
" Eh buset. Nampung nampung, dikira gue tunawisma gitu. Gue masih sanggup buat cari rumah sepetak dua petak mah. "
" Iya mampu. Giliran suruh berobat ogah-ogahan. "
" Gue bukan ogah-ogahan. Cuma gue udah lelah, hidup terombang-ambing seperti kayu dilautan lepas. "
" Gue bakal ambil kayu itu dari lautan dan gue manfaatin sesuai dengan benda itu sendiri. Dan seperti itu lah gue ke Lo hanya bedanya gue ga manfaatin lo. Melainkan jika Lo sedang berada posisi atau zona kurang nyaman dengan keadaan sekitar Lo, gue akan jadi orang yang selalu merengkuh Lo dan selalu ada buat Lo. Jadi Lo akan tenang karena Lo gak sendirian di bumi ini, ada gue yang selalu disamping Lo di suka dan dukanya kehidupan.
" Thanks Bin.. Udah ada di suka dan duka gue. The best ever Lo mah. "
" Bisa ae lu mujinya. "
" Hehehe. "
TAP
TAP
CEKLEK
CEKLEK
TAP
TAP
Suara langkah kaki seseorang yang ditunggu - tunggu dari tadi.
" Siang Non Gemintang, Non Bintang... "
" Siang kembali pak. "
" Siang juga pak Ricko. "
" Silahkan duduk pak. "
" Terimakasih Non Gemi. "
" Hem. Jadi apa yang mau bapak sampaikan? "
" Maaf ya pak. Gemi emang suka gitu, langsung ke topik. 🙏 "
" Tak masalah, saya sudah paham bagaimana sifat Nona. "
"Jadi... "
" Maksud dari saya melakukan pertemuan pribadi sebelum hari pembacaan surat itu yakni membuka kembali lembaran lama dari orangtua Nona dan Nona sendiri. Mohon dengarkan sampai selesai agar kita bisa menyesuaikan masalah di kemudian hari. "
" Iya. Silahkan. " ucap Gemi dengan tenang, meski dalam hati berdebar-debar.
" Maafkan saya sebelumnya karena baru menyampaikan ini hari ini, dikarenakan sesuai permintaan terakhir Tuan dan Nyonya sebelum tragedi malam itu. Mohon dibaca dengan teliti dan seksama. "
Pak Ricko memberikan amplop coklat berlogo Rumah Sakit ternama kota ini. Meski nampak usang tapi masih bisa dibaca dengan jelas.
DEG
DEG
" A.aku.... "
TES
TES
" Ya Tuhan.. cobaan apa lagi ini. "
" Hiks... Hiks... Jadi..hiks..gue..hiks... "
" Hei, kenapa Lo nangis? apa isinya Gem? jawab! "
" Hiks... Hiks... "
Merasa tak mendapatkan jawaban, Bintang mengambil kertas dari dalam amplop yang dibaca Gemi. Bintang membaca dengan seksama dan kesimpulan dari barisan kalimat itu mengejutkannya.
" Gem, ini mata gue salah liat kan? "
" Hiks.. Hiks.. Lo.. hiks.. gak.. hiks.. salah.. hiks.. Bin. "
TES
TES
" Yang sabar Gem, Lo gak sendirian. Ada gue disini. hiks... "
" Tak cukup kah selama ini kau berikan sahabat ku ujian. bahkan kenyataan lagi lagi menghantamnya. "
" Hiks.. Hiks... Segitu gak sukanya kah Tuhan sama gue Bin. Belum cukup kan dia ambil orangtua gue? dia beri gue sakit ini? hiks... "
" Sekarang dia renggut kenyataan kalau mereka bukan orang tua gue, Bin... "
" Sabar Gem, gue selalu ada buat Lo disini. meski Lo bukan anggota Sanjaya, gue gak peduli itu.. Gue gak peduli siapa Lo? anaknya siapa? Keluarga kandung Lo siapa? Gue ak peduli...
" Yang gue peduli adalah Lo itu sahabat gue. Dulu, sekarang, besok dan seterusnya. Lo temen gue, sahabat gue, saudara gue, dan kakak gue. hiks... Lo gak perlu takut sendirian. Jika dunia ini memusuhi Lo, gue... gue Bintang sahabat cerewet Lo ini yang bakal lawan mereka buat Lo. Seperti yang Lo lakuin dulu ke kakak gue. Gue akan selalu berdiri didepan Lo buat jadi tameng. "
" Bin....... Lo.....hiks... "
------------------ ---------------- -------------------