
"jadi sebenarnya yg menyebabkan ibu kecelakaan itu.. itu ken" ucap ibu anggita
Tring... Tring... Tring (suara dering hp Gadis)
"sebentar bu.. halo.." sela gadis sembari mengangkat teleponnya
"oke.. aku akan segera kesana"ucap gadis dan langsung menutup teleponnya
"maaf ibu.. tadi ibu bicara apa ?"tanya gadis sembari menatap ibu anggita
ternyata saat ibu anggita menyampaikan fakta tentang ken, dering telpon gadis terdengar lebih keras ketimbang suara ibunya.
itulah yg meyebabkan dirinya tidak mendengar ucapan ibunya.
"sebaiknya tidak perlu memberitahunya sekarang"batin ibu anggita
"bukan apa-apa sayang.." elak ibu anggita
"siapa tadi yang telpon?"tanyanya mengalihkan pembicaraan
"Daniel bu.. daniel memintaku untuk bertemu sekarang.." jawab gadis
"baiklah pergilah nak..temui daniel" suruh ibu anggita
"tapi bu.. ibu sama siapa disini kalau gadis pergi? emm... sebentar.. biar gadis telpon nando dulu" ucapnya yg langsung mencari nomer telpon nando dan hendak menelponnya
"tidak.. tidak usah sayang.. ibu gapapa sendiri disini" tolak ibu anggita
"tapi.." ucap gadis terpotong oleh suara ketukan pintu
TOK..TOK..TOK..
"Sebentar bu .. gadis mau bukain pintu" ucap gadis
gadispun beralih membukakan pintu "ceklek"
"Hah?!" ucap kaget gadis
gadis terkejut dengan apa yg dia lihat saat ini.
bahkan dia sampai bengong menatapnya. posisi gadis saat ini adalah terdiam shock dengan mata melotot dengan tangan yg menutup mulutnya.
"Gadis" sapa nando
"Gadis.." sapa suster tia yg berdiri disamping nando sembari menepuk bahu gadis
tepukan bahu suster tia ternyata mampu menarik kembali kesadaran gadis. dia pun akhirnya tersadar dari keterkejutannya.
Gadis segera mempersilahkan sepasang sejoli itu untuk masuk.
"ah.. masuk-masuk" pinta gadis
"gimana mau masuk kalo loe berdiri di depan pintu" ucap nando yg sukses membuat gadis 100% tersadar jika memang pria di depannya ini adalah nando si tukang tambal ban .. eh salah maksudnya .. tukang buat keributan.
"ck.. iya-iya.." ucap gadis sembari berjalan mundur
"nah gitu.." ucap nando yang membuat suster tia tersenyum
"kok suster tia bisa sama loe, dan suster.. kenapa pake baju santai? suster libur hari ini? kok bisa kesini bareng nando?.. hah!? jangan bilang kalo kalian.." tanya gadis yang sembari menatap nando dan suster tia bergantian
suster tia pun menarik tangan gadis, menjauh dari nando
"ssstt.. jangan bicara keras-keras gadis.." ucap suster tia sembari membisikan sesuatu di telinga gadis
"PACARAN!" teriak gadis yg serasa tidak percaya dengan apa yg dia dengar
"ssst.. uda dibilang jangan keras-keras ngomongnya" ucap suster tia
Gadis langsung berjalan kearah nando dan mulai mengamati penampilan nando saat ini
"loe ngapain sih" tanya nando yg merasa bingung ditatap oleh gadis
"suster yakin mau sama ni orang?" tanya gadis sambil melihat kearah suster tia
"hah?!apa maksud loe.. jelaslah dia mau..orang dia dulu yang."ucap nando terpotong karena tiba-tiba saja di bekap oleh tangan tia dimulutnya
"wow!" ucap gadis yg tanpa sadar, efek terkejut melihat kejadian di depannya ini
"jadi aku yg nembak nando duluan" ucap lirih suster tia
"WHAT!? suster.. suster duluan yg nembak?! hah!!wah gila.. ternyata suster Gercep juga.. wah.." goda gadis yg langsung membuat muka suster tia memerah malu
"dih.. apaan sih loe.. jangan ganggu pacar gue" kata nando sembari menggenggam tangan tia
"dih pake gandengan mau nyebrang lu bang" sindir gadis
"lah biarin dong! situ iri" sindir nando
mereka berdua berakhir dengan sibuk saling sindir. tapi akhirnya suster tia melerainya..
