
"Apakah tidak ada cara lain pak? Sebenarnya ibu tidak tega bila harus jauh dengan Jelita. " bu Lastri sedang meminta pertimbangan pada sang suami mengenai pemindahan sekolah putri mereka.
"Bapak sebenarnya juga tidak tega buk, lantas harus bagaimana lagi? Kondisi kita sekarang ini sedang sulit, usaha bapak juga sudah diambang kebangkrutan. " kata pak Budi Santoso, suaminya bu Lastri.
"Toh ibu juga sudah memberi ijin agar Jelita di antar kesana. Kan kita disini juga masih ada Kenzie, dia juga sekarang sudah SD dan butuh biaya lebih banyak untuk kebutuhan sekolah nya. " pak Budi masih saja berusaha memberi penjelasan pada istrinya itu.
"Tapi ibu gak tega untuk mengatakannya pak, bapak aja deh yang coba menjelaskan pada nya." pinta bu Lastri.
"Baik lah bu, nanti bapak yang mencoba menjelaskan pada Jelita. " pungkas pak Budi lalu disambut anggukan kepala oleh bu Lastri.
Budi Santoso adalah pengusaha kain batik yang berasal dari kota Solo, beliau mempunyai istri yang bernama Sulastri.
Dalam pernikahan mereka, sepasang suami istri itu dikaruniai dua orang anak. Anak pertama mereka seorang gadis yang kini berusia 16 tahun dan sedang duduk dibangku kelas sebelas atau kelas dua SMA, gadis berparas cantik namun terlihat sederhana itu bernama Jelita.
Sedangkan anak kedua mereka laki laki, bernama Kenzie yang sekarang sedang duduk dibangku kelas tiga Sekolah Dasar.
Namun akhir akhir ini usaha yang sedang dijalan kan Budi sedang mengalami masalah, ia ditipu oleh teman nya sendiri yang mengakibatkan kerugian besar dalam usahanya itu.
Bahkan ia harus menjual berbagai investasi kekayaan nya itu demi menutupi kerugian yang di deritanya.
Dan rencana nya pak Budi serta keluarga nya akan mengontrak rumah saja, juga mereka akan memulai usaha baru dengan sisa sisa uang yang mereka punyai saat ini.
Demi mengurangi sedikit kesulitan nya, pak Budi serta istri berniat untuk menitipkan putri mereka Jelita kepada ibu nya pak Budi yang tinggal di ibu kota.
Tapi sepertinya mereka berdua belum tau celah nya, bagaimana harus mengatakan semua nya kepada Jelita.
SEKOLAH JELITA
Bel tanda berakhir nya pelajaran sudah berdering panjang. Semua murid bersorak sorai karna jam pelajaran telah usai. Lama kelamaan deru suara langkah kaki semakin terdengar.
Satu persatu para siswa keluar dari kelas nya masing masing, mereka menuju parkiran dan gerbang. Diantara mereka semua, ada yang menggunakan kendaraan pribadi, ada juga yang menggunakan transportasi umum.
Saat Jelita hendak menuju ke parkiran, ia ditepuk pundak nya oleh seseorang dari belakang.
"Hey Jeli.. " sapa Risty sahabat Jeli sekaligus teman satu kelas nya.
"Eh, Risty. Bikin kaget aja, onok opo? " tanya Jelita sembari mencari keberadaan motor beat matic kesayangan nya.
"Temenin aku yuk, aku mau cari kado buat kak Vino. Soale besok do'i ulang tahun. " Risty ngajak Jelita mencari kado untuk Vino kekasih nya.
"Duh, maaf Ris aku ndak bisa. Aku sudah ditunggu oleh orang tua ku dirumah, kami mau ada acara keluarga nanti. Sepurane yo!! "
(Maaf ya!!)
Jelita menolak ajakan Risty secara sopan, sebab ia sudah diberi mandat oleh orang tuanya untuk pulang lebih awal.
"Oh, ya wes ndak apa apa. Kalau begitu aku sendiri aja. Tapi lain kali kita jalan jalan bareng yo. " tawar Risty.
