SURRENDER

SURRENDER
Part 28 Gautama Hospital



" Tapi anak saya gimana? kalau istri saya baru terbang setelah beberapa jam. "


" Dengan anda memberitahu dimana tujuannya, selanjutnya saya yang akan mencarikan tempat tinggal dan keperluan lainnya. Uang kerja dan bonus dari saya sekeluarga akan saya kirim ke no. rekening baru yang akan saya urus dan selanjutnya akan jadi milik bapak. ''


" Terimakasih Nona. "


" Tak ada kata terimakasih, kita di tujuan yang sama. Masalah semakin bertambah, kita harus lebih teliti dalam bertindak. Jangan sampai ada yang terlewat dan salah langkah. Dan aku akan memilih memulai dari tempat dimana aku pertama masuk ke keluarga Sanjaya ini. "


" Gautama Hospital? "


"Ya, gue akan mulai dari sana. "


"Kapan Nona akan berangkat ke sana? "


"Secepatnya, mungkin besok pagi. "


" What?? besok pagi? sama siapa Lo? "


" Sendiri lah. "


" What? gue gak setuju ya. "


" Ya terus mau Lo apa? kan gak ada yang lain. "


" Lo kira gue apa? patung Pancoran. "


" Jadi maksud Lo, gue ngajak Lo gitu? "


" Yaps, benar sekali. Jadi gue ikut ya, Lo gak bisa gitu aja tinggalin gue disini. "


" Tapi ini bukan liburan Bin. Kita gak tau kemungkinan apa yang akan terjadi. "


" Gue tau ini bukan liburan, gue udh janji kan tadi. Kemana pun Lo pergi, gue akan selalu disamping Lo. Jadi gue.... " Bintang menatap Gemi dengan puppy eyes miliknya.


" Oke. Lo boleh ikut tapi... "


" Yes!! "


" Cih, gue belum selesai ngomong.. "


" Gue hanya butuh jawaban IYA aja kok. "


" Suka suka Lo aja lah. " Gemi melihat kearah pak Ricko yang ternyata juga sedang melihat kearahnya.


" Tidak perlu. Cukup do'akan saya dari sini dan beritahu apa saja yg mereka lakukan selama saya tak ada. "


" Siap laksanakan Nona. Jika ada yang perlu ditanyakan, silahkan hubungi saya. Saya selalu stand by 24 jam. "


" Terimakasih kasih atas loyalitas bapak kepada keluarga saya dan untuk saya pribadi. Anda masih mau membantu saya meski tau saya bukanlah anggota keluarga Sanjaya. Saya sudah selesai dan bapak dipersilakan meninggalkan tempat guna mempersiapkan perpindahan anda dari negara ini dan urusan lainnya. "


" Baik, saya izin undur diri. Terimakasih kembali juga Nona. "


Pak Ricko pun beranjak dari kursi, ia melangkah menjauhi meja menuju keluar ruang VIP tersebut. Ia pulang menuju ke kediaman keluarganya untuk mempersiapkan apa yang telah di sepakati beberapa menit yang lalu. Sedangkan Gemi dan Bintang masih duduk disana mengistirahatkan otak mereka dari syok akan informasi penting dari pengacara Gemi beberapa saat yang lalu.


" Bin, hidup gue kok gini amat ya. "


" Gue gak bisa berkata-kata juga. Otak gue yang kecil mungil ini terasa semakin menyusut saja. "


" Huft..... Apa gue bisa jalanin ini ya Bin? Secara keadaan gue yang gak ada harapan. Dan ada sisi lain gue yang memaksa gue buat menyerah. "


" Lo... harus optimis. Gue selalu disini, begitu pun juga mereka, orangtua Lo. Ini buat keadilan kalian. Jika bukan demi gue, Setidaknya demi mereka yang belum pernah Lo temui. Dengan terungkapnya ini, Lo tau bahwa Lo masih ada keluarga yang perlu Lo perjuangin. Jadi mari kita mulai semuanya dari sini, keluarga Lo dan kesembuhan Lo. Please. "


" Jawaban gue masih sama, gue terima ketetapan dan ketentuannya. Gue gak bisa berjanji bila nanti gue sendiri yng ingkar karena harus pergi. "


" Stop bicara ini, bila tak ada ujungnya. Gue gak bisa denger Lo bilang itu. "


" Gue gak ada maksud lain, gue hanya ngingetin. Gue juga akan terus berjuang untuk tetap bisa melihat sekitar, hingga batas terakhir gue. Setidaknya ku udah pernah berjuang.. "


" Anjirr.. itu lirik lagu. Hahaha. "


" Haha, terlintas aja di otakku. "


" Dasar korban patah hati. "


" Bodo ah, kayak situ aja kagak. "


" Hehehe.. Kita berdua kan sama ya... sama sama korban patah hati. "


" Huu.... makanya jangan jadi kacang. "


" Kok kacang sih? ini ngmongin hati. "


" Iya lah kacang, kacang yang lupa kulitnya. Hahaha. "


--------------- --------------- ----------------