
Jelita sedikit kaget dengan wajah seseorang yang menolongnya, pasalnya ia ingat betul dengan wajah itu.
"Lu Jelita gadis yang waktu itu nolongin gua kan? " tanya orang itu.
"Iya, kamu Sita kan? "
Ternyata yang menolong Jelita adalah Sita, gadis tomboy yang waktu itu sempat bersembunyi ditoko eyang Ningsih.
"Iya, lu sekolah disini? " tanya Sita memastikan. Namun sebelum Jelita menjawab, gadis yang ditabrak tadi lebih dulu menyela.
"Hei, kagak usah reunian disini nape? Disini bukan tempat reunian. Lu juga, siapa sih? Gua baru lihat elu deh ! " ucap gadis itu dengan nada sinis.
"Lu kagak usah keppo Cenil.. " sahut Sita sambil menoyor jidat nya Cenil. Cenil adalah salah satu murid disekolah itu, dia merupakan anggota salah satu geng yang sangat populer disekolah itu.
"E e e e.. Lu berani ama gue? " Cenil seolah tak terima akan tindakan Sita barusan. Bukannya takut, Sita malah semakin menantang Cenil dengan gaya songong nya.
"Ape, nantang lu? !! " sahut Sita dengan berkacak pinggang. Melihat kedua anak manusia yang sedang berdebat, dan entah memperdebatkan apa ini. Jelita tak mau ikut campur dan ambil pusing, ia melirik jam dipergelangan tangannya.
'As… tagah !! Waktunya udah mepet nih, mending aku langsung keruang kepsek aja deh. ' secepat kilat Jelita pergi lalu menuju ruang kepala sekolah.
Sedangkan Sita dan Cenil masih debat sampai sampai tak menyadari bahwa Jelita sudah tidak ada di dekat mereka.
Sesampainya diruang kepala sekolah Jelita segera masuk, lalu kepala sekolah mempersiapkan diri untuk mengantar Jelita kekelas. Sekaligus beliau memberi sedikit penjelasan tentang sekolah itu kepada Jelita. Mulai dari nama wali kelasnya, tata letak ruangan disekolah itu. Dan beberapa pilihan ekstrakurikuler yang bisa Jelita ikuti nanti.
Bel tanda mulainya pelajaran hari ini sudah berdering nyaring, gegas Jelita serta kepala sekolah berjalan menyusuri lorong untuk menuju ruang kelas Jelita.
Sesampainya di depan ruang kelas, pak kepala sekolah memohon ijin kepada guru mata pelajaran dijam pertama untuk masuk guna memperkenalkan Jelita kepada semua murid yang ada dikelas itu. Kebetulan Jelita menempati kelas IPS seperti jurusan disekolah sebelumnya.
Sesudah kepala sekolah memperkenalkannya, kini giliran Jelita yang memperkenalkan dirinya sendiri.
"Selamat pagi semua nya, salam kenal ya. Nama aku Jelita, aku pindahan dari kota Solo. Untuk kedepannya, aku berharap bisa dengan cepat akrab dengan kalian. Kalau ada kekuranganku, mohon bimbingannya. " ucap Jelita dengan santun.
Kemudian guru pengajar saat itu mempersilahkan nya untuk duduk, namun saat ia melihat semua tempat duduk sepertinya penuh. Dan pandangan nya tertuju dengan satu kursi dipojok belakang yang masih kosong. Dengan penuh keyakinan ia melangkahkan kakinya, mendekati kursi itu.
"Permisi, boleh aku duduk disini? " tanya Jelita dengan orang yang lebih dulu duduk disebelahnya. Dan saat orang itu menoleh kearah Jelita, malah membuat ia kaget.
"Kamu? "
"Iya gue, gak nyangka ya ternyata elu satu kelas sama gue. Duduk sini !!" ternyata gadis itu adalah Sita, yang tadi pagi ia jumpai.
Perlahan Jelita menghempaskan tubuhnya diatas kursi siswa yang terbuat dari kayu itu.
Setelah itu guru memulai pelajaran dengan tenang, semua murid tampak mengikuti pelajaran hari itu dengan sangat baik.
Seusai jam pelajaran terakhir, semua siswa berbondong bondong untuk keluar dari gedung sekolah. Ada yang dijemput, ada yang mengendarai kendaraan nya sendiri, ada juga yang menaiki transportasi umum.
Saat itu Jelita tengah menunggu driver ojol yang ia pesan memalui telfon seluler nya, dari arah parkiran dalam ada mobil sedan berwarna hitam yang melaju mendekatinya. Hal itu membuat Jelita sedikit menepi kepinggir.
