SURRENDER

SURRENDER
Part 8 Menang



"Dengerin gue du..."


"Lo ngerti bahasa manusia gak."


"Gue cuma mau nemenin Lo itu aja"


"Gak butuh, lebih baik Lo pergi dari sini."


"Tapi Lo sendirian disini."


"Gak perlu, sejauh ini gue sendiri dan gue masih hidup sampai detik ini. Jadi ada atau tidaknya Lo itu sama aja bagi gue. So, stop buang waktu berharga Lo buat orang gak penting ini."


"Eh, Lo ngmong apaan sih. Lo itu....."


"Nyatanya itu yang selalu lo bilang ke gue. Jadi bersikap lah seperti biasanya."


"*Jangan ganggu gue bisa?"


"Lo itu cuma buang-buang waktu berharga gue."


"Lo itu gak sepenting itu ya buat gue."


"Gak penting*."


"Itu..."


"Gue cukup tau diri."


"Jadi mulai sekarang, apapun yang gue lakuin dan kerjain itu gak ada hubungan dan urusannya sama Lo."


"Gak bisa gitu, jelas jelas Lo ada hubungan dan urusan sama gue. Lo lupa Lo pacar gue?"


"Pacar? sejak kapan? bukannya pacar Lo si Rhea?"


"Itu..."


"Stop."


"Berhenti berpura pura. Bersikap lah seperti biasanya, itu jauh lebih baik."


"Karena nyatanya kita gak sedekat itu untuk saling peduli."


".............."


"Lo pasti haus?"


"Gak."


"Lo..."


"Cukup, pergilah. Sebentar lagi bintang bakalan balik kesini. Kalo sampai dia datang dan Lo belum pergi. Lo pasti tau apa yang akan dia lakuin, jadi pergilah. Karena gue gak akan bisa buat cegah dia. Itu udah jadi kesepakatan gue sama dia." ucap Gemi lagi sebelum ia menutup mata kembali.


"Oke gue pergi. Tapi pulangnya nanti bareng gue ya?"


"Gue bisa sendiri."


"Pulang bareng gue pokoknya."


"Gak."


"Iya."


"Gak."


"Jawaban gue masih sama, sekali enggak tetap enggak."


"Iy........."


"Shut up. Berhenti mendebat dan keluar sekarang atau gue yang keluar?"


"Lo gila hah? Lo itu masih sakit, gak usah aneh-aneh deh. Main ngancem ngancem gitu."


"****. Bener bener Lo ya.."


"Ngomongnya...."


"Lo pergi atau gue pergi S.E.K.A.R.A.N.G."


"Lo gak bis....."


"Oke, gue pergi." Gemi mulai menurunkan kakinya dari bangsal tidur.


"Stop.. kembali ke ranjang. Gue yang akan keluar, Lo tetep disini istirahat."


"Lo menang Gem untuk kali ini. Tapi besok dan seterusnya jangan harap Lo bisa."


"Terserah."


"Hem. Lain kali juga jangan ngomong kasar lagi bibirnya. Gue balik ke kelas dulu, lekas sembuh pacar."


"Cih, pacar.."


Namun tak ada respon sama sekali dari Gemi. Jujur Gala ngerasa sedih dan sesak secara bersamaan, keadaan berbanding terbalik sekarang. Selama ini dia tak pernah merasakan rasa seperti ini. Ditambah lagi dengan penolakan beberapa kali. Mungkin ini balasan atas perlakuannya dan juga awal memperbaiki hubungan tanpa arah ini.


CEKLEK


CEKLEK


Gala keluar dari ruangan itu dan tak lupa menutup pintunya kembali. Dia berjalan pelan menjauh.


TAP


TAP


TAP


Gala berjalan menjauhi UKS menuju kelasnya dengan pandangan lurus ke depan sambil mengucapkan kata-kata.


"Haha...aku beneran sudah jatuh. Sekarang gue tau apa yang gue pilih. Jadi, siapkan dirimu untuk menerima rasa ku sepenuhnya yang seharusnya kamu dapatkan dari awal, sayang..."


"Sayang? astaga terlalu cepat bukan. Tapi entah kenapa aku ingin... astaga... astaga... rasa gak bisa dijelasin... gak sabar liat senyum kamu seperti awal masuk sekolah."


Gala sambil terus berjalan dengan senyum samar. Tak jauh dari pintu keluar UKS, ada seseorang yang mengepalkan tangannya kuat mendengar kata-kata yang diucapkan Gala.


"Gak akan gue biarin Lo bahagia, Gem. Sekalipun dia juga akan terluka. Dia ingkar ke gue demi Lo, gue gak ada alasan buat gak bikin dia terluka. Meski orang itu gue sayang Tapi demi dendam ini gue harus bisa. " gumam siswi itu pelan dengan tangan mengepal.


Setelah melihat Gala sudah jauh, siswi itu pun keluar dari balik tembok dan berjalan di lorong yang sama dengan Gala. Namun di persimpangan lorong siswi ini memilih menuju toilet bukan lorong menuju kelas agar tidak menimbulkan kecurigaan Gala bila tiba-tiba melihat kebelakang dan ada dia disana. Ketika siswi ini hampir sampai toilet, siswi tersebut menabrak seseorang ketika Gala sudah masuk ke kelas. jadi dia tidak melihat kejadian itu.


BRUK