STAY ON HERE

STAY ON HERE
CHAPTER 3



Kukuruyukk...


Suara kokokan ayam mulai bersahut sahutan, dengan perlahan Jelita membuka matanya. Ia melihat ke arah jendela yang masih tertutup gorden.


"Masih gelap to? Jam berapa yo iki? " ia menggeliatkan badan nya sembari melemaskan otot otot yang kaku saat tidur tadi. Kemudian ia melihat jam yang ada didinding atas meja belajar nya.


"Emm.. Masih jam lima, ya sudah aku mau bantu bantu ibu didapur dulu. " gumamnya setelah melihat jam. Kemudian ia bangkit dari tempat tidur, dan menuju ke kamar mandi.


Setelah selesai dengan ritual paginya, Jelita merapikan tempat tidur kesayangan nya itu hingga benar benar rapi dan bersih. Baru setelahnya ia keluar kamar dan menuju dapur untuk membantu bu Lastri memasak untuk sarapan nanti.


Suara dentingan alat alat dapur mulai terdengar, harum aroma masakan pun mulai tercium menusuk indra penciuman bagi yang menghirupnya.


"Ini tolong taruh dimeja makan ya nduk. " kata bu Lastri sembari menyerahkan piring saji yang berisi menu sarapan pagi ini.


"Nggeh buk. " jawab Jeli singkat.


"Oh ya, habis itu kamu bangunin adekmu yo. Kalau Ken sudah bangun kamu langsung siap siap ganti baju buat sekolah. " titah bu Lastri pada sang putri.


"Njeh buk. " dengan segera Jelita melaksanakan perintah ibunya. Dan tak butuh waktu lama ia segera kembali keruang makan dengan sragam lengkap, lalu mereka sekeluarga menikmati sarapan dengan penuh rasa syukur.


Setelah selesai semua anggota keluarga melakukan aktivitas nya masing masing, mulai dari pak Budi yang harus mencari pembeli untuk rumahnya itu, bu Lastri yang harus bekerja setelah usaha suaminya itu bangkrut, demi untuk menyambung hidup bagi keluarga nya.


Lalu Kenzie berangkat sekolah dengan teman temannya, karna letak sekolahan nya tidak begitu jauh dari rumah. Maka Ken tidak perlu di antar jika ke sekolah, dia akan berangkat bersama teman temannya.


Kemudian Jelita pergi kesekolah dengan mengendarai motor matic kesayangan nya.


Sesampainya disekolah, Jelita segera memarkirkan motornya ditempat parkir yang sudah disediakan oleh pihak sekolah. Dengan meyakinkan dirinya dan memberi semangat pada dirinya sendiri, ia pun segera melangkah kan kakinya menuju kelas.


' Ayo semangat Jeli, jangan terlihat murung didepan mereka semua. Teman temanmu tidak perlu tahu akan masalah dan kepedihanmu, karna aku tidak ingin mereka merasa iba padaku. Ayo semangat, semangat... '


Kata hati Jeli yang terus menyerukan kata kata pembangkit untuk dirinya sendiri.


"Jeli... " panggil seseorang dari arah belakang, saat Jelita sudah tiba diambang pintu kelasnya. Dengan reflek, ia pun menoleh kearah sumber suara.


"Eh, kamu to Ris? Onok opo kok panggil panggil? " jawabnya sembari melanjutkan langkah yang terhenti.


"Semalam tak hubungin kok ndak mbok angkat to? Aku kan pengen curhat sama kamu. " tutur Risty dengan mimik wajah ditekuk.


"Eh iya, maaf lho Ris, soale aku semalam tidur cepet. Lagi kecapekan mangkanya sampek ndak denger nek kamu telfon aku. Hehe.. " kilah Jeli saat mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu. Dan sesungguhnya semalam Jelita tau kalau Risty telfon, namun ia sengaja tidak mengangkatnya karna ingin menenangkan hati dan pikirannya yang sedang kacau.


Jadi semalam Jelita memilih untuk berdiam diri dikamar, karna pikirannya yang selalu berkeliaran membuat hatinya pun tak tenang.


"Oh.. Ya wes, tak kira nek ada apa apa sama kamu. Emm.. Sini sini, aku ceritain tentang do'i. " tanpa menunggu persetujuan dari Jelita, Risty langsung menarik sahabatnya itu untuk duduk dikursi tempat mereka biasanya.


"Kemarin aku ketemu sama dia. Ih, sumpah ya Jel aku jadi deg deg an banget, grogi nervous pokoke semua nya campur aduk. Apa nek orang jatuh cintrong iku kayak gini ya rasane Jel? Menurut mu gimana Jel? "


Risty terus saja bercerita tentang kisah cintanya itu, tanpa ia tau tentang beban hidup yang sedang dialami sahabatnya ini. Bahkan Risty juga tidak mengetahui tentang rencana pindah sekolah yang akan dilakukan oleh Jelita nanti.


Dan kali ini Jelita hanya bisa menampilkan senyum palsunya didepan sahabat karib, ia berusaha mendengarkan semua curhatan Risty yang sedari tadi bicara tanpa rem.


Dalam kurun waktu satu minggu ini disekolahan Jelita sudah bebas dari pelajaran seperti biasa, karna mereka baru saja selesai melaksanakan ujian kenaikan kelas. Jadi dalam waktu satu minggu ini hanya ada acara pengoreksian hasil ujian. Bila ada yang tidak lolos dari nilai yang ditentukan, maka siswa tersebut harus melakukan remidial.