"Jelita, ngapain lu ngejogrok disini? " tanya Sita yang ternyata mengendarai mobil sedan itu.
"Lagi nunggu ojol ta. " jawabnya simpel.
"Udah bareng gua yuk!! Cansel aja ojol nya. " Sita berkata dari dalam mobil.
"Endak usah ta, aku udah terlanjur order. Kasian abang ojolnya kalau dicansel. " tolaknya halus.
"Serius gak mau bareng? " tanya Sita memastikan.
"Lain kali aja ya. " Jelita berusaha meyakinkan.
"Oke deh kalo gitu, gua duluan ya !! " Sita melambaikan tangan sebelum ia menancap pedal gas, lalu dibalas oleh Jelita.
RUMAH SITA
Sita adalah adalah salah satu konglomerat yang ada di ibu kota, kehidupannya sangat lah terjamin. Apa pun yang ia butuhkan selalu tercukupi, dia merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Kakak pertamanya perempuan yang kini sudah menikah dan tinggal di Bali.
Sedangkan kakak keduanya laki laki dan masih kuliah, yang saat ini tinggal dikota yang sama dengan Sita. Walaupun ia terlahir dari orang tua yang kaya raya, bahkan kekayaan nya tidak akan habis dimakan tujuh turunan tujuh tanjakan tujuh belokan. Namun ada satu hal yang membuatnya merasa iri dengan kehidupan teman teman sebaya nya.
Karna kesibukan orang tuanya sebagai pengusaha kaya raya, membuat orang tua Sita hampir tidak ada waktu untuk anak anaknya. Bahkan dua tahun terakhir ini, ia belum juga bertemu dengan orang tua nya itu.
Orang tua Sita saat ini berada di Austria, mereka sedang membangun kerajaan bisnis dinegara itu. Dengan hal itu lah kini Sita merasa kesepian dan selalu menghabiskan waktunya lebih banyak dijalanan. Bersama dengan anak anak jalanan, karna dengan begitu ia merasa ada teman dan keluarga.
Setelah mobil mewahnya terparkir dengan rapi dibasement, ia segera melangkah kan kaki nya menuju kamar kesayangan yang ada dilantai tiga.
Saat masuk keruang keluarga, ia melihat kakak laki lakinya sedang berkumpul bersama teman temannya.
"Hai Sita, baru pulang lu? " tanya Jeri, salah satu teman kakaknya.
"Hem. " sesingkat itu jawabannya. Tanpa memperdulikan lagi keberadaan kakak dan teman temannya itu, ia segera melangkah kan kakinya kelantai atas.
"Jutek banget adek lu than. " Jeri melayangkan protes nya atas perlakuan Sita tadi.
"Lu kayak baru kenal ama dia aja deh. Udah biarin aja. " sahut Nathan kakak nya Sita.
Selang tiga puluh menit, Sita kembali turun dengan pakaian casual nya. Ia mengenakan celana jeans panjang kaos polos warna putih dengan dibalut jaket kulit warna hitam yang melekat pas ditubuhnya. Tak lupa berbagai aksesoris menempel dibeberapa bagian tubuhnya.
"Kak, gue mau pergi dulu. " Pamitnya pada Nathan sambil lalu.
"Lu mau kemana? " teriak Nathan, namun tak dihiraukan lagi oleh Sita.
RUMAH EYANG NINGSIH
Saat itu Jelita tengah membantu eyangnya untuk mengecek stok barang yang ada ditoko. Satu persatu ia catat barang apa saja yang sudah habis dan harus dibeli lagi.
Setelah usai, ia segera menyerahkan catatan barang barang itu kepada eyang Ningsih yang duduk dikursi kasir.
"Ini catatannya eyang, lumayan banyak barang yang harus dibeli. Biar Jelita aja ya yang belanja. " melihat catatan belanja yang lumayan banyak membuat Jelita tak tega bila harus membiarkan eyangnya yang belanja.
"Tapi kan kamu belum terbiasa nduk. Apa kamu bisa nanti belanja dipasar? " eyang Ningsih nampak ragu pada cucunya itu.
"Nantikan Jelita bisa tanya tanya yang. Soalnya ini lumayan banyak barang yang mau dibeli. " saat Jelita dan eyang nya tengah berdebat. Tiba tiba ada mobil mewah yang terparkir didepan toko.
"Siapa ya nduk, kok mobilnya bagus banget? " eyang Ningsih nampak kagum dengan kereta besi yang terparkir didepan toko nya.
"Ndak tau yang, palingan pembeli kalau ndak ya orang nanya alamat aja. " jawab Jelita sekedarnya.
•
•
•
•
•
•
•
...Lanjut di chapter selanjutnya ya.. Bye bye 👋👋😘...