
Gema pergi dari ruang keluarga dengan menghentak-hentakan kakinya karena kesal dengan Mamanya.
"Berasa anak pungut akunya. " batin Gema.
"Nah, pergi dia. Bikin kesel aja, itungan Mulu sama Mama sendiri. Anak siapa sih?"
"Anak Nyonya lah. "
"Aih, bibi ikutan aja. Lagi kesel ini, mau dipotong itu gaji? lumayan lah, mengurangi jumlah pengeluaran bulan ini. " Mama Gema berjalan menuju dapur meninggalkan Bi Inah diruang keluarga.
" Ah. Nyonya tunggu atuh Nyonya, Jangan di potong atuh. Nanti makan apa saya sekeluarga? " Bi Inah mengejar langkah sang majikan.
"Makan nasi lah. Emang bisa makan batu? "
" Ya enggak lah Nyah, kalo bisa tembok Nyonya udah bolong atuh. Di makan sama saya. "
" Ya tinggal itungan ntar sama saya. "
" Enggak Nyah, mana saya berani. Kasian keluarga saya kalau makan batu."
" Cakep. "
Mereka berdua, bawahan dan majikan sedang menyiapkan bahan makanan yang mau diolah.
" Nyah... "
" Hem."
" Mau tanya nih? "
"Apa? "
" Nanti Malem beneran, mau ada tamu ya. "
" Iya, putri saya. "
" Putri Nyonya?"
" Hah? putri Nyonya? calon mantu maksudnya? "
" Putri ya putri, saya kan tidak bilang mantu. "
" Kan Nyonya hanya punya Aden, Nona an sudah........ "
"Hampir saja.. "
" Iya saya tau. Yang datang adalah putri angkat saya, teman adek. "
" Ah, cantik gak Nyah?"
" Hehehe, lupa. Saya sudah tak sabar mau liat Nona..... "
" Gemi namanya. "
" Ah, iya Nona Gemi. "
" Namanya kok gak asing ya.... ah, namanya.. itu mirip dengan kakak. Kebetulan sekali, semoga dengan ini bisa mengobati rasa rindu Nyonya. " batin Bibi sambil mencuci bahan makanan yang akan diolah.
" Bi.. "
" Bi Inah."
" Eh, iya Nyah? "
" Kebetulan yang amat indah bukan? "
" Maksudnya?"
" Namanya sama dengan kakak, wajahnya pun sebelah dua belas dengan adek. "
" Iya kah Nyah? "
" Iya selama ini saya berdoa agar bisa melihat kakak lagi meski dalam mimpi. Namun Tuhan memberikan lebih dari yang saya harapkan. Saya bisa melihat kakak dalam wajah teman adek."
"Yang sabar Nyah, ikhlasin kakak disana agar tenang. "
" Saya sudah ikhlas,tapi rindu ibu pada buah hatinya sulit terbendung, Bi."
" Makanya dari itu saya amat antusias ketika mendengar dia akan datang. Saya ingin melihatnya secara dekat, memeluknya, menyentuh kulitnya secara langsung. Mengobati rasanya ini, apa yang tidak bisa aku lakukan pada kakak. Seandainya kakak masih ada mungkin sudah sebesar dia, Bi.."
" Hanya melihatnya dari Video call saja sudah membuat saya jatuh hati pada gadis itu. Seakan-akan ada perasaan yang membuncah dalam diri saya, saat melihatnya saya seperti melihat putrinya saya ada didepan saya. Biarkan saya egois menganggapnya putri saya, saya hanya ingin menikmati waktu seolah kakak masih ada diantara kita. "
"Saya mengerti perasaan Nyonya, namun saran saya hanya satu, berikan apa yang ingin Nyonya curahkan secara ikhlas. Jangan sampai Nyonya hanya memanfaatkan kehadiran saya setelahnya Nyonya jangan buang Nona sesuka hatinya. Karena kita tak pernah tau apa yg dialaminya. berikanlah dia kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, yang ingin Nyonya berikan ke kakak selama ini. Anggaplah iya benar benar Tuhan kirim untuk mengobati rindu Nyonya. Bahagiakan dia seperti Nyonya ingin membahagiakan kakak tanpa mengekangnya. "
" Iya, bik. Terimakasih atas sarannya, akan saya ingat. "
" Sama sama Nyonya, sebagai manusia sosial ya saling mengingatkan, menolong, memberi saran dan lainnya. "
" Hem. Sekarang kita lanjutkan lagi acara masak-memasaknya agar tepat waktu selesainya dan perfect. "
" Siap Nyah."
" Semoga selalu bahagia keluarga ini. "
------------------ ----------------- ----------------