
Ayo kembali, bel telah berbunyi."
"Iya bang."
Mereka berdua pun melangkah kearah kelas karena bel istirahat selesai sudah berbunyi. Sang Abang berjalan memimpin dengan kedua tangan di masukan ke saku celana, ikuti Gema dibelakangnya.
------------ --------- ------------
Sesampainya didepan UKS, Gala membuka pintu kayu itu dengan perlahan. Setelah pintu terbuka, tampaklah seorang siswi yang tak lain adalah pacarnya,Gemi. Gemi terlihat sedang tidur nyenyak di atas ranjang, padahal sebaliknya. Gala melangkah mendekati ranjang tersebut dan duduk di kursi jaga sebelah kiri ranjang. Ada rasa aneh yang tiba-tiba menyusup di dadanya ketika melihat wajah itu.
"Apa luka ini akibat kemarin? jika iya, seharusnya gue gak abai."
"Sorry..." ucap Gala lirih.
Gala merasa yakin jika penyebab luka itu adalah kejadian kemarin. Tak seharusnya dia mengabaikan permintaan tolong seseorang. Apa lagi pacar sendiri hanya karena tak ingin menyakiti hati Rhea dan berakibat buruk bagi orang lain. Terlebih orang itu ada hubungan dengannya. Dadanya terasa sesak.
"Selama ini aku menyangkal rasa ini dan selalu meyakinkan diri bahwa rasaku hanya untuk Rhea saja. Namun aku salah mengerti, takdir tuhan tidak ada yang tau dan tak bisa ditolak. Sekarang aku baru sadar rasa ini benar sudah memilihmu' maaf terlambat menyadari..."
"Bodoh."
"Gak seharusnya gue abai saat keadaan genting, maaf... "
"Tapi nyatanya Lo abai."
"Ah, Ponsel ku..."
Gala langsung mengambil ponsel di sakunya dan menekan tombol on/off. Ia membuka item riwayat panggilan dan pesan. Terdapat 20 panggilan tak terjawab dan juga juga 15an pesan singkat maupun voice note dari orang yang sama yakni Gemi. Dia membuka satu per satu pesan itu.
^^^Gal.^^^
^^^Gal.^^^
^^^Galaksi Alterio.^^^
^^^Tolong jawab!!^^^
^^^Tolongin gue Gal. Gue ^^^
^^^tadi nolongin anak kecil ^^^
^^^yang dipukulin preman.^^^
^^^Sekarang gue dikejar mereka.^^^
^^^Mereka ada 6 orang.^^^
^^^Tolongin gue please!! ^^^
^^^setidaknya jika bukan ^^^
^^^buat pacar Lo ini,^^^
^^^ minimal buat anak ini Gal...^^^
^^^Plissss..^^^
^^^Gue gak sanggup, kalo^^^
^^^cuma 1 atau 2 orang gitu gue^^^
^^^gak akan minta tolong..^^^
^^^Badan gue juga lagi kurang^^^
^^^sehat. Kasian anak itu^^^
^^^kalau gak di tolongin.^^^
Dan masih ada beberapa pesan lagi yang belum dibuka, Gala langsung membuka pesan suara.
^^^🔊 Tolong...^^^
^^^🔊 Mereka datang...^^^
^^^🔊 Tolong Gal...^^^
^^^🔊 Tolong...^^^
^^^🔊 Tolong...^^^
^^^🔊 Tolong...^^^
beberapa menit kemudian...
^^^waktu Lo yang berharga.^^^
^^^🔊 Gu..e.. bisa sendiri^^^
^^^ternyata, jadi gak perlu^^^
^^^bantuan Lo buat dateng.^^^
^^^🔊 Sorry.. jika Lo liat^^^
^^^ pesan ini cukup Lo^^^
^^^ abaikan. Gak penting^^^
^^^juga dan sorry lagi^^^
^^^ karena banyak notif ^^^
^^^masuk dari gue.^^^
^^^🔊 Thanks and sorry, ^^^
^^^ have a nice day.^^^
Semakin sesak rasanya, setalah tau bahwa benar luka itu juga karenanya. Andai kemarin ia tidak mengabaikan pesan itu, mungkin kejadiannya gak akan kayak gini. Gala menggenggam tangan Gemi yang berada di depannya.
"Enghh..."
"Akhirnya Lo sadar juga. Butuh apa? minum?"
"Di..ma..na.."
"Di UKS Lo sekarang."
"Lagi?"
"Iya? kenapa? Lo mau gue ambilin apa? biar gue ambilin."
".............."
"Loh, kok malah nutup mata lagi?"
"................"
"Masih pusing? perlu gue panggil dokter jaganya?"
"Stop pura pura peduli."
"................"
"Jawab Gemi."
"............."
"Jangan diem aja, please.... "
"Gak perlu."
"Ha?"
"Lo haus?"
"Stop."
"Gue minta..."
"Pergi."
"Gem..."
"Plisss."
"Gue..."
"Gue bilang pergi."
"Dengerin gue du..."
"Lo ngerti bahasa manusia gak."
------------ ------------ -----------