
"William, aku akan langsung saja pada poin pentingnya, tujuanku datang ke sini adalah untuk memulai kerjasama yang sudah kita sepakati waktu itu."
Setelah mereka berada di ruang khusus milik William, Daniel langsung mengutarakan maksud kedatangannya pada mereka semua, karena dirinya tidak ingin berlama-lama berada di sana.
Daniel mungkin terlihat santai dan tidak menunjukkan ekspresi apapun, namun ia tidak bisa memungkiri jika di dalam hatinya ada rasa cemburu saat melihat istrinya dekat dengan cucu William.
"Satu lagi, dia adalah asisten pribadiku, namanya Heru, dan selama pembangunan berlangsung, aku ingin kau melaporkan segala sesuatunya pada Heru."
"Ba-baik, Tuan Muda!"
William tidak berani membantah karena sudah memahami apa yang sedang Daniel rasakan, dan jika dirinya berani membantah atau bahkan tidak patuh, maka riwayat keluarganya pasti akan tamat saat itu juga.
Di mata orang lain, keluarga William mungkin dianggap sebagai keluarga yang sangat berkuasa, bahkan sangat sulit bagi keluarga lainnya untuk menjalin kerjasama dengan mereka, begitupun dengan orang-orang organisasi dunia bawah tanah.
Namun, yang tidak mereka ketahui adalah, keluarga William yang mereka anggap sangat hebat dan berkuasa, nyatanya tidak lebih seperti pelayan di mata Daniel, bahkan pemuda itu bisa saja melenyapkan keluarga William dengan mudah.
"Tu-tuan Muda..."
"Ada apa William?"
William diam sejenak, ia nampak ragu untuk mengutarakan isi kepalanya pada Daniel, namun karena tidak ingin membuat pemuda itu menunggu, ia akhirnya memberanikan diri untuk mengungkapkan keresahannya.
"Sebenarnya, akhir-akhir ini ada sedikit masalah yang menghambat kami, Tuan Muda."
"Masalah? Memangnya masalah apa yang bisa menghambat kalian?" tanya Daniel.
Setelah menenangkan dirinya, William kemudian menceritakan masalah yang tengah mereka hadapi saat ini, dan masalah itu berhubungan dengan orang-orang dari organisasi dunia bawah tanah.
William menjelaskan jika akhir-akhir ini, dirinya sering ditemui oleh orang-orang dari organisasi dunia bawah tanah, tujuan kedatangan mereka adalah mengajukan kerjasama dengan perusahaannya.
Sebagai seseorang yang telah berkecimpung cukup lama di dunia para pengusaha, William tentu sudah mengerti bagaimana cara kerja orang-orang ini, dimana mereka hanya mementingkan keuntungan sendiri tanpa memikirkan yang lainnya.
Pada awalnya, mereka menawarkan berbagai macam keuntungan yang menggiurkan, namun pada akhirnya, mereka akan menggerogoti mangsanya sampai tidak tersisa, layaknya benalu yang menumpang hidup di pohon lain.
"Selain itu, aku juga sudah mendengar kabar mengenai kehancuran salah satu kelompok mereka, dan aku yakin, kejadian ini akan membuat mereka semakin agresif dalam bertindak."
"Lakukan saja tugasmu dengan baik, jika mereka memaksamu, segera laporkan padaku. Dan mengenai kelompok yang kau maksud tadi, akulah yang menghancurkan mereka!"
William dan yang lainnya tersentak kaget mendengar perkataan Daniel, karena tidak menyangka jika Daniel adalah pelaku dibalik hancurnya salah satu kelompok ternama organisasi dunia bawah tanah.
Meski begitu, tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak percaya pada perkataan Daniel, karena dengan uang dan kekuasaan yang ia miliki, tentu akan sangat mudah baginya untuk melakukan hal itu.
Tidak lama berselang, Alisha dan Gilang akhirnya datang ke ruangan khusus Tuan William, ketika mereka masuk, tatapan semua orang yang ada dalam ruangan itu langsung tertuju pada mereka, atau lebih tepatnya pada Gilang.
"Apakah sudah selesai?" tanya Alisha yang langsung menghampiri suaminya.
Daniel menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, "Bagaimana denganmu?"
"Urusanku juga sudah selesai, bukan begitu, Gilang?"
"Be-benar" jawab pemuda itu, namun tidak berani mengangkat wajahnya menatap Alisha.
"Baiklah, kalau begitu kita harus pergi sekarang, karena masih ada urusan lain yang harus aku selesaikan" ucap Daniel, kemudian berdiri dari tempat duduknya, lalu menarik tangan Alisha meninggalkan ruangan tersebut.
***
"Gilang, apa kau tahu siapa wanita itu?" tanya William setelah Daniel dan Alisha pergi meninggalkan perusahaan mereka.
