
" Bye, sampai ketemu besok. Poo. "
" Bye, Griz. "
Gema kembali menghidupkan motornya, dan mulai melaju cepat meninggalkan rumah Gemi.
Setelah Gema hilang dari pandangan, Gemi pun masuk ke dalam. Dan satpam pun langsung menutup rapat pintu gerbang tinggi itu, setelah memastikan Gemi masuk ke dalam halaman dan rumahnya dan tak ada sesuatu yang mencurigakan diluar gerbang dan sekitarnya.
Setelah tertutup Rapat, Satpam tersebut kembali ke pos dekat gerbang untuk melanjutkan obrolan bersama dua satpam lain yang di pos. Sebenarnya ada jumlah satpam rumah Gemi ada enam orang. Mereka adalah Pak Didik, pak Udin, pak Umar, pak Ramli, Pak Joko dan pak Agus. Umur mereka berkisar 50 tahunan, namun jangan ragukan keahliannya. Mereka di latihan secara khusus oleh teman Gemi sebelum mereka berada disini. Kembali ke topik, Kebetulan sekarang hanya ada tiga satpam. Karena tiga satpam lainnya sedang patroli di sekitar rumah besar itu.
Mereka biasanya bergantian per tiga orang untuk memeriksa sekitar rumah. Karena tembok kokoh nan tinggi tak menjamin rumah itu aman bukan. Sebab kejahatan bisa ada dimana saja dan terjadi kapan saja.
Setelah masuk kedalam rumah, Gemi langsung berjalan kearah kamar pribadinya. Tak lupa dia memberi tahu bi Asih kalau nanti malam Bintang akan menginap, dan mengingatkan untuk tidak menyiapkan kamar. Karena ia akan tidur dikamar ku. Sesampainya di kamar, Gemi langsung membersihkan diri dan selanjutnya istirahat di ranjang kesukaannya. Tak lama sudah terdengar dengkuran halus, sambil menunggu malam datang.
Matahari telah digantikan bulan, terang sudah berganti gelap. Sesuai janji Gemi tadi siang, sekarang Bintang sudah ada dirumah Gemi. Sekarang mereka sedang bersantai di balkon kamar Gemi, mereka membicarakan banyak hal.
Gemi sekarang melihat langit malam, Bintang bertebaran disana.
" Lo tau kenapa setiap malam gue selalu liat bintang? "
" Karena... itu ngingetin dia ke gue kan? ternyata selama ini Lo gitu. "
" Idih. Kepedean amat Lo. Salah jawaban Lo. "
" Terus apa dong? Awas aja sampai yang Lo maksud itu si Galapagos itu. "
" Bukan. "
" Terus? "
" Karena gue ingin suatu saat nanti gue jadi salah satu dari mereka. "
" Lo mau kemana? Lo mau pergi? gue gak suka ya. "
" Siapa yang pergi, itu kan cuma gue bilang. Tapi seandainya gue pergi, berarti itu yang diinginkan Tuhan dari gue. "
Bintang mengalihkan pandangannya dari langit ke wajah Gemi. pucat seperti biasa bila sedang berdua dengannya saja, no make up. Bintang seakan tertampar oleh kenyataan, bahwasanya sakit yang di derita Gemi itu bukan sakit biasa.
" Kita ke dokter ya Gem. Gue gak mau Lo kenapa-kenapa. Cukup gue kehilangan dulu, enggak untuk sekarang. "
" Gue gak bakal kenapa-kenapa. "
" Gue serius, please."
" Gue apa lagi, Bin. Lo gak percaya? sejauh ini gue baik-baik aja kan. "
" Tapi... "
" Cukup nikmati apa yang ada sekarang,gue masih disini. Untuk esok itu urusan esok, biar Tuhan yang nentuin kemana arah kita akan dibawa. Pergi atau tinggal itu dia yang menentukan, dan aku akan mengikutinya. Aku tak akan menentang seperti sebelum sebelumnya. "
" Lo harus janji sama gue, buat selalu ada disamping gue. "
" Gue gak bisa janji, karena gue bukan cenayang yang tau apa yang terjadi dikemudian hari. Tapi gue akan berusaha semampu gue. "
" Iya. Kita berjuang sama sama ya. "
" Hem. "
" Semoga aja bisa Bin, kok gue gak bisa Sorry. Karena... jujur gue udah lelah. "