
Seorang gadis sedang menatap tampilan dirinya didepan cermin disudut kamar, tampak beberapa luka lebam disana. Penampilannya terkesan biasa tak mencolok sama sekali. Sifatnya yang cuek, pendiam, sedikit dingin membuatnya terkesan tertutup. Setelah selesai dengan tampilannya, ia lalu keluar dari kamar. Mulai menuruni anak tangga satu persatu, melewati meja makan tanpa memperdulikan beberapa pasangan mata melihat ke arahnya. Ia terus melangkah kearah pintu utama rumah, keluar melewati garasi, taman mini hingga keluar pagar tinggi menjulang. Hingga kakinya berhenti tepat di halte tak jauh dari rumahnya.
Tak berselang lama, bus pun datang dan berhenti tepat didepannya. Pintu terbuka dan ia pun masuk kedalam dan duduk di kursi favoritnya, kursi paling belakang. Bus mulai bergerak membelah jalanan kota, ditemani pemandangan pagi, lantunan musik dari earphone yang terpasang. Waktu berjalan dengan cepat, bus mulai melambat dan berhenti tepat di halte dekat sekolah. Para penumpang yang merupakan para siswa/i mulai turun dan melangkah cepat memasuki gerbang sekolah menuju kelas masing-masing.
Lain hal dengan gadis berhoodie hitam yang berjalan santai di lorong kelas, meski waktu sudah menunjukkan pukul 07.30 wib. Bel sekolah pun sudah berbunyi beberapa menit yang lalu setelah ia melewati gerbang masuk sekolah. Tetapi itu tak membuatnya berjalan tergesa, justru ia tampak menikmati setiap langkah kakinya. Langkah kaki itu akhirnya berhenti tepat didepan sebuah pintu dengan papan penanda bertuliskan XII IPS 1. Ia langsung membuka pintu tersebut dan masuk tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
CEKLEK
Gadis masuk dan langsung berjalan ke arah tempat duduknya, tanpa memperdulikan tatapan guru dan murid lain yang melihat ke arahnya.
"Gem, jam berapa sekarang?" tanya guru dengan nada tertahan menandakan amarah yang tertahan.
Gemi atau lengkapnya Aadhya Gemintang itulah nama gadis berhoodie yang baru saja masuk ke kelas.
Gemi terus berjalan sambil menundukkan kepalanya, seperti menghindar dari pandangan mata sekitar. Setelah sampai didepan bangkunya, ia lantas mendudukkan dirinya di bangku tersebut. Guru perempuan yang sedari tadi berdiri didepan papan tulis menjadi semakin marah atas ketidaksopanan salah satu muridnya. Namun, beliau lebih memilih melepas kemarahannya dan berjalan mendekati muridnya itu.
Tap
Tap
Tap
Bunyi langkah sepatu terdengar ditengah suasana hening dalam kelas.
"Gemi....."
"Iya, buk." jawab Gemi dengan pelan sambil menatap guru tersebut.
Guru dan murid kelas lainnya terkejut melihat luka lebam di wajah Gemi.
"Astagfirullah..kenapa bisa banyak luka di wajah mu, Gemi? jelaskan pada ibu nak!"ucap guru tersebut
"Gak kenapa-kenapa Bu, jatuh kemaren bu."
"Saya bukan orang bodoh yang bisa kamu bohongi ya. Saya tau itu bukan luka jatuh, itu luka pemukulan."
"Pemukulan itu."
"Ya sudah kalau tidak percaya. Saya bilang jatuh ya jatuh." Gemi tetap kekeuh dengan jawabannya.
"Baiklah jika tidak mau jujur, berdebat dengan mu gak akan selesai dan menang sampai jam saya selesai pun. Mending kamu ke UKS sekarang, minta obat sana."
"Tidak perlu Bu, ini sudah di obati dan saya tetap disini."
"Tapikan kamu perlu....."
"Tidak perlu."
Huft...
Sang guru hanya bisa menghela nafas menghadapi murid keras kepala.
"Oke terserah kamu. Kurangilah keras kepalamu itu demi kebaikanmu sendiri."
"Keras kepala sudah bagian dari saya, baik atau gak nya itu sudah urusan saya. Saya tau apa yang saya lakukan. Resiko itu saya yang nanggung bukan anda. Dan..."
"...terimakasih."
Guru tersebut hanya bisa menghela nafas lagi dan lagi. Beliau memilih kembali ke depan kelas untuk melanjutkan pelajaran yang tertunda daripada harus mendebat salah satu pentolan kelas dan sekolah.
"Baiklah anak-anak, mari kita lanjutkan pembelajaran kita."
"Yah...." seru semua anak murid terdengar riuh. Mereka tadinya berharap akan lama penyelesaiannya, tapi realitas mematahkan ekspetasi.
"Diam."
"Kembali ke pelajaran kita tadi. Pada akhir kependudukan Jepang di Indonesia membuat Ekonomi Indonesia sangat kacau, hal ini disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut: 1. Inflasi yang tinggi......"
Pelajaran pun berlanjut hingga bel istirahat pertama berbunyi.