STAY ON HERE

STAY ON HERE
CHAPTER 16



Setelah mengatakan semua yang menjadi unek uneknya, Jelita merasa sedikit lega. Ia menumpahkan semua air mata dan rasa sedihnya didepan Sita.


Entah mengapa Jelita yang awalnya tak terlalu percaya dengan orang lain, kini menjadi seyakin itu untuk bercerita tentang masalah keluarga nya kepada Sita.


Begitupun dengan Sita, ia ikut merasakan kesedihan juga atas musibah yang menimpa keluarga Jelita. Didalam hatinya ia merasa masih sangat bersyukur, walaupun orang tua nya tak pernah ada untuknya. Tapi kondisi ekonomi mereka sangat bisa dibilang cukup bahkan berlebih, dan juga masih banyak orang orang yang perduli dengannya.


Termasuk kedua kakaknya, simbak art yang dirumahnya dan juga kini ada Jelita sahabatnya.


Sita mencoba untuk menenangkan Jelita, ia memeluk dan mengusap punggungnya. Tak terasa air matanya ikut luruh juga.


Hingga tak terasa bu Lastri mengetuk pintu kamar putrinya itu untuk menyuruh sarapan, hal itu justru seketika membuat mood Jelita dan Sita berubah. Mereka tak ingin keluarga itu mengetahui kesedihan saat itu, terutama Jelita yang tak ingin terlihat sedih dan lemah didepan keluarganya.


Tok, tok, too...


"Jeli, Sita… ayo bangun nak, kita sarapan dulu. " ucap bu Lastri dari balik pintu kamar.


"Iya buk, sebentar lagi kami keluar. " sahut Jelita yang masih didalam kamar.


Dan setelah itu tak terdengar lagi suara bu Lastri. Jelita dan Sita pun segera bersiap untuk sarapan.


"Maaf yo Ta, aku jadi curhat gini dan buat kamu nangis juga. " kata Jelita sembari mengusap sisa air mata yang masih menggenang dipelupuk matanya.


"Gak apa apa Jel, santai aja. Gua seneng akhirnya elu bener bener anggep gue sebagai sahabat lu. Terbukti dengan elu mau cerita tentang beban hati yang lu rasain. Mulai sekarang kita akan hadapin semuanya sama sama oke! "


Jelita menanggapi perkataan Sita dengan senyuman nya, kemudian mereka berdua bersiap untuk sarapan. Dan ternyata semua keluarga sudah menunggu diruang makan, dimana letaknya masih sama dengan dapur.


...****************...


Tak terasa sudah dua hari mereka berdua liburan dikota asal Jelita, selama dua hari itu mereka lewati dengan berkeliling kota Solo. Ada beberapa tempat wisata yang sudah mereka kunjungi.


Sita pun merasa senang dengan liburannya kali ini, hingga saat malam tiba. Mereka berdua sudah terlelap, waktu menunjukkan pukul sebelas hampir tengah malam.


Sayup sayup Jelita mendengar suara handphone berbunyi, dengan mata yang berat untuk terbuka, ia mencari keberadaan benda pipih yang terus berdering itu.


Saat sudah tersentuh tangannya, ia segera menggeser tombol hijau yang terus bergerak.


"Halo…!! " suara beratnya menyahuti.


"… "


Seketika Jelita membuka matanya lebar lebar, ia duduk lalu menatap ponsel yang saat ini ada ditangannya.


' Lhoh,, ini kan bukan handphoneku? Ini punya Sita, astaga aku salah ambil handphone. '


Saat ia hendak menyerahkan handphone itu pada Sita, tiba tiba sura disebrang sana sudah berteriak. Sebab tidak ada sahutan dari Jelita.


"Ii… iya, halo. " Jelita nampak kebingungan.


"Baik, nanti saya kirim alamatnya. "


Tut.. Tut.. Tut..


Tiba tiba sambungan telfon terputus. Jelita sedikit berfikir apakah ia harus menuruti permintaan dari sipenelfon tadi?


Entah jam berapa Jelita mulai bisa tertidur lagi, hingga saat ini pagipun menjelang.


"Hooaamm… " Jelita menggeliatkan badannya, lalu ia menoleh kesamping ternyata Sita sudah tak ada ditempat ia tidur.


Saat keluar kamar ia melihat Sita sedang berolah raga didepan rumah. Sebelum menghampirinya, Jelita memilih untuk kekamar mandi dulu, sekedar untuk membersihkan muka dan sikat gigi.


Tak butuh waktu lama, Jelita sudah diambang pintu depan.


"Eh, udah bangun lu Jel. " sapa Sita masih dengan kegiatan olah raganya.


"Iya, kenapa tadi gak bangunin aku Ta? "


"Lah elunya kayak nyenyak banget gitu tidurnya, gua jadi gak tega mau bangunin. "


"Oya, ibuk kemana Ta, kok gak ada kelihatan ya? Bapak juga gak ada. " tanya Jeli sambil mengedarkan pandangan mencari ibuk dan bapaknya.


"Oh, bapak tadi pamit mau berangkat kerja. Ibuk juga iya. " jawab Sita.


"Lhoh, bapak jam segini udah berangkat? Terus ibuk kerja dimana, kemarin katanya warung tempat kerja ibuk sebelumnya udah tutup karna yang punya meninggal? "


"Ibuk tadi bilang kalau beliau dapet kerja di tempat laundry di rt sebelah. Hari ini hari pertama masuk, mangkanya berangkat pagi. " jelas Sita lagi.


Tiba tiba Kenzie keluar dari dalam rumah, ia sudah membawa mainan yang diberikan oleh Jelita tempo hari.


"Ken, mau kemana le? " tanya Jeli pada adik semata wayangnya.


"Mau main to mbak, itu udah ditunggu sama temen temen ditempat e zaki. " jawab Ken sambil menunjuk rumah temannya disebelah kontrakan mereka.


"Oh, ya wes hati hati kalo main. Gak usah jauh jauh lho ya. "


Tanpa menyahuti kakaknya, Kenzie hanya mengacungkan jari jempolnya pada Jelita. Setelah itu Jelita dan Sita pun kembali masuk rumah, untuk mandi dan sarapan.


Ditempat Kenzie main saat ini, ada beberapa teman nya. Mereka sedang bermain lomba mobil remot control, terlihat raut kegembiraan dari wajah anak anak itu. Hingga terlihat ada sebuah mobil mewah yang mendekat kearah mereka.


" Wei cah, kok onok montor apik men iki? Montor e sopo yo? " ucap salah satu diantara mereka saat memandang kagum gerobak besi itu.


" Mbuh, aku yo gak eruh. " sahut salah satunya.


Setelah memarkirkan mobilnya ditepian jalan, ada seorang laki laki tampan yang keluar dari mobil itu.


"Hei anak anak…! "









...----------------...