak sangat kebingungan.
Alisha mendesah pelan, ia benar-benar tidak menyangka jika suaminya itu adalah pria yang tidak peka sama sekali, "Pikir saja sendiri!" ujarnya.