"sayang.. udah dong . kita kesini kan mau jenguk ibu anggita .. " ucap tia
hmmm.. entah ini melerai atau malah jadi makin nyindir kompor.. 😂
"WHAT?!! SAYANG?!" seru gadis yg langsung berlari kearah ibu anggita
"ibu.. nando sayang-sayangan didepan gadis.. nando duain gadi bu" rajuk manja gadis pada ibunya seperti anak kecil yg melaporkan tindak kejahatan temannya.. (Jahat?!" darimananya ya.. 😂😂 )
ibu anggita pun hanya tersenyum melihat tingkah gadis
"apaan sih loe, loe tuh yg selingkuhin gue" giliran nando yg merajuk dan sudah berdiri di samping gadis beserta suster tia tentunya
"jadi benar kalian pacaran?"tanya ibu anggita menatap nando
"iya tante" jawab nando
"Kok bisa? gimana ceritanya?" sela gadis
"panjang ceritanya .. ntar gue ceritain,, itupun kalo pembaca novel ini juga mau tau ceritanya .." ucap nando
"serah lu dah," ucap gadis
"sayang .. katanya mau pergi buat ketemu daniel" sela ibu anggita
" ah iya.. nando mumpung loe disini... bisa gak kalo gue minta loe sama suster tia buat jagain ibu bentar.." pinta gadis
" iya bisa.. eh iya, kalo gak salah loe kemarin bilang, ken gak pernah datang kesini lagi ya?" tanya nando
"iya.. ken menghilang nando" ucap lirih gadis
"ken hilang?! maksudnya?"tanya nando bingung
"kata daniel.. ken diserang waktu diperjalanan dan daniel sampai sekarang masih mencari orang-orang yg nyerang ken juga mencari dimana ken.. "jelas gadis
"hah?!kok..kok bisa?" tanya nando
"gue juga gak paham nando.. makanya sekarang, gue mau ketemu daniel buat tau cerita detailnya" jawab gadis
"yasudah cepatlah pergi bertemu daniel, gadis" suruh nando
"tapi kamu juga harus hati-hati gadis" sela suster tia
"iya.. gue nitip ibu ke kalian berdua ya.. kalo ada apa-apa cepet kabarin gue.. oke.." pinta gadis yang mendapat anggukan dari mereka berdua
"iya.. loe tenang aja.. tapi loe gapapa kesana sendiri? apa perlu gue anter?" tawar nando
Gadis pun menggeleng menolak tawaran nando
"gak.. gak perlu nando.. gue bisa naik taksi kesananya.. maaf ya gue mesti ngrepotin kalian" ucap gadis
" gapapa gadis.. kita gak keberatan kok" jawab suster tia
Gadis pun akhirnya pamit ke mereka berdua dan juga ibunya.
Gadis mulai bergegas berjalan keluar dari runah sakit dan mencari taksi untuk ke kantor ken.
Daniel meminta gadis untuk bertemu di kantor ken, karena Daniel mengatakan jika dia cukup sibuk hari ini, tentu saja efek dari ken yg tiba-tiba menghilang.
Gadis telah sampai di kantor ken.
gadis masih tetap terperangah melihat gedung kantor ken.
karena sebelum bertemu ken memang gadis pernah melamar kerja disini.
Gadis mulai memasuki gedung tersebut dan dia bertemu dengan receptionis disana
"permisi mbak.." sapa gadis
"iya ada yang bisa kami bantu?" tanya receptionis
"saya mau bertemu dengan daniel, boleh saya tau dimana ruangannya?" tanya gadis
"maaf anda siapa?" tanya receptionis
"saya gadis .. saya temannya daniel" jawab gadis
"nona gadis, tuan daniel sudah memberi pesan kepada kami.. baik mari saya antar " ajak receptionis
Gadis mulai mengikuti receptionis tersebut.
Gadis sebenarnya agak kesusahan mengikuti cara berjalan receptionis itu, karena receptionis itu tinggi dan berjalan sangat cepat sedangkan dirinya pendek ya mungkin sebenarnya gadis juga terhitung tidak begitu pendek tapi jika dibandingkan dengan tinggi receptionis itu tetap dia hanya sedadanya.
"cepet banget sih jalannya dikejar maling apa ya nih mbaknya...." batin gadis
"auw!" seru gadis kesakitan karena tidak sengaja menabrak tubuk receptionis itu
karena gadis sibuk jalan cepat mengikuti langkah kakinya, dia pun sampai tidak memperhatikan jika "si mbak" berhenti mendadak.
"ah maaf mbak" ucap gadis
" tidak apa-apa nona... sudah sampai nona, ini ruangan pak daniel, silahkan.. kalau begitu saya tinggal dulu ya.." pamit receptionis itu tersenyum
"ah iya.. terimakasih" angguk gadis yg juga tersenyum
Tok..Tok..Tok
Gadis mengetuk pintu ruangan daniel.
"ceklek" pintu terbuka
"nona gadis.. si.. silahkan masuk " sapa gugup daniel
Gadis pun memasuki ruangan daniel tapi gadis bingung melihat wajah daniel yg terlihat seperti ketakutan juga gugup.
"kok daniel takut gini.. kayak abis liat hantu.. hah.. jangan-jangan ruangan ini berhantu lagi" batin gadis yg parno sendiri sambil mengamati ruangan daniel
"Deg" mata gadis tiba-tiba saja tanpa sengaja beradu tatap pada orang yg duduk di ruangan itu
"siapa hantu ini .. eh bukan.. siapa orang ini" batin gadis bertanya
"mereka orang tua tuan ken nona" ucap pelan daniel yg serasa bisa membaca pertanyaan dipikiran gadis