
"Sorry.. sorry..." ucap siswi itu meminta maaf.
" Hem. Lain kali kalau jalan matanya buat liat juga, jangan cuma dijadikan pajangan. " ucap siswa itu sambil berlalu dari sana.
"Eh,..."
Ketika hendak menyela, siswa itu sudah melangkah jauh dari tempat ia berdiri.
"Cih, dasar..."
Siswi ini kembali melanjutkan langkahnya menuju toilet.
----------- ------------ ------------
Di lain tempat, tepatnya disekitar UKS. Seseorang berdiri tak jauh dari siswi yang juga sedang berdiri mengamati seseorang yang baru saja keluar dari ruang UKS.
"Dan Lo melupakan keberadaan gue diantara kalian, bit*h. Gue tunggu permainan Lo."
Seseorang tersebut bergumam dan melangkah kearah yang sama dengan jarak yang jauh setelah kepergian siswi didepannya agar tidak menimbulkan kecurigaan dari siswi tersebut.
------------ ------------ -----------
Di Lorong Kelas
Seorang siswa sedang berjalan dengan pandangan lurus dan rahang mengerat sarat akan emosi yang siap lepas kapan saja. Ekspresi wajah itu semakin jelas setelah bersinggungan dengan seseorang dari arah berlawanan beberapa waktu lalu.
"Jangan menyesal dengan permainan yang Lo mulai. Kali ini bukan hanya dia aja yang akan bermain, tapi gue juga akan bermain. Cukup dulu gue biarin Lo lari, sudah saatnya Lo berhenti dan ngakuin. Gue akan pastiin itu. Mungkin dia bermain untuk melindungi, tapi gak dengan gue. Lo renggut milik gue dengan paksa dan pergi tanpa rasa bersalah. Sekarang giliran gue juga bergerak."
"Maaf Sya.. gue udah nyakitin Lo saat itu. Tapi, gue janji akan tuntut dia untuk Lo dan keluarga Lo. Hanya ini yang bisa gue lakuin buat Lo. I'm so sorry dear. Maaf gue gak bisa hapus rasa ini, sampai saat ini pun Lo masih bertahta tinggi dihatiku, Sya."
Siswa ini terus melangkah pelan ke arah kelasnya berada.
------------ ------------ -----------
"Bang Ray.."
"Abang."
"Kenapa Gem?"
"Enggak, manggil aja. Mastiin beneran abang atau bukan, ternyata beneran abang. Mau ke kelas kan bang?"
"Hem."
"Yaudah bareng bang."
"Darimana Lo?"
" Biasa lah Bang.
"Mana ada, Lo tau sendiri itu gue gak suka pelajaran masa lalu. Bikin dehidrasi dengerinnya."
"Hem.''
"Syukur dech Lo percaya bang. Sorry gue gak bisa jujur, belum saat nya."
"Abang sendiri dari mana?"
"Lo gak liat kita ada dimana?"
"Hehehe."
Mereka berdua berjalan beriringan menuju kelas dalam diam. Tak berselang lama, mereka sampai depan pintu kelas dan masuk kedalam.
------------ ----------- --------------
Di UKS
TAP
TAP
TAP
Langkah kaki Gala semakin menjauh dari pintu. sedangkan didalam ruang UKS, Gemi masih menutup mata. Namun ia meneteskan air mata, Sesak.
"Kemarin Lo abai sama gue, kenapa tiba-tiba peduli ? Jangan lagi kasih harapan semu, ketika gue mulai memilih untuk menyerah dan berhenti melawan alur ini."
"Tuhan... Kenapa kau beri aku derita tak berkesudahan. Bahagia adalah pinta ku, tapi enggan kau capaikan. Jika memang tak ada bahagia untukku disini, maka bawalah aku pergi dari derita ini. Mungkin bahagia ku bukan disini.
Lelah rasanya."
Tes
Tes
Air mata Gemi jatuh kala ia meratap dalam diam kepada sang pencipta. Sakit tak berkesudahan terus saja datang satu demi satu. Layaknya oksigen, bisa dirasa namun tak terlihat. Bertahan sakit, pergi tapi belum selesai. Ini bukan hanya tentang dirinya sendiri tapi juga tentang dia, mereka, masa lalu, masa kini dan masa depan.
TAP
TAP
TAP
------------ ------------- -----------