
"Jelita ! "
"Eh, kak Nathan. " Jelita terkejut melihat kedatangan Nathan yang tiba tiba sudah berada didepan teras.
"Sorry gue ganggu. " ucap Nathan basa basi. Suasananya tampak sangat canggung.
"Em… enggak kok kak, ada apa ya? "
"Gue kesini cuma mau ngasih ini ke elu. " Nathan menyodorkan paperbag pada Jelita. Bukannya menerima, justru Jelita terlihat bingung dengan apa yang dilakukan Nathan.
"Apa ini kak? "
"Ini adalah janji gue waktu itu. Sorry, karna gue udah ngerusak hp lu kemaren. So, ini gue beli buat gantiin hp lu yang kemaren. Gue harap lu terima Jel, biar gue gak ngerasa bersalah. "
Nathan menjelaskan panjang lebar tentang niat hati tulusnya, akan tetapi Jelita malah merasa tak nyaman dengan perlakuan Nathan. Ia bukan tipikal cewek yang selalu memandang sesuatu dari segi materi.
"Tapi kak, aku udah lupain itu. Dan aku gak bisa terima ini, aku hargain niat baik kakak ini. Terimakasih sebelumnya, maaf aku gak bisa terima. " ia mencoba menolaknya secara halus.
"Bukan gitu maksud gue Jel, gu.. gue cuma gak mau buat elu susah. Ini gak ada maksud untuk ngerendahin elu atau yang laen kok. Sueerr deh!! "
"Iya kak, aku tau kok. Hanya saja aku bener bener gak bisa terima itu. "
Jelita tetap pada pendiriannya, sesungguhnya ia sudah melupakan kejadian tempo hari. Walaupun sejujurnya, sampai saat ini ia belum ada uang untuk membeli hp baru atau bahkan hanya sekedar memperbaiki hp nya yang rusak.
"Oke kalo elu belum mau terima gak papa, tapi kalo elu berubah pikiran dan butuh benda ini. Bisa langsung bilang ama gue. " Nathan menaik turunkan alisnya dengan senyuman merekah, membuat siapa saja wanita yang melihat menjadi terpesona.
Sama halnya dengan Jelita, ia nampak salah tingkah melihat tingkah Nathan.
"Oh ya Jel, gue boleh ikutan duduk gak? "
"Oh! Boleh kak, silahkan!! " Jelita mempersilahkan nya, kemudian Nathan duduk disamping Jovan yang sedari tadi hanya diam menyimak.
"Ya udah kalau gitu, biar aku buatkan minum dulu ya. "
Saat Jelita pergi ke dapur, Jovan dan Nathan tak saling sapa. Hanya pandangan mata keduanya yang menunjukkan rasa tidak suka.
' Siapa nih cowok? Kenapa dia ada disini sama Jeli, tapi dari sragamnya itu kayaknya temen satu sekolahnya Jeli sama Sita nih. ' batin Nathan memindai pria yang seumuran adiknya itu.
Begitupun sebaliknya dengan Jovan, tatapannya memang terkesan menghindari Nathan. Tapi pikirannya terus bertanya tentang siapa Nathan.
"Ehem!!… kalian satu sekolahan? " akhirnya Nathan membuka suara juga, setelah beberapa waktu menahan tanya dalam hati.
Akan tetapi, Jovan bukannya langsung menjawab malah menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi bingung.
"Gue?? "
"Iya elu lah, emang ada orang lain disini? "
"Iya, gue satu sekolah sama Jeli. " jawabnya singkat dan jelas. Namun setelah itu suasana kembali hening, hingga Nathan kembali melontarkan pertanyaan.
"Tapi lu bukan pacarnya Jeli kan? "
Jovan menautkan alisnya ketika mendengar pertanyaan Nathan. "Emang elu siapa kok nanya nanya? "
"Gue kakaknya Sita, temennya Jelita. Satu sekolahan juga sama kalian. " dengan bangganya ia mengatakan itu semua.
"Oh. Kirain situ kakak kandung nya Jelita. Ternyata cuma kakaknya Sita toh?! " mulai dari sini Jovan paham betul mengapa Nathan mengintrogasinya.
' Kepo banget sih jadi orang, tapi kayaknya dia ada rasa nih ama Jeli. ' kata hati Jovan menduganya.
"Kok gak dijawab?! Malah mengalihkan pembicaraan. "
"Bukan urusan lu !! "Jawabnya singkat.
Mendengar jawaban Jovan membuat Nathan meradang, namun saat hendak membalasnya tiba tiba Jelita datang dari dalam rumah.
"Maaf lama kak, ini silahkan diminum ! " gadis berwajah ayu itu meletakkan secangkir teh hangat diatas meja teras.
"Makasih Jel. " senyuman Nathan membuat Jelita salah tingkah lagi. Setelah itu Jovan pun merasa tak enak hati, bagaikan orang ketiga saja ia disitu. Hingga ia memutuskan untuk pamit pulang.
"Jel, gue balik dulu deh. Soalnya tadi udah janjian sama anak anak buat ngerjain tugas bareng. "
"Lhoh, tapi lukanya udah gak papa kan kak? " ia memegang tangan Jovan yang terluka tadi sekedar untuk mengecek lukanya tadi.
"Udah gak apa apa kok Jel, gue kan laki masak luka segini aja lemah. " entah kenapa kali ini ia juga ingin membanggakan dirinya didepan gadis berwajah polos ini.
"Iya sama sama. Lain kali hati hati ya, kan gue belum bisa selamanya jagain elu dan ada disamping elu Jel. Jadi lu harus bisa jaga diri oke! "
"Hahahaa… " Jelita terkekeh geli mendengar ucapan Jovan.
"Oke oke Jo, kamu tuh udah kayak bapak aku aja nasehatinnya. Hehe… "
Padahal sudah jelas jelas Jelita menanggapi perkataan Jovan dengan bercanda, namun yang terlihat ekspresi Nathan malah seperti macan mau terkam mangsanya. Dan hal itu disadari oleh Jovan hingga kesempatan berharga ini tak akan pernah ia sia siakan.
Jovan memegang pundak Jelita sekilas lalu ia berpamitan. Dan yah, betapa puasnya Jovan saat melihat wajah Nathan memerah bak kepiting ungkep.
Setelah Jovan sudah masuk kedalam mobilnya ia tersenyum puas kearah Nathan dan Jelita. Untung kaca mobilnya tidak terlihat dari luar, jadi ia bisa puas mengumpat dari balik pintu mobil.
"Hahahaa…. Mampooss!! Rasain lu, dari tadi songong mulu sih. Haha…. Eh, tapi gue dosa gak sih ngerjain orang tua? Ah bodo amatlah, gak kenal ini kok. " setelah puas menertawakan Nathan, Jovanpun melajukan mobilnya untuk pulang.
Sedangkan Jelita dan Nathan masih ngobrol ngobrol diteras. Ingin sekali Nathan bertