SURRENDER

SURRENDER
part 2 mimisan



Pelajaran pun berlanjut hingga bel istirahat pertama berbunyi.


Tet


Tet


Bel istirahat telah berbunyi, hampir semua siswa/i berhamburan keluar kelas masing-masing dengan tujuan masing-masing. Ada yang pergi untuk mengisi perut kosong mereka, pergi ke perpustakaan, pergi kearah area hijau sekolah untuk sekedar duduk santai dan lainnya. Namun ada juga yang memilih tetap tinggal di dalam ruang kelas. Gemi salah satunya dan saat ini ia sedang mendengarkan rengekan seorang siswi untuk pergi ke kantin yang sudah di tolak mentah-mentah olehnya.


"Gem,"


"Hem." gumam Gemi tanpa menoleh lebih memilih fokus ke novel yang ia baca.


"Gemi?."


"Ya."


"Emii?"


"........"


"Em Em..."


"Hn."


"Gemiiiii..... "


"APA?."


"Gemintang?"


"B.I.N.T.A.N.G A.R.U.N.A." eja Gemi menyebut nama lengkap gadis itu, ia mulai kesal sekarang.


Bintang Aruna, biasa dipanggil Bintang atau Runa. Ia adalah teman paling dekat dari Gemintang.


Brak


"Apa mau Lo hah?" tanya Gemi kesal sambil menghentakkan novelnya ke meja dan menatap tajam Bintang.


"Hehehe.." hanya itu yang keluar dari bibir Bintang.


"Apa?."


"Kantin yuk?"


"Gak."


"Gem, kantin yuk. Emang gak laper tah?"


"Gak. Kenyang gue denger suara berisik Lo."


"Iss, Sekali ini aja ya ya?."


"Jawabannya masih sama Bin, mau ampek suara Lo abis juga tetep sama jawaban gue."


"Serius nih, gk mau ikut? nyesel ntar loh."


"Hem."


"Ge....."


" BIN...."


"Oke-oke, gue sama yang lain aja. hehehe "


"........"


Akhirnya Bintang menyerah dan memilih meninggalkan kelas menuju kantin, karena perutnya sudah berdiscoria untuk di isi segera.


Kala tubuh ini terpuruk, mungkin hanya harapan dan angan-angan yang tersisa. Berpura-pura lah solusi terakhirnya.


Sepeninggalan Bintang, Gemi meletakkan novelnya dan menenggelamkan kepalanya dalam lipatan tangannya. Saat ini kepalanya Pusing dan berdenyut hebat ia rasakan. Sejujurnya Gemi lelah memakai topeng ini, pura-pura baik baik saja padahal Sakit, pura-pura tersenyum aslinya menahan tangis, dan berpura-pura kuat tapi rapuh nyatanya. Air matanya tak sadar telah menetes seiring sakit yang semakin mendera.


Tiba-tiba, Gemi merasa ada yang mengalir di hidungnya. Gemi lantas langsung menyentuhnya. Ketika disentuh, ternyata benar ada cairan.


"Gak mungkin ingus,pasti itu lagi."


Dengan posisi kepala masih di atas meja, Gemi menempelkan kembali ujung jari telunjuknya dan melihat ujung jarinya memastikan isi pikirannya benar.


Tes


Tes


Darah segar menetes dimeja Gemi dengan tempo yang lambat. Pemilik tubuh sudah tak sadarkan diri beberapa detik yang lalu. Karena posisi duduk Gemi, darah yang sudah menetes tak terlihat walau dari dekat tertutup uraian rambut Gemi sendiri.


Beberapa menit kemudian...


CEKLEK


Pintu kelas terbuka, masuklah Bintang sambil membawa air mineral dan sebungkus roti di kedua tangannya. Ia berjalan mendekati tempat Gemi duduk dan mulai memanggil namanya.


"Gem."


"Gemi. "


"Gemiiiii. "


" ........ " tetap tak ada jawaban dari sang sahabat.


"Apa dia tidur ya? tapi, tumbenan banget dia tidur? Juga an gue cuma sebentar perasaan, dia gak se ***** itu perasaan." pikir Bintang sambil mengusap dagunya.


Setelah berfikir dan bertanya-tanya, ia dengan segala keberaniannya mulai menggoyangkan badan sang sahabat. Tapi, tak ada respon sama sekali. Ia mulai berfikir negatif dan melihat lebih dekat lagi menyingkirkan untaian rambut dari wajah Gemi. Matanya melotot kala melihat wajah bagian kanan sudah pucat pasi, ditambah hidung Gemi yang mengeluarkan darah segar dan nampak beberapa tetesan darah di atas meja.


"Astaga. Gemi!!" teriak Bintang spontan.


"Tolong........."


"Tolong........."


"Woy yang di luar, siapapun. Tolong gue...."


Bintang berteriak kencang agar orang yang melintas diluar kelas mendengarnya, sambil tangannya membersihkan tetesan darah yang menempel di pipi Gemi. Hingga....


CEKLEK


"Ah, terimakasih tuhan."


"Apa?"


"Kebetulan Lo masuk Lex, tolongin gue bawa Gemi ke UKS, Segera!." pinta Bintang sambil menarik tangan siswa yang kebetulan masuk ke kelas, Alex R. nama yang tertera di seragam sekolahnya.


''Tunggu dah, main tarik tarik aja. Ada apaan emang sama si Gem... " ucapan Alex terputus.


"Eh, Napa tangan Lo ada darah? darah siapa? elo? atau..."


"Stop, ntar aja tanya menanya. Tolongin temen gue dulu, buru!."


"Iya-iya, sabar. Emangnya kenapa si Gem.."


"Astaga."


"Run, Jujur Lo sama gue, Lo apain si Gemi ampek begini coba wujudnya?" tanya Alex yang terkejut melihat wajah Gemi yang lebih pucat dari yang tadi pagi ditambah ada bercak darah disana.


"Kalo ada masalah selesain dengan cara baik baik dong, jangan ampek berdarah darah gini."


"Gue..."


"Ya Tuhan, ini gimana coba. Apa sih masalah Lo pada berdua, perasaan gue amati baik baik aja. nah siangnya malah berdarah." ucap Alex yang masih mengomel sambil mengamati Gemi.


"Bin, Jawa..."


" Stop lex. Ntaran kalo mau ngomelnya, buruan bawa Gemi ke UKS. Lagi genting gini si ale ale sempet ceramah. Stop nanya nanya unfaedah. Intinya bukan gue, karena gue baru aja balik dari kantin. Titik dilarang menyanggah. Paham?"


"..."


"Pahamlah, masak gak. Jadi cus buruan angkat ke UKS." ucap Bintang memotong kata kata yang akan Alex lontarkan kembali. Runtuh sudah rasa khawatirnya tergantikan rasa kesal sampai ke ubun-ubun.


"Ingetin gue buat santuk in nih pala si Ale Ale ke meja guru. emosi gue." gumam Bintang sambil melangkah keluar kelas guna mengosongkan lorong.


"Ish.. mulai panas dia kayaknya. Tanya sendiri jawab sendiri..."gumam Alex sambil mengangkat tubuh Gemi dan berjalan tergesa mengikuti Bintang dari belakang.


See you next time, semoga suka!!!


__________ _________________ _________________