SURRENDER

SURRENDER
Part 4 Sepenggal Kisah



"Jangan sampek Lo ngalamin kayak gue dulu. Camkan itu." ucap Ray sambil melangkah pergi dari tepi lapangan.


" ............... "


"Eh, Ray... Ray..."


" Tunggu gue bang.. Bye para beban dunia." teriak Gema sambil pergi mengejar Abang sepupunya tak lupa senyum mengejeknya.


" Sialan Lo, dasar beban orangtua."


"Fu*k." balas gema dengan ucapan tanpa suara disertai gerakan jari tengah kearah para sahabatnya.


Suasana lapangan menjadi hening setelah kepergian kakak beradik itu. mereka tak tau apa maksud dari kata kata Ray, mereka memang sahabat namun Ray adalah orang yang tertutup. Apalagi mereka belum lama ini bertemu kembali sejak kepindahan Ray, yang membuat mereka hanya bertukar kabar lewat handphone jarang bertemu face to face.


"Gal."


"Hm?"


"Lo gak ada rasa apa gitu sama dia?" tanya Bumi tiba-tiba. Memang penghancur suasana.


Deg


Bugh


"Sakit setan." pekik Bumi atas pukulan sang kakak.


"Lagian pertanyaan Lo itu bikin spot jantung aja. Noh liat muka si Gala , badmood langsung kan."ucap Asa dengan santai tanpa rasa bersalah aksi pemukulan tiba-tibanya.


"Ya kan kan secara pribadi gue penasaran,.."


"Tapi liat sikon dong."


"Tau ah. kesel gue sama Lo bang."


"Dih, Napa jadi Lo yang kesel. seharusnya itu onoh yang kesel. "


"Bodo."


"Stop. Lo berdua bisa diem gak sih. berisik tau. " ucap Gala sambil beranjak pergi kearah berlawanan dari 2 sahabat sebelumnya.


"Lah kita ditinggalin..."


"Gara mulut lemes Lo tuh."


"Bukan salah gue ya, semua itu harus ada kepastian."


"Suka mu lah Bum." Asa pun ikutan pergi menuju tempat ganti meniggalkan sang adik mengikuti jejak Gala ke ruang ganti


"Kok gue ditinggal sih bang, keknya dia tu bukan Abang gue deh. kembar tapi gak pernah bisa sepemikiran. ish... ish..." ucap bumi kesal sambil pergi meninggalkan lapangan menuju tempat ganti sama seperti sang Abang.


Sebenarnya Ada bukan tak sepemikiran dengan sang adik, tapi dia lebih cenderung tak mau ikut campur. Biarkan itu menjadi urusan mereka. Bila diperlukan bantuan, maka ia akan ikut campur. Terutama bila itu ada sangkut pautnya dengan saudara, keluarga dan orang terdekatnya.


 


Suasana hening dengan ditemani semilir angin, kakak beradik ini duduk di bawah pohon rindang.


"Bang.."


"Hm?"


"Maksud omongan Lo tadi apa bang?"


"Nyesel selalu diakhiri dan gak bisa balikin semua jadi semula Lagi.."


"Dulu, gue selalu dingin, cuek, bodo amat dan nyakitin seseorang dengan kata-kata pedas. Dan puncaknya gue deketin cewek lain, padahal gue punya dia. Lo tau Gem? dia milih mundur dengan senyuman dan pergi jauh. Jauh ke tempat yang gue sendiri bahkan gak bisa bawa dia balik..." ucap Ray lirih.


"Dihari itu, gue ketemu dia di tempat janjian kita, tempat pertama kali kami berdua bertemu. Gue liat kekecewaan di matanya untuk pertama kalinya, biasanya hanya ada binar bahagia disana. Dia bilang ke gue, kalau dia mundur dan gak bakal nunjukin wajahnya lagi..."


"... Malaikat mencatat dan Tuhan mengabulkannya, gue gak bisa liat dia lagi. Selamanya."


Huft....


"Dia gak selamat dalam perjalanan pulang setelah pertemuan itu. Dan itu jadi pukulan terberat gue sebelum akhirnya gue mutusin pindah kesini..."


Suasana hening dan sendu, Gema terdiam mendengar cerita masa lalu sang abang. Mereka memang sepupu tapi gema tidak tahu sedalam itu luka masa lalunya. Ray adalah sosok tertutup tak ayal kepada keluarga sendiri. Mereka tinggal di kota dan sekolah yang berbeda. Baru 2 tahun ini, keluarga Ray dan Gema tinggal di kota yang sama.


"Gue gak ngelarang Gala atau pun yang lainnya memiliki hubungan percintaan. Gue cuma ngingetin sebagai temen, agar apa yang gue alami gak Lo pada alami dikemudian hari." ucap Ray kembali sambil melihat keatas guna menghalau air matanya yang mulai merebak.


"Sorry buka luka lama Lo bang.. dan thanks buat nasehatnya. Gue akan ingat itu semua. "


"Thanks juga udah mau dengerin, lumayan lega. Cukup kamu aja yang tau ini. Bila tak bisa di kasih tau, maka biarkan dia merasakannya."


"Baik."


"Ayo kembali, sebentar lagi habis waktu istirahat."


"Ayo bang."


Mereka berdua pun beranjak dari kursi dan berjalan berdampingan menuju tempat ganti.


 


Di Tempat Ganti,


"Gal.."


"Hm."


"Sorry..."