Pemuda itu mengangguk, ia tentunya mengenal siapa Alisha, bahkan mengenalnya dengan sangat baik dan tidak bisa dipungkiri, jika dirinya juga menyukai gadis itu.
"Kalau kau sudah tahu, sebaiknya kau menjaga sikapmu!"
"Kau beruntung karena Tuan Muda Daniel bisa memakluminya, jika tidak, keluarga kita pasti akan hancur karena ulah-mu itu!"
"Kakek, aku dan Nona Alisha hanya berteman, lagipula tidak mungkin aku berani menyinggung Tuan Muda Daniel" sahut Gilang.
"Bagus! Kalau begitu bersikaplah layaknya seorang teman, dan jangan sampai kau melebihi batasan itu!"
"Baik, kakek."
"Abaikan saja mereka, karena kita memiliki pelindung yang jauh lebih kuat dari para pengganggu itu!"
"Maksud ayah?"
Tuan William kemudian menjelaskan jika dirinya sudah menyelidiki tentang identitas Daniel, walaupun tidak banyak yang ia temukan, namun ada hal yang ia ketahui dari penyelidikannya itu, yaitu Daniel bukanlah orang sembarangan.
"Aku semakin tidak mengerti" ucap Rama.
"Rama, kita tidak perlu mengetahui siapa Daniel yang sebenarnya, karena yang harus kita ketahui adalah, Daniel adalah orang yang sangat berjasa untuk keluarga kita!"
"Baik, ayah!"
Sebenarnya, ada rasa penasaran yang sangat besar dalam diri Rama mengenai identitas Daniel, namun ia tidak mungkin mengungkit hal itu lebih jauh lagi, karena perkataan ayahnya barusan, bisa ia artikan sebagai larangan keras yang tidak bisa ia langgar.
***
Suasana terasa begitu sunyi, karena sejak meninggalkan perusahaan William Group, Daniel belum bicara sepatah katapun pada istrinya. Sedangkan Heru, pria itu lebih memilih untuk bungkam dan hanya fokus mengemudikan mobil.
"Daniel, kau kenapa?"
"Kenapa? Memangnya aku kenapa?"
Alisha mengerutkan dahinya, "Ada apa dengan ekspresi-mu itu?"
"Maksudmu?"
Tatapan mata Alisha terfokus pada Daniel, raut wajahnya yang tidak menunjukkan ekspresi apapun, serta tatapan matanya yang tertuju ke arah lain saat bicara dengan dirinya, membuat Alisha bisa menebak apa yang dirasakan oleh suaminya itu.
Alisha tersenyum lembut, kemudian mengecup pipi Daniel, "Kau cemburu?"
Alisha bertanya dengan menempelkan dagunya di pundak Daniel, jarak mereka sangat dekat hingga hembusan napasnya dapat dirasakan dan didengar dengan jelas oleh Daniel.
"Menurutmu?"
"Daniel, aku tidak menyukai pemuda itu dan dia hanya ku anggap sebagai teman. Selain itu, tubuh dan hatiku sudah menjadi milikmu sepenuhnya, jadi tidak mungkin aku berpaling darimu" terang Alisha.
"Aku tahu itu, tapi tetap saja..."
"Maafkan aku, lain kali aku tidak akan melakukan hal seperti itu lagi" ujar Alisha memotong perkataan suaminya.
"Hah" Daniel menghela napas panjang, "Aku juga minta maaf, karena terlalu cemburu."
"Menurutku itu wajar, karena rasa cemburu-mu itu menunjukkan bahwa kau benar-benar mencintaiku" sahut Alisha.
Daniel akhirnya menoleh pada Alisha, kemudian mendaratkan kecupan lembut di dahi istrinya itu, namun jarak mereka yang sangat dekat membuat Daniel menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar kecupan.
Akan tetapi, keinginannya itu terpaksalah harus ia pendam dalam dadanya, karena tidak mungkin ia melakukan sesuatu yang lebih saat ada orang lain di dekat mereka. Meski Heru hanya fokus ke jalanan, tapi tidak mungkin dia tidak melihat apa yang akan mereka lakukan nantinya.
Alisha terkekeh pelan, kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Daniel lalu berbisik dengan manja, "Tunggu saat kita di rumah."
"Memangnya kenapa kalau sudah di rumah?"
"Tidak ada!"
Daniel tersenyum seraya menggeleng pelan, "Untuk sekarang, aku masih harus menyelesaikan sesuatu, jadi belum bisa kembali ke rumah."
"Kau mau ikut?"
"Memangnya kau mau kemana?"
"Alisha, masalah terus saja datang silih berganti, dan tidak selamanya aku selalu ada untuk melindungi mu, walaupun aku ingin, tapi pasti akan ada halangan yang mungkin saja menghambat-ku."
"Jadi?"
"Aku ingin merekrut beberapa orang untuk menjadi pengawal-mu."