STAY ON HERE

STAY ON HERE
CHAPTER 21



"Chenil… ?? " ucap Jelita saat syok mendengar perkataan Chenil.


"Iya gue. Kenape lu? Cepet minta maaf sama Jeni! "


Chenil memberi perintah dengan nada maksa.


Jeni adalah ketua cheerleader di sekolah itu, dan Chenil adalah salah satu anggotanya. Geng mereka sangat dikagumi para siswa siswa disana, sehingga hal itu membuat kesombongan geng Jeni melambung tinggi.


"M maaf ya Jeni, aku gak sengaja. " ucap Jelita sambil tertunduk.


"Gak semudah itu bestie, lu harus ikut kita ke toilet untuk bersihin baju gue. Dan… yah! lantai ini kotor, so harus elu bersihin dulu. Sini !! "


Jeni berbicara tak kalah angkuh dari Chenil tadi. Bahkan ia merampas tissu yang dibawa Jelita, lalu dilemparkannya ke lantai.


"Lu bersihin tu lantai pakek tangan lu sendiri. " titah Jeni lagi.


"Tt… tapi.. " Jelita ragu, sebenarnya ia tau kalau geng dihadapannya ini terkenal angkuh. Mangkanya ia menyesal harus berurusan dengan mereka.


"Gak ada tapi tapi an ! Dasar udik, buruan lu bersihin lantainya. Sekolahan ini bener bener tercemar karna kehadiran manusia kayak elu, dasar kampungan ! " hardik Ashlee, dia salah satu anggota geng Jeni juga.


Jelita tak mau cari masalah dengan mereka, ia berharap ini semua segera usai. Maka dirinya akan mengikuti perintah Jeni, tak perduli lagi dengan situasi disekitar yang memandang aneh ke arahnya.


Mungkin mereka semua berfikir kalau Jelita tak seharusnya berurusan dengan geng nya Jeni. Bahkan sebagian dari mereka juga berfikir bahwa tindakan Jeni and the geng sudah sangat keterlaluan. Tapi lagi lagi, mereka semua hanya bisa diam untuk cari aman.


Perlahan Jelita menundukkan badannya untuk mengelap lantai menggunakan tissu bekas itu.


"Tunggu !! " tiba tiba terdengar suara lelaki yang menghentikan kegiatan Jelita, serta menarik perhatian semua orang yang ada disitu.


Semua mata tertuju pada pria itu, bahkan Jelita juga mendongakkan wajahnya untuk mengetahui siapa pemilik suara.


"Berdirilah. " pria itu meraih tangan Jelita, lalu mengajaknya untuk bangkit berdiri.


"Jovan ! "


Jeni dengan lancar mengucapkan nama pria itu, bahkan wajahnya terlihat sangat tidak bersahaja saat melihat Jovan menolong Jelita.


Jovan merupakan salah satu anggota tim basket disekolah itu, ia adalah siswa yang digandrungi para siswi.


Karna parasnya yang tampan, tinggi, kulit putih bersih dan bahkan tubuhnya tercium selalu wangi. Hal itu lah yang membuatnya selalu menjadi idola dimata gadis gadis.


"Elu gak apa apa? " tanya Jovan penuh perhatian pada Jelita.


"Aku gak apa apa kok, terimakasih. " jawab Jelita sambil terus tertunduk. Setelah mendengar jawaban Jelita, Jovan menoleh keraha Jeni dan gengnya.


"Kalian keterlaluan !! Apa gini cara kalian memperlakukan teman? " Jovan menaikkan nada bicaranya.


"E e nggak gitu maksud kita Jo, kita cuma mau… "


"Stop!! Gue gak mau denger perkataan kalian. Ini udah yang entah keberapa kalinya, dari pada gue kasar ke kalian. Mendingan sekarang cabut semuanya. "


Perkataan Jeni terhenti sebab Jovan lebih dulu melontarkan kata kata pedas pada mereka.


"Tapi Jo, dia yang salah. " sahut Chenil sambil menunjuk Jelita. "Dia udah numpahin kuah soto panas kebaju Jeni. Berani banget dia kan? " imbuh Chenil.


"Gua tau, tapi dia gak sengaja. Toh dia udah minta maaf kok, kalian aja yang batu gak mau maafin dia. " Jovan berucap dengan tangan yang masih menggenggam tangan Jelita. Mungkin saja ia gak sengaja lantaran belum sadar dengan tindakannya.


Namun hal itu justru membuat Jeni meradang, pria yang ia sukai selama ini memegang tangan gadis lain.


' Brengs3k, Jovan megang tangan cewek udik itu gak dilepas lepas! Awas aja lu cewek udik kegatelan, gue bakalan bikin perhitungan sama elu. Lihat aja nanti!! ' Jeni berkata dalam hati dengan penuh emosi.


"Lu beneran gak apa apa kan? " tanya Jovan lagi saat Jeni and the geng sudah pergi.


"Nggak apa apa kok. Oh ya, terimakasih udah nolongin aku. "


"It's oke, gue paling gak seneng kalo ada kasus bullying disekolah ini. Jadi gue harap gak akan ada kasus serupa untuk kedepannya. " ucap Jovan penuh harap.


Jelita tersenyum manis, ia kagum dengan sosok Jovan yang nampak berbeda dari anak anak yang lain.


"Sekali lagi terimakasih ya, kalau gitu aku cari tempat duduk dulu. "


Saat Jelita mencari tempat duduk, Sita datang menghampiri nya. "Jel, gue denger dari anak anak elu bermasalah sama Jeni and the genk. Beneran? " seolah Sita tak sabar mendengar jawaban dari Jelita, hingga tak bisa menunggu Jelita duduk dulu.


"Iya tadi, tapi udah selesai kok. " jawab Jelita sembari menjatuhkan tubuhnya kesalah satu kursi yang ada dikantin itu.


"Terus terus? Lu gak apa apa kan? " tanya Sita dengan perasaan cemas.


"Gak apa apa Ta, tadi ada Jovan yang bantuin gue. "


"Jovan?? Yang pemain basket itu?? " Sita masih merasa tak yakin dengan jawaban Jelita.


"Iya. " jawab Jeli singkat.


"Kok bisa sih elu berurusan sama mereka? " kembali Sita bertanya.


Akhirnya Jelita menjelaskan kepada Sita tentang kejadian beberapa menit yang lalu. Mendengar penuturan Jelita membuat Sita sedikit was was, sebab Jeni dan gengnya tak akan tinggal diam setelah kejadian ini.


"Jel, mending lu hati hati deh. Karna firasat gue bilang kalo mereka gak bakalan diem aja. " ucap Sita dengan penuh peringatan.


"Iya Ta, aku bakalan hati hati kok. Ya udah deh sekarang kita makan dulu, laper nih!! "


Jelita dan Sita melanjutkan makan yang sempat tertunda.


Saat jam pelajaran usai, semua siswa membubarkan diri dari sekolah. Begitu juga dengan Jelita dan Sita, Jelita pulang dengan angkot sama seperti waktu ia berangkat tadi.


Namun saat hendak menyebrang jalan, Jelita tak melihat kalau ada mobil sedan yang melintas dengan kecepatan tinggi. Dan…


"Aaaaaa……… "


***Brugh...









...Kira kira Jelita terluka gak ya? Ya udah kita ambil nafas dulu deh, jangan lupa gift and votenya juga ya.. See you next chapter bye 👋👋☕🌷😘***...