
Alisha menangis sejadi-jadinya ketika mereka sampai di rumah kakeknya, sementara Daniel, ia juga sangat sedih namun tidak menunjukkan kesedihannya itu, ia lebih memilih untuk menenangkan istrinya.
"Ini semua gara-gara kau, pemuda sialan!" sarkas Dewi.
"Jika kau tidak muncul dalam kehidupan kami, kejadian ini tidak akan pernah menimpa keluargaku!"
Ditengah derai air mata yang terus mengucur deras, Dewi masih saja melimpahkan kekesalan dan semua kesalahan pada Daniel, padahal yang memulai semua ini bukanlah dirinya.
Semalam, setelah Daniel dan Alisha pergi, puluhan orang tidak dikenal tiba-tiba saja datang dan mengacaukan hotel, mereka menghancurkan apapun yang ada di sana, bahkan melukai para pelayan hotel.
Untuk menghentikan tindakan bengis orang-orang itu, Johan dan yang lainnya berusaha melawan, namun hasilnya malah sia-sia, karena jumlah orang yang datang menyerang jauh berkali-kali lipat lebih banyak.
Pada akhirnya, seluruh keluarga Handoko di tawan oleh orang-orang yang tidak dikenal itu, sementara Dewi, ia benar-benar beruntung karena sedang berada di kamar mandi.
Setelah mendengar penjelasan dari para pelayan hotel, Dewi kemudian mencoba menghubungi Daniel dan Alisha, namun sayangnya, panggilannya tidak pernah dijawab oleh mereka berdua.
Ia juga sudah mengirimkan pesan singkat, tapi hasilnya tetap sama saja, oleh karena itulah, Dewi sangat marah ketika mereka berdua kembali ke rumah Tuan Handoko.
"Ibu, apa ibu mengetahui siapa orang-orang itu?"
"Bagaimana aku bisa mengetahuinya!? Dan kalaupun aku mengetahui siapa mereka, aku pasti akan melaporkan mereka ke polisi!"
"Daniel, bagaimana ini?"
"Kau tenang saja, aku yang akan menyelamatkan mereka."
"Memang begitulah seharusnya! Setidaknya, buat dirimu berguna dengan menyelamatkan mereka!" ujar Dewi.
Daniel menghela napas panjang untuk menangkan dirinya, ia dapat memaklumi kemarahan ibu mertuanya itu, karena bagaimanapun juga, masalah ini terjadi karena dirinya, meski bukan dialah yang memulainya.
"Daniel, kau mau kemana?"
"Menghancurkan orang-orang yang mengganggu ketenangan-ku!" jawab Daniel.
Nada suaranya terdengar berbeda dari biasanya, bahkan tatapan matanya sangat tajam hingga membuat Alisha takut memandang wajahnya, apalagi, tubuh Daniel seperti memancarkan sesuatu yang sangat mengerikan.
"Daniel, kau harus kembali dengan selamat" ucap Alisha.
"Kau tenang saja, dan sebaiknya kau bersiap menyambut kepulangan-ku nanti" sahut Daniel, kemudian meninggalkan Alisha dan ibu mertuanya.
***
Daniel memacu mobilnya mengikuti arah yang ditunjukkan oleh omega, pelaku penyerangan dan penculikan yang terjadi pada keluarga Handoko, adalah ulah dari kelompok White Tiger, dan saat ini, Daniel sedang menuju ke markas mereka.
Setelah meninggalkan rumah, Daniel memerintahkan Omega untuk melacak keberadaan pelaku kejadian semalam, ia juga meminta Omega untuk mengumpulkan semua informasi mengenai pelaku tersebut.
Dan setelah mengetahui semuanya, Daniel langsung menuju ke tempat persembunyian anggota White Tiger, karena seluruh anggota keluarga Handoko tengah di tawan di sana.
Setengah jam kemudian, Daniel menghentikan mobilnya tidak jauh dari gerbang sebuah rumah yang sangat megah, jaraknya sekitar seratus meter dari gerbang rumah tersebut.
Daniel menoleh dan mengarahkan pandangannya ke gerbang, di sana terlihat beberapa orang pria berpakaian serba hitam tengah berjaga-jaga, dan dibalik pakaiannya, terdapat senjata api yang disembunyikan.
"Omega!"
"Ya, Tuan."
"Buka segel yang mengunci kekuatanku, aku tidak ingin membiarkan satu orangpun dari mereka tetap hidup!"
