
"Ish.. mulai panas dia kayaknya. Tanya sendiri jawab sendiri..."gumam Alex sambil mengangkat tubuh Gemi dan berjalan tergesa mengikuti Bintang dari belakang.
Saat sudah keluar kelas Bintang sudah lumayan berjarak dari dia karena Bintang berlari, akhirnya Alex pun ikut berlari membawa tubuh Gemi ke UKS. Karena ini jam istirahat jadi lorong menjadi ramai. Mereka berlarian tanpa mempedulikan tatapan bingung penghuni sekolah tak jarang Bintang berteriak menyuruh orang-orang menyingkir dari lorong.
"Tolong menyingkir!! "
"Awas." teriak Bintang meminta penghuni sekolah menepi dari lorong.
"Emergency woy ini!!" teriaknya kembali sambil terus berlari, membelah lautan manusia yang sedang mengobrol ria menuju tujuan masing-masing.
Sesampainya mereka di UKS, Alex langsung membaringkan tubuh Gemi ke tempat tidur UKS. Dokter yang sedang jaga langsung mengambil alih. Yang tersisa di ruangan hanya dokter, Gemi dan Bintang, karena Alex memilih kembali ke kelas melanjutkan sisa jam istirahat begitupun anak PMR yang memang sedang bertugas pun meninggalkan UKS seperti biasanya tiap kali dokter sudah mengambil alih pemeriksaan. Gemi adalah siswi yang sudah menjadi penghuni tetap UKS. Setelah menunggu beberapa saat,Dokter pun selesai memeriksa.
Huft...
Dokter perempuan itu menghela nafasnya setelahnya sambil merapikan peralatannya.
"Kondisi tubuh saat ini terserang demam akibat kelelahan. Ini gak baik buat Gemi, Run." ucap sang dokter.
"Ya Tuhan, lantas harus bagaimana? apa perlu rujukan ke RS dok?" tanya Bintang sambil mengusap wajahnya naik turun, tampak jelas ia sedang gusar dengan situasi ini.
"Kamu tau sifatnya bagaimana. Dia akan menolak dan kabur seperti biasanya. Biarkan dia istirahat saja, menghindari hal tak di inginkan. Semakin kita memaksa, semakin keras pula dia memberontak dan pada akhirnya itu hanya akan membuat semua semakin memburuk. Yang terpenting obatnya jangan sampai lupa untuk di minum. Usahakan jangan sampai dia kelelahan baik fisik maupun mental. Aku akan berdiskusi dengan rekan sesama dokterku di RS tentang ini, dan apa langkah selanjutnya."
"Aku tak bisa menjamin semua berjalan dengan baik, dokter lily. Saat ini para Medusa mulai bergerak, merajalela dan berusaha mengakuisi rumah dan aset lainnya. Dan itu gak bisa dibiarkan."
" Huft.. Benar benar parasit, mengganggu saja."
"Benar. Maka dari itu, aku dan Gemi tengah sibuk, berusaha menyingkirkan mereka secepatnya. Keadaan benar benar sedang tidak berpihak."
"Bagus, singkirkan lebih cepat lebih baik. Jika perlu bantuan dari ku kabari saja. Kalian sudah seperti adik-adikku sendiri. salam untuk Gemi ketika bangun nanti."
"Hem, terimakasih Dokter. Akan aku sampaikan salam, pesan dan nasehatmu." ucap Bintang sambil melambaikan tangan kepada dokter yang sudah keluar dan akan menutup pintu UKS. Lambaian tangan itu dibalas dengan anggukan kecil dan senyum khas sang dokter,
Bintang duduk di samping tempat tidur UKS, ia terus menatap sang sahabat yang masih tak sadarkan diri.
"Sorry... seharusnya gue gak ninggalin Lo cuma demi makanan." gumam Bintang lirih, ia sedih dan takut setiap melihat keadaan Gemi terbaring tak sadarkan diri.
"Bodoh..bodoh.."
Bintang memukul sisi ranjang melampiaskan rasa sesal dan sesak di dadanya. Walaupun ini bukan kali pertamanya bagi sahabatnya itu, namun tetap saja menjadi momok menakutkan bagi Bintang jika ia terlambat datang. Ingatan pahit masa lalu seakan berputar.
"Gue gak akan ngulang kesalahan sama lagi, cukup dulu tak untuk sekarang." ucap Bintang penuh tekat.
Gemi masuk UKS sudah berulang kali, dokter selalu bilang hanya kelelahan jika ada orang lain dalam satu ruangan atau ada yang menanyakan bagaimana kondisinya. Semua kebenaran tersimpan rapat. Banyak diantara mereka mengira Gemi masuk UKS karena malas mengikuti pelajaran, berpura-pura pingsan dan lainnya. Hanya kami bertiga dan Tuhan yang tau apa yang terjadi dan apa alasan dibaliknya.
---------------- ---------------- -----------------
Di lain tempat, lapangan basket.
Di tepi lapangan basket, tersisa 5 siswa laki-laki yang baru aja selesai latihan untuk persiapan pertandingan tahunan sekolah. Mereka terdiri dari Gala (Galaksi Joe Alterio), Gema (Gema Eija Semesta), Ray (Rayn Kin Semesta), Asa ( Angkasa Putra Praditya), dan Bumi (Bumi Putra Praditya). Mereka merupakan anggota inti tim basket sekolah sekaligus Mostwanted dari SMA ALSETYA. Semua murid tau dan kenal siapa mereka. Salah satu dari mereka tiba-tiba berhenti mendribble bola, pandangannya tertuju pada 2 siswa-siswi yang sedang berlarian sambil membawa seorang dalam gendongan sang siswa dan ia kenal betul siapa yang mereka bawa itu. Mereka berlarian dan berteriak di sepanjang lorong kelas menuju ke UKS sepertinya.
"Gal."
".........."
"Gala."
"............."
"GALAKSI." teriak mereka berempat bersama-sama.
"Eh, i..iya kenapa?" sahut Gala terbata-bata sekaligus terkejut. Ia gugup seketika.
"Gak liat apa-apa, Ray"
"Bohong banget Lo, jelas-jelas gue liat Lo lagi liatin pacar Lo yang lagi digendong sama cowok lain. "
"Demi apa? sapa tuh cowoknya?"
"Itu wakil ekskul jurnalis di kelas si do'i nya Gala?" tanya Gema santai.
"Alex?"
"Ho.oh."
"Seriusan itu si Gemi? masak sih?" tanya Ray tak yakin karena tak melihatnya tadi.
"Iya, gue liat jelas malah." jawab Gema meyakinkan Ray.
"Haredang...."
"...haredang..."
"...panas...
"...panas..."
Bumi menyanyi sambil mendribble bola ditempat.
"Bodo amat, gak penting banget."ucap Gala krupiembali cuek.
"Dih sensi." ucap Gema yang di balas tatapan tajam sang sahabat.
"......."
"Gal, kalau emang bener itu dia, samperin sana. Lo gak khawatir apa gitu?" tanya Asa.
"Gak. " jawab Gala singkat.
"Kenapa? Lo lupa dia pacar Lo? masak gak ada rasa khawatirnya apa lagi ampek do'i digendong laki lain? sehat Lo."
"Hooh, ga sehat otaknya itu bang udahan."
"Pacar? pacar bagi Lo dan dia, tapi gak buat gue. Paham?"
Huft....
Ray selalu menghela nafas tiap berhadapan dengan manusia keras kepala macem Gala, susah sadarnya.
"Kemakan omongan sendiri baru tau rasa." sahut Asa yang sedang memutar putar bola di jari telunjuknya.
"Kalau emang gitu, putusin aja kelar kan." sahut Bumi mulai angkat bicara tertarik dengan topiknya.
"Dia pantas di digituin. Dia udah nyakitin Rhea dengan ucapan kasarnya!!. " geram Gala mulai kesal dengan arah pembicaraan ini.
"Inget Lo gak tau apa yang terjadi di antara mereka. Jangan main ngumpulin sendiri tanpa fakta dan bukti yang cukup bro, Penyesalan selalu ada diakhiri." sanggah Bumi kembali.
"Tap..." ucapan Gala terpotong oleh Ray.
"Jangan sampek Lo ngalamin kayak gue dulu. Camkan itu." ucap Ray sambil melangkah pergi dari tepi lapangan.