"Iyo wes, gampang. Nanti bisa diatur kok. " sahut Jelita.
"Ya sudah kalo gitu, aku balek duluan yo Ris. Kamu hati hati kalo mau ke mall. " pungkas Jelita sebelum menarik gas dan meninggalkan area parkir.
"Oke Jeli, kamu juga hati hati yo!! " sahut Risty, lalu mereka berdua berpisah. Risty dengan tujuan awal nya, sedangkan Jelita kembali pulang.
Hanya butuh waktu lima belas menit bagi Jelita, untuk menempuh perjalanan dari sekolah ke rumahnya.
Saat ini mereka masih berada dirumah lama, rumah yang selama ini sudah mengukir banyak cerita dalam keluarga itu.
Namun kali ini keluarga mereka sedang menerima sebuah ujian dari sang pencipta. Seperti hal nya pepatah, bahwa semua yang kita miliki didunia ini hanya lah titipan semata.
Jika Tuhan berkehendak mengambil nya sewaktu waktu, maka dengan sekejap mata saja semua itu akan pergi. Jadi sebagai manusia, tidak ada hal apapun yang bisa kita sombongkan.
Walaupun dalam keadaan yang sulit ini, pak Budi tak pernah lupa dalam mengingatkan anak dan istrinya, agar selalu bersyukur. Karna diluaran sana masih banyak lagi orang orang yang nasib nya mungkin jauh lebih kurang beruntung dari mereka.
"Pak, buk. " panggil Jelita saat melihat kedua orang tuanya sedang mengemas barang barang mereka.
Karna mendengar anak nya memanggil, pak Budi dan bu Lastri menoleh ke arah Jelita.
"Kamu sudah pulang nduk? Ganti baju mu, bersihkan tubuhmu lalu makan siang dulu ya. Ibuk sudah masak makanan kesukaanmu. Ayo sana! " bu Lastri memberi perintah kepada putri pertama nya itu.
"Baik buk, Jelita ke kamar dulu ya. " kemudian Jelita berjalan menuju kamarnya yang terletak dilantai dua.
Perlahan ia memasuki kamar itu, dilihatnya semua sudut ruangan dengan tatapan sedih. Sebenarnya ia tak ingin pergi dari rumah itu, namun keadaan lah yang memaksanya.
"Kalau ini memang jalanMU, kami akan melalui nya dengan sangat ikhlas. Aku hanya meminta, berikanlah kedua orang tua ku kekuatan untuk menghadapi ini semua. " tak terasa air mata nya terjatuh saat ia melangitkan harapan serta doa nya untuk bapak dan ibuk.
Dengan berat hati ia melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai mandi dan ganti baju, Jelita lekas turun kebawah untuk makan siang. Baru nanti dia akan membantu orang tuanya berkemas.
"Nduk, nanti kalau sudah selesai makan temui bapak mu diteras depan ya. Ada sesuatu yang ingin beliau katakan katanya. " tutur bu Lastri.
"Nggeh buk, nanti Jelita kesana. " kata Jelita setelah mendengar perkataan ibunya.
(Iya buk.)
Hap
Suapan terakhir sudah mendarat dengan sempurna di mulut Jelita, ia segera meneguk segelas air putih untuk melancarkan jalan nya makanan yang ia telan tadi.
Setelah selesai, Jelita segera mencuci piring bekas ia makan sebelum dirinya menghadap kepada bapak.
Setelah selesai cuci piring ia mengelap tangan nya yang basah menggunakan lap tangan yang tergantung didekat situ. Pikirannya banyak pertanyaan yang terus berputar sejak ibunya berkata bahwa bapak akan membicarakan sesuatu.
' Kira kira bapak arep ngomong opo yo? Kok perasaan ku gak penak ngene. Duh,, mugo mugo ae gak onok opo opo lah. '
Setelah memantapkan hatinya, Jelita menemui bapaknya.
•
•
•
•
•
•
...See you chapter 2, bye bye.. 😘👋👋...