"Baik Tuan!"
[Membuka segel dalam sepuluh detik!]
10... 9... 8... 7... .... 3... 2... 1.
[Segel terbuka!]
[Status.
- Nama: Daniel
- Kesehatan: 100 (Sangat sehat)
- Kekuatan: 150
- Kecepatan: 150
Gelar: The Alpha, Shadow Killer.
Kemampuan:
Seni bela diri (Master)
Menguasai 10 bahasa (Ahli)
Kemampuan khusus:
- Menguasai semua jenis senjata
- Bergerak tanpa suara
- Membunuh tanpa jejak.
- Penyimpanan: -]
Tubuh Daniel dipenuhi oleh kekuatan saat Omega membuka segel yang mengekang kekuatannya selama ini, dari dalam tubuhnya terpancar aura membunuh yang akan membuat siapapun ketakutan saat melihat sosoknya.
"Kalian ingin bermain-main? Maka akan aku temani kalian bermain sampai puas!"
Setelah itu, Daniel keluar dari dalam mobil, lalu ia berjalan dengan santainya menghampiri orang-orang yang berjaga didepan gerbang.
"Hei! Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau tidak tahu jika kawasan ini adalah kawasan terlarang?!"
"Benarkah? Aku benar-benar minta maaf, aku tidak tahu jika kawasan ini dikarang untuk umum" jawab Daniel.
"Pergilah, atau kau akan..."
Bugh!
Sebuah tinju melesat dengan kecepatan yang tidak terlihat oleh mata dan berhasil mendarat tepat di wajah pria tersebut, bahkan ia tidak sempat menyelesaikan perkataannya karena serangan itu telah lebih dulu mendarat di wajahnya.
Pria yang lain tersentak kaget melihat perbuatan Daniel, mereka kemudian bergerak maju untuk menyerangnya, namun sebelum mereka sempat melancarkan serangan, Daniel telah lebih dulu menumbangkan mereka semua.
"Si-sialan, mati kau!"
Dor!
Salah seorang dari mereka mengeluarkan pistol dari balik punggungnya dan langsung menembak Daniel, namun sayangnya, peluru yang melesat dengan kecepatan tinggi itu malah tidak bisa mengenai Daniel.
"Biar aku tunjukkan bagaimana cara menggunakan pistol dengan benar!" ujar Daniel yang telah berhasil meraih pistol dari genggaman pria tersebut.
Dor!
Dor!
Tanpa adanya rasa belas kasihan sedikitpun, Daniel membunuh semua penjaga yang ada di sana, setelah mereka semua mati, ia kemudian mengambil dua buah pistol dari pria lainnya, lalu masuk ke gerbang yang cukup besar tersebut.
***
Suara letusan senjata api yang berasal dari luar gerbang mengejutkan seluruh anggota kelompok White Tiger yang ada di sana, mereka kemudian keluar untuk mencaritahu apa yang terjadi.
Namun sayangnya, saat mereka hendak menuju gerbang, beberapa peluru telah melesat menembus kepala mereka semua, begitupun dengan orang-orang yang baru saja keluar dari dalam rumah besar tersebut.
Sementara itu, Daniel masih tetap terlihat berjalan dengan santai sembari terus menembak siapapun yang ada didepannya, keahlian yang ia miliki membuat tembakannya selalu tepat mengenai sasaran.
Setibanya didepan pintu, Daniel membuang kedua pistol di tangannya, kemudian mengambil senjata milik anggota White Tiger yang telah menjadi mayat dan menumpuk didepan pintu.
Setelahnya, Daniel masuk ke dalam rumah tersebut dan melanjutkan aksinya dengan menembak siapapun yang ada di sana.
Anggota White Tiger bukannya tidak memberikan perlawanan, hanya saja setiap peluru yang mereka tembakan, selalu berhasil dihindari oleh Daniel.
"Mati kau!"
Seseorang dengan senapan serbu muncul dari lantai atas, ia menghujani Daniel dengan peluru yang terus keluar dari senapannya itu, bahkan serangannya sampai memaksa Daniel untuk bersembunyi.
"Tiga, dua, satu!"
Tepat setelah hitungan mundurnya selesai, suara senapan serbu itu tidak lagi terdengar karena sudah kehabisan peluru, seketika itu juga, Daniel keluar dari persembunyiannya dan langsung menembak pria tersebut.