SURRENDER

SURRENDER
Part 23 Seperti kayu Di Lautan Lepas



" Sebelum Lo pergi, gue mau cuma mau mengakhiri dengan benar. Gue mau ngucapin thanks udah hadir di hidup gue meski sebentar Dan thanks udah manfaatin gue buat nyakitin orang yang tulus ke gue. Thanks banget. "


Setelah mengucapkan itu, Gala berlalu dari hadapan Rhea. Dia bergegas menghidupkan mobilnya dan berlalu dari sana menuju rumahnya. Kenyataan menghantam Gala berkali kali dalam hitungan jam, menyakiti hati orang yang tulus padanya.


" Gal... "


" Gala... "


" Gal... "


" Gala. "


" Lo gak bisa gini ke gue, Gal... "


" Lo bakal nyesel Galaxy Alterio..... "


Rhea berteriak memanggil Gala sambil berlari mengejar mobil dan menghentikan mobil itu. Namun tak berhasil, Gala mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh.


" Awas Lo Gem. " batin Rhea.


Rencananya gagal sebelum Gemi hancur, belum genap sehari Rhea sudah sial beruntun.


" Sial..sial.. Gue harus susun rencana baru lagi. Siap siap aja Lo Gem, kehancuran menunggu mu. Hahaha.. "


Rhea berjalan kearah pintu gerbang sekolah, sambil menghubungi sopir keluarganya untuk menjemputnya pulang. Dia berjalan tanpa melihat sekitar, fokusnya hanya pada ponsel pintarnya saja.


BUGH


" Auh.. "


" Kalau jalan liat jalannya, jangan ponsel aja yang dipelototi. "


" Lo... "


" Napa muka Lo.. pucat gitu? gue bukan hantu kali, nampak tanah nih. "


" Gak kok. Lo denger..... "


" Ha? denger apaan? Jangan bikin horor, ini sekolah udah mulai kosong. "


" Ah, enggak. Lupakan.. "


" Syukurlah.. "


" O... Kenapa Lo gak bareng Gala, biasanya Lo anteng berdua mulu. "


" Lagi pengen sendiri aja, lagian gue juga ada acara abis pulang sekolah ini. Hehehe.. Kalo nempel terus disangka pelakor. Secara pacar gala penggemarnya banyak, abis lah aku. "


" Hahaha bisa aja Lo. "


" Gue masih pengen hidup lebih lama lagi kali. "


TIN


TIN


" Gue udah dijemput, duluan ya. "


" Iya. Gue juga udah ditunggu bang Ray. "


" Iya, nitip salam buat Gala sama yang lainnya ya. "


" Sip lah. "


" Bye.. "


Rhea berjalan menuju tempat mobilnya berhenti dan tak lupa melambaikan tangannya tanda dia pergi duluan. Setelah itu Rhea pun masuk kedalam mobil. Mobil tersebut pun mulai melaju dengan kecepatan lumayan, meninggalkan sekolah dan melaju kemana sang tuan ingin pergi.


" Untung aja dia gak denger ucapan gue tadi. " gumam pelan Rhea sebelum masuk mobil yang terdengar jelas oleh Gema meski itu suara yang pelan.


" Kata siapa gue gak denger, Sekalipun tadi pelan pun gue bisa denger dengan sangat sangat jelas. Kita liat aja kedepannya. " ucap Gema dengan seringai samar dari balik helm full face miliknya.


 ------------- -------------- ---------------


Di Cafe Memorable


Di salah satu ruangan VIP room Cafe Memorable terdapat meja dengan total empat kursi, dua kursi berhadapan dengan dua kursi disisi lainnya. Di sana telah berisi dua gadis yang duduk berdampingan, mereka menunggu seseorang yang memiliki janji dengan mereka.


" Gem... "


" Hem. "


" Kira kira Lo tau gak apa yang bakal dibahas sama pengacara orangtua Lo. "


" Gak. Tapi feeling gue bilang ini penting, secara pak Ricko itu hanya beberapa kali saja di menghubungi. Itu pun selalu ada sangkut-pautnya sama pembacaan surat warisan orangtua gue. "


" Warisan itu kan punya orangtua Lo kan, ya otomatis bakalan pindahnya ke Elo dong. Secara Lo anak tunggal, tapi kenapa keluarga Medusa itu juga ikutan ribet sama nih warisan? "


" Gue kurang paham ginian, mungkin aja karena kepala keluarga Medusa itu masih saudaranya bokap. Jadi mereka ngerasa perlu dilibatkan dan mendapatkan sebagian warisan tersebut. Gue pribadi gak masalah, asal gak ngusik gue ya fine - fine aja. Gue ikutin permintaan terakhir bokap nyokap, sekalian gue harus pergi dari rumah peninggalan mereka. Seperti ucapan little Medusa kepadaku. "


" Tenang kalaupun Lo diusir dari sana, gue siap nampung Lo. "


" Eh buset. Nampung nampung, dikira gue tunawisma gitu. Gue masih sanggup buat cari rumah sepetak dua petak mah. "


" Iya mampu. Giliran suruh berobat ogah-ogahan. "


" Gue bukan ogah-ogahan. Cuma gue udah lelah, hidup terombang-ambing seperti kayu dilautan lepas. "


------------ --------------- -------------------