SURRENDER

SURRENDER
Part 11 Pulang Bareng



"Gem."


"Eh,..."


"Semoga aja dia gak liat gue lagi liatin Gala."


"Gimana? udah sembuh Lo?"


"Udah Gem."


"Gue anterin pulang mau?"


"Gak usah. Gue biasa pulang sendiri, Gem."


"Jangan manggil gue 'Gem' juga dong. Gue tadi manggil Lo 'Gem' masak Lo manggil 'Gem' juga. Berasa manggil diri sendiri gue."


Gema mematikan motornya, namun ia tetap duduk di atas motor sambil berbicara.


"Apa mau dikata, nama panggilan orang ke kita sama emang sama. Gem Gem atau huruf G nya di hilangi jadi Ema Emi?"


"Ya kali Ema Emi?"


"Ya terus?"


"Gue aja yang ganti."


"Gue aja. Lo bisa panggil gue Dhya biar beda."


"Oke-oke. Gue juga apa perlu ganti nama?"


"Gak perlu, biar gue aja Lo gak perlu."


" Ya udah, terserah Lo. Kalo Lo mau panggilan lain untuk gue."


"Eja."


"Oke, gue terima."


"Hm."


"Gue seneng bisa ngobrol dan tatap muka sama Lo."


"Lo tau, gue seneng bisa ngobrol gini sama Lo."


"Kenapa bisa gitu?"


"Entah. Mungkin karena nama kita saling mirip."


"Berasa saudara kan.."


"Hm."


"Gak berharap, cuma jika benar pun gue ikhlas. ntah Lo atau gue yang jadi kakak nya, gak perduli gue. Jika Lo bener kakak gue, gue jauh dari kata seneng banget. Namun kenyataan tetaplah kenyataan, yang pergi biarlah pergi. Kenangan dan Rindu tetaplah tersimpan di hati. Gue berharap saudara gue hidup dalam diri Lo adalah Hal paling gila yang pernah terlintas di kepala gue."


"Jadi gimana? mau gue antar?"


"It's oke, gue lagi nyantai kok. Lagi gak pengen buru sampai rumah, sekalian jalan-jalan."


"Gak deh."


"Ayolah... gue lagi butuh kawan main dan Lo secara gak langsung Lo juga lagi butuh tumpangan anggap aja gitu. simbiosis mutualisme bukan."


"Ya udah kalo Lo ngebet mau nganterin. Gue terima tawaran Lo."


"Serius?"


"Kenapa? ya udah gue berubah pikiran. Gue gak ja..."


"Jangan elah, gue takut salah denger aja tadi. Ayo naik, ntar kesorean Lo nyampek nya."


"Hm. thanks and sorry."


"Sans, ini saling mutualisme."


"Sa ae Lo. Mentang-mentang anak IPA materinya pun digunakan di segala lini."


"Berarti gue berhasil jadi murid karena bisa mempraktekkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari."


"Iya in biar cepat."


Setelah itu Gemi pun naik ke motor gema. Setelah Gemi aman diatas motor, ia pun mulai menghidupkan mesin motornya kembali.


"Mau mampir kemana dulu?"


"Hari ini agenda gue ke toko."


"Alamatnya?"


"Jl. Xxx. no.11. Jakarta xxx."


" Alamat di terima, ready?"


"Ready."


"Oke, meluncur."


Motor Gema pun melaju meninggalkan lingkungan sekolah dengan cepat membelah jalan yang penuh kendaraan lalu lalang. Melihat punggung gema, mengingatkan Gemi rasa pulang ke rumah. Rasa yang dulu sempat ia rasakan. Ia menghela nafas dan mulai menikmati perjalanan menuju tempat tujuan.


Beberapa menit kemudian, mereka berdua pun sampai di parkiran sebuah bangunan toko yang bisa dibilang besar. Gema mengakui betapa Starategis dan estetik nya bangunan ini mampu menarik mata orang diluar sana dalam sekali liat. Dia juga mengakui bahwa dia sudah lama tinggal di kota ini dibandingkan Gemi, tapi kenapa dia tidak pernah melihat tempat ini sebelumnya.


"Recommended sih ini untuk nongkrong."


''Lah malah bengong, ayo.."


"Eh, ayo-ayo."


 -------------  ----------- ------------