SURRENDER

SURRENDER
Part 13 Rapat Dadakan



"Jangan lupa laporannya juga dibawa ya kak, hehehe."


"Oke,BOS."


" Ish..."


"Hahaha."


TAP


TAP"


Gemi kesal mendengar tawa kak Lupi. Ia kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang pribadinya dengan kunci akses khusus.


Setelah masuk, gemi langsung menghidupkan komputernya dan membaca beberapa map laporan lebih detail. Karena sebelumnya ia hanya melihat melalui email yang dikirim sang asisten, Adeeva Thania. Ruangannya berada disamping kiri ruangan sang Bos. Hari ini kak Adev sedang izin pulang ke rumah orangtuanya di pulau Dewata, Bali. Orangtuanya saat ini sedang dirawat di Rumah Sakit, biasa lah penyakit lanjut usia. Makanya hari ini terpaksa harus turun langsung, Gemi biasanya hadir secara online jarang secara langsung karena keterbatasan waktu. Rapat dadakan ini akan dimulai dalam beberapa menit mendatang.


Tak berselang lama, terdengar suara langkah kaki mendekat diikuti suara ketukan pintu setelahnya.


TAP


TAP


TOK


TOK


TOK


"Masuk."


CEKLEK


CEKLEK


TAP


TAP


"Silahkan duduk." ucap Gemi sambil beranjak dari duduknya menuju Sofa ditengah ruangan.


"Baik." ucap serempak ketiga kepala penanggung jawab.


"Mari kita mulai rapat ini."


"Siapa duluan yang akan mulai terlebih dahulu?


" ............... "


TAK


TAK


Salah satu dari mereka bertiga yang bername tag Diandra S. mengajukan diri untuk memulai rapat dengan memaparkan laporan hasil kerjanya dalam pengelolaan usaha yang di bawah tanggung jawabnya,G&L Style.


"Silahkan."


Semua yang disana mulai fokus melihat map yang telah Kak Andra berikan dan juga layar proyeksi yang akan dijelaskan lebih detail.


"Jadi, sesuai yang sudah saya lampirkan dalam map tersebut, sudah jelas toko kita mengalami penurunan penjualan di dua pekan terakhir ini. Sedikit memang jika melihat data dari beberapa pekan sebelumnya. Namun, jika situasi ini dibiarkan dan berlanjut tanpa ada tindakan. Maka akan terjadi penurunan penjualan kembali. Hal ini tidak baik untuk kemajuan toko dimasa yang akan datang, ditambah toko kita ini tergolong baru dan pemula dalam dunia bisnis."


"Seperti yang kita ketahui, kita melakukan penjualan tak hanya secara offline, melainkan secara online juga. Sekarang ini media sosial sudah mencakup segala usia untuk menjadi penggunanya. Penurunan saat ini terjadi pada customer rentang usia 16 Sampai 21-an dan yang menjadi targetnya adalah kaum hawa. Seperti yang sudah saya kirimkan ke pada anda kemarin malam. Sekarang ini di dunia fashion sedang trending produk baru di berbagai sosial media. Dan inilah yang menjadi penyebab terjadinya penurunan di toko kita."


"Apa kita harus mengajukan kerjasama agar produk tersebut bisa masuk toko kita?"


"Secara pribadi saya sendiri sudah menjadi korban olshop tersebut. Jadi saya sarankan untuk tidak memasukkan produk tersebut ke dalam toko kita. Jika tetap di masukan yang ada toko ini akan semakin kehilangan costumernya karena mereka akan merasa dibohongi oleh produk yang tak sesuai. Dan untuk kita kita akan merugi dalam nominal juga. Dari pengalaman ini, secara tak langsung kita menemukan beberapa hal yang tidak sesuai dengan kriteria seleksi kita. Mulai dari bahan, tekstur, dan aspek lainnya"


"Saya setuju dengan kak andra, secara pribadi emang kurang meyakinkan. Ntah kenapa feeling saya mengatakan produk ini hanya akan viral dan bertahan dalam sepakan lagi, kalau dianalisis dari pengalaman."


"Menurut kak Andra, kalau kita iklankan produk sendiri bukan produk luar, gimana? Maksudnya kita buat produk baru dari toko kita, lalu kita pajang di toko dan juga kita publish di sosial media resmi toko?"


"Saya setuju dan mendukung. Sebenernya itu juga sempat terlintas dan ingin saya sampaikan. Tapi sudah di usulkan duluan oleh Bos."


"Bagus, berarti kita sepemikiran. Jadi fix buat masalah ini, bakal ada produk baru yang akan di louching akhir bulan ini. Nanti kita diskusikan kembali dalam waktu dekat mengejar deadline. Kabari kak Adev untuk waktu selanjutnya."


"Baik."


"Selanjutnya dari Cafe, bang Kenzo."


"Baik."


"Saya akan melaporkan tentang Pemasukan cafe. Pemasukan cafe stabil, cenderung meningkat Bos. Sesuai dengan target awal kita, pengunjung melebihi perkiraan. Kebanyakan dari mereka adalah usia 15-16 tahun sampai dengan anak kuliahan."


"Berarti kita berhasil menyelesaikan misi awal kita bang."


"Iya. Namun, ada sedikit kendala dalam pelayanannya."


"Pelayanan?"


"Iya. Semakin hari pengunjung yang datang mengalami peningkatan yang signifikan. kita sedikit kerepotan dalam menanganinya. Jadi saya ingin memberi usul, bagaimana kalau kita rekrut pekerja baru lagi di bagian pelayanan? Saya kasian melihat pekerja yang kita miliki, walaupun saya sudah sering ikut membantu, tetap saja kita mengalami kelambatan dalam pengataran ke meja pelanggan."


"Sebaiknya memang begitu, apalagi jika di akhir pekan dan hari libur. Kita ambil pekerjanya seperti cara awal, membantu mereka yang membutuhkan."


"Siap, tetap di seleksi kan?"


"Iya. tetap harus sesuai standar kompetensi kita."


"Satu lagi, karena banyak pelanggan yang tergolong usia remaja dan anak kuliahan, gimana kalau kita bangun spot foto di lorong yang masih kosong?"