SURRENDER

SURRENDER
Part 17 Rindu Seorang Ibu



" Oh iya lupa. Thanks udah izinin gue ngerasain keluarga lagi. "


" Sama-sama. Griz sayang Poo. "


" Poo juga sayang Griz... "


" Pulang yok.. "


" Yok. "


Setelah saling merangkul, mereka berdua pun beranjak keluar cafe. Mereka berjalan santai menikmati setiap langkah kaki mereka, diselingi obrolan ringan.


" Lo suka Gala ya Poo? "


" Ganti profesi Lo? dari tukang makan jadi cenayang. "


" Enak aja, profesi gue masih sama ya, tukang makan. Lagian dari awal gue udah tau, kalau Lo tuh ada rasa sama dia. Lo GK ada niatan untuk berhenti gitu, sakit pasti. "


" Mau berhenti juga gak ada guna kali, orang dia ada rasanya sama yang lain. " ucap Gemi mengalihkan pandangannya.


" Ya terserah Lo sih sebenarnya, gue cuma gak mau Lo sakit aja. "


" Thanks Griz. Dari awal emng gue udah sakit, jadi tanpa Lo ingetin juga gue sadar resikonya. "


Hanya senyum tipis yang bisa Gemi perlihatkan. Kenyataan selalu mematahkan harapan sebelum berjuang.


" Lo tiba-tiba ngmong gini bukan karena ada rasa ma gue kan? "


" Lo lucu tapi sayang gue gak suka. "


" Bagus kalau gitu, pertahankan. Hehehe. "


Tak sadar mereka berdua sudah sampai di depan motor Ducati 1098S warna merah.


Gema menaiki motor tersebut dan memasang helm full face miliknya. Ia membuka kaca helm tersebut, dan tersenyum kearah Gemi. Gemi mengangguk, lalu naik ke atas motor. Tak lupa ia berpegang pada pinggang Gema, secara ia sedikit tau tentang kecepatan motor jenis ini. Gema mulai menghidupkan mesin, setelah Gemi siap di posisi nyamannya. Selanjutnya motor melaju lumayan cepat membelah jalanan.


 


Di lain tempat disebuah rumah mewah, terdapat wanita paruh baya sedang duduk di meja rias miliknya. ia menangkupkan kedua tangannya menutupi wajah cantik meski usia sudah tak muda lagi. Air matanya menetes membasahi pipinya.


Saat merasa sepi...


Yang kulakukan hanyalah...


Melihat foto dan video singkat tentangmu... Yang telah lama tersimpan...


Dan...


Kembali hancur hati ini...


Ketika melihat semua potret mu...


Dan yang tak bisa diulangi adalah...


Masa dimana kita masih bersama...


Tertawa bersama seperti dulu...


Meski kita belum pernah bertemu...


Masa masa paling indah dalam hidup...


Masa dimana kita bersama...


Kemanapun kaki ini melangkah..


Masa dimana kamu dalam perut Mama...


Agar bisa terus berjalan meski tanpamu...


Namun semua kenangan bersamamu... Melekat erat di setiap hembusan nafas ini...


Bukannya tak terima kenyataan dan ketetapan Tuhan...


Namun, rintihan hati seorang ibu yang merindu...


Mama selalu memohon kepada Tuhan...


Pertemuankan lah kita...


Meski itu dalam mimpi sekalipun...


Guna menghapus kerinduan ini...


Walau hanya sebentar


Tuhan tolong kabulkan lah...


Dan akhirnya Tuhan...


Mendengar do'a Mama...


" Terimakasih Tuhan, engkau telah izinkan aku melihatnya lagi. Meski dalam diri orang lain.. Hiks... Hiks... "


Wanita paruh baya itu beranjak dari kursinya menuju tempat tidur, ia berbaring menghadap langit-langit kamar. Isak tangis masih terdengar samar-samar. Hingga tak lama kemudian telah terganti oleh dengkuran halus, menandakan sang pemilik kamar telah terlelap dalam sisa tangisnya.


 ---------------- --------------- -------------


Beberapa menit kemudian, double G akhirnya sampai di depan gerbang rumah Gemi juga. Pagar tiba-tiba terbuka dari dalam, muncullah satpam dan asisten rumah, pak Didik dan bi Asih.


" Kal..lian? "


" Ha? "


" Apa? "


" Eh,.. maaf nak Gemi, aden... " ucap pak Didik dan bi Asih bersamaan setelah tersadar.


" Gema bi, pak. "


" Ah, iya den Gema, mirip ya namanya. "


" Hahaha, sangat sangat kebetulan ya. "


" Iya. Tapi wajah kalian juga mirip loh. Yang gak tau pasti ngiranya kalian itu kembar. "


" Iya kembar. Kembar beda keluarga maksudnya. Hahaha."


" Dasar... "


" Kayak di sinetron aja, den. "


" Hahaha. Yaudah gue balik ya Poo. "


" Ya. Hati-hati, GK usah ngebut. Lo bukan kucing yang nyawanya 9. Paham, Griz. "


" Siap Poo. "


" Bye, sampai ketemu besok. Poo. "


" Bye, Griz. "