Setelah mencari tau kalau dirinya tidak harus mengikuti remidi, maka Jelita berniat untuk keperpustakaan demi mengembalikan buku buku yang ia pinjam. Karna sebentar lagi akan libur panjang.


Namun saat diperjalanan menuju perpustakaan Jelita bertemu dengan Risty.


"Jel, Jeli.. ! " panggil Risty.


"Iyo, ada apa Ris? "


"Kamu mau kemana Jel? "


"Mau ke perpustakaan Ris, kenapa? Mau ikut ta? "


"Endak, aku mau ikut remidi sosiologi. Kamu ndak ada yang diremidi ta Jel? "


"Enggak Ris, ya sudah yang semangat ya. Aku mau keperpus dulu. Bye Risty.. " Jelita melambaikan tangan pada Risty dan segera pergi dari hadapan sahabatnya itu.


"Jel, Jelita.. Yah,, ditinggalin deh. Udah remidi gak ada temennya lagi. Haduh.. !! " Risty merasa badmood karna ia harus remidi sendiri.


Saat diperpustakaan Jelita lekas mengembalikan buku buku yang sebelumnya ia pinjam, setelah itu ia mencoba membaca beberapa buku. Hal itu ia lakukan untuk mengisi waktu luang, hingga jam pulang sekolah nanti.


"Alvin, ngapain kamu disini? " tanya Jelita setengah berbisik, lantaran diperpustakaan tidak boleh berisik.


"Aku tadi mau ngembaliin buku , tapi secara ndak sengaja aku lihat dedek Jeli disini. " jawab Alvin dengan nada pelan juga.


Jelita hanya bisa manggut manggut, lalu ia kembali melanjutkan aktivitas membacanya.


"Dedek Jeli, kamu kok tak pandang pandang semakin cantik aja sih.. Jadi buat babang Al semakin cinta deh sama kamu. Ihirr.. " rayuan gombal Alvin membuat Jelita hanya geleng geleng kepala.


"Dedek Jeli, nanti pulang sekolah bareng sama aku aja ya. Nanti babang Al boncengin deh, biar kayak Dilan dan Milea. " ucap Alvin sambil senyum senyum mentap Jelita dengan genit.


"Tapi aku kan udah bawa motor sendiri to Vin, jadi lain kali aja yo. " Jelita mencoba untuk menolak secara halus.


"Wah wah.. Iyo ya, maafkan babang Al yang tampan ini yo dedek. Karna masih sering lupa, ya wes kalau begitu nanti kita iring iringan aja deh. Biar babang Al kawal dedek Jeli, demi memastikan dedek Jeli nya babang Al ini selamat sampai di rumah. " ucap Alvin dengan penuh antusias dan percaya diri.


"Memangnya Alvin gak ada yang remidi to hari ini? " Jelita mencoba untuk mengalihkan pembicaraan mereka.


"Ada dek, sebenarnya diriku ini harus melaksanakan remidi bahasa Inggris. Tapi aku muales e dek, soale aku ra mudeng babar blas (gak ngerti sama sekali). "


"Yo ndak boleh gitu to Vin, nanti kalo kamu harus tinggal kelas gara gara ndak ikut remidi gimana hayoo.. " gertak nyq secara halus.


"Iya juga yo. " Alvin tampak berfikir.


' Wah, nek sampe aku tinggal kelas. Bisa malu nya sampe tujuh turunan tujuh tanjakan ini, apalagi didepan dedek Jelita. Hiii.. Amit amit jabang kebo, ojo sampek aku nunggak (tinggal kelas) ' batin Alvin sudah lebih dulu mengambil kesimpulan.


"Em.. Ya wes kalau begitu, babang Al tak ikut remidi dulu yo. Nanti kalau pulang sekolah tungguin aku, jangan ditinggal. Oke? " ucap Alvin sembari menautkan telunjuk dan ibu jarinya membentuk huruf O.


"Iya, lihat nanti deh. " jawaban singkat Jelita.


"Da Daa.. " Alvin melambaikan tangannya pada Jelita. Dan lagi lagi gadis itu hanya menanggapi dengan gelengan kepala tanpa menghiraukan nya lagi.


Karna Jelita tidak harus ikut remidi, jadi sehabis dari perpustakaan ia segera bersiap untuk pulang. Dia mengambil motor dari tempat parkiran siswa, lalu mengendarainya untuk pulang kerumah.


Sedangkan Alvin dan Risty yang baru saja ikut remidial, mereka segera menuju ke parkiran guna mencari Jelita juga.


"Hei ty Risty.. " panggil Alvin pada sahabat Jelita itu.


"Onok opo Vin, kok teriak teriak ae sih? "


"Kamu lihat dedek Jelita gak? Aku dari tadi nyariin kok gak ada yo. " ucapnya dengan raut bingung.


"Aku iki yo lagi nyari dekne (dia). " ujar Risty singkat.


"Duh, mesti dedek Jeli iki meninggalkan ku maneh (lagi). Nasib nasib... ditinggalin terus, dek Jeli ku... kok kamu tega meninggalkan ku to dek... " ucap Alvin dengan ratapan lebay nya.


Sedangkan Risty yang melihat hal itu hanya bisa memandang jijik dan geli akan sikap teman satu angkatannya itu.


"Wong edyann.. !!! " (orang g1l@)


Risty langsung meninggalkan Alvin yang masih meraung raung ditempat itu.









...Udah dulu ya readers tercinta, kita sambung lagi di chapter selanjutnya.. ...


...Selamat hari raya idhul fitri bagi semua yang merayakan, mohon maaf lahir dan batin 🙏😁...


...Dha dha.. Bye bye 👋👋...