SURRENDER

SURRENDER
Part 19 Dihadang Penghianat



" Lo harus janji sama gue, buat selalu ada disamping gue. "


" Gue gak bisa janji, karena gue bukan cenayang yang tau apa yang terjadi dikemudian hari. tapi gue akan berusaha semampu gue. "


" Iya. kita berjuang sama sama ya. "


" Hem. "


" *Semoga aja bisa bin, kok gue gak bisa sorry. karena... jujur gue udah lelah*. "


Malam semakin larut, Namaun keduanya masih enggan untuk beranjak masuk. Hanya suara semilir angin malam dan daun yang saling bergesekan satu sama lainnya.


" Bin, hati gue gak tenang, resah rasanya. "


" Perlu ke rumah sakit? "


" Bukan itu maksudnya, lain. Besok gue ada janji sama pengacara bokap nyokap gue. "


" Pengacara? Pak Ricko? "


" Ya. Katanya ada yg mau disampaikan besok sepulang sekolah. Gue pernah bilang kan jauh juah hari, Sebentar lagi pengumuman wasiat terakhir orangtuaku. Dan dari nada bicaranya tadi sore, gue yakin ini penting. Tapi ntah kenapa, hati gue gak tenang gini. "


" Kalau Lo gak keberatan, gue siap nemenin Lo besok. "


" Makasih, tapi gak usah repot-repot. Lo juga ada les kan besok? "


" Tenang, gue bisa atasi. Lo sering bantuin gue. Kenapa sekarang enggak coba. Kita temen bukan cuma seharu dua hari, tapi lebih daripada itu Gem. "


" Ya udah kalo Lo bisa, gue dengan senang hati izinin Lo ikut. "


" Yes. Kantor pengacara i'm coming. "


" Gue tau seberapa obsesinya Lo masuk kantor itu. Cuman masalahnya, besok kita ketemuannya tidak dikantornya tapi di cafe gue. Lebih privasi dibandingkan di kantor, seperti kata orang " Dinding bisa berbicara " Jadi cari aman aja. "


" Yah... Lo mah gitu. Matahin harapan gue. "


" Ya mau gimana lagi. Lagian Lo itu anak pengacara tapi kok gini amat sih. "


" Ya abis aku GK pernah boleh datengin kantor nyokap bokap. Jadi obsesi gue makin jadi. Tapi, tak masalah di kantor atau di luar. Yang penting bisa satu meja dengan pengacara.


" Bodo amat. "


" Udah ah. Bobo nyok, 5 Watt nih. "


" Hem. "


Mereka berdua pun beranjak dari kursi balkon, menuju ke tempat tidur Queen size milik Gemi dan tak lupa menutup pintu balkon dan gordennya terlebih dahulu. Setelah itu mereka naik dan berbaring di kedua sisi kasur. Tak berselang lama, dengkuran halus saling bersahutan terdengar dikamar itu. Menyiapkan amunisi untuk menjalani hari-hari selanjutnya.


 -------------- --------------- ------------------


Hari hari Gemi masih seperti biasanya. Gemi berjalan sendiri di lorong dengan tatapan lurus ke depan. Tak sengaja sorot mata Gemi bertemu dengan Gala yang berjalan dari arah berlawanan. Keduanya saling diam, hingga akhirnya Gemi memutus kontak mata terlebih dahulu dan memilih berjalan menunduk menatap lantai melewati Gala yang diam ditempat. Rasa sesak kembali dirasakan oleh Gala, sesak karena marah. Kenapa Gemi semakin menjauh dari jangkauannya. Setelah itu Gala kembali melanjutkan perjalanannya.


Gemi berjalan tanpa melihat ke belakang, hingga tanpa sadar ia sudah jauh dari tujuannya, perpustakaan. Setelah dirasa jauh dari jangkauan Gala, Gemi menekan dadanya. Sesak... itulah rasanya menahan rasa yang semakin dalam tiap harinya, dan enggan untuk di hentikan.


Tiba-tiba langkahnya terhenti, seseorang telah menghadang jalannya, Rhea. Rhea berdiri dengan wajah kesal, Rhea masih ingat acara pandang-pandangan beberapa menit lalu yang iya saksikan live tanpa sengaja. Namun dari sudut pandang Gemi ini hal yang tak penting, jadi Gemi memilih berlalu dari sana. Tapi Rhea menghalangi kembali.


" Menyingkir dari jalan gue. "


" Tak akan. Sebelum gue kasih pelajaran cewe kayak Lo. "


" Gue gak ada urusan sama Lo. Jadi minggir sekarang, sebelum gue habis kesabaran sama Lo ya. '' ancam Gemi dengan terus menatap wajah penghianat sekaligus sepupunya itu.


" Kasian banget sih jadi Lo. "


" Gue gak peduli ucapan sampah Lo. " sahut Gemi santai hendak berjalan lagi.


Namun baru dus langkah, Gemi tiba-tiba ditarik dari belakang. Karena tubuhnya yang tak seimbang, Gemi hampir menyentuh lantai. Rhea menarik pergelangan tangan Gemi dengan kuat dan menyeretnya menuju halaman belakang sekolah yang tak jauh dari tempat mereka bertemu tadi. Halaman belakang sekolah adalah tempat yang jarang disinggahi para murid maupun guru di sekolah ini.


Sesampainya di halaman, Rhea melepaskan genggaman pada tangan Gemi dan menghempaskan tubuh ringkih Gemi ke rerumputan liar disana.


" Sstt.. "


Gemi merasakan sakit di pergelangan tangan dan badannya yang menghantam tanah berumput liar itu, meski pelan tapi tetap nyeri. Rhea tersenyum sinis melihat keadaan Gemi yang terduduk di rerumputan itu


--------------- --------------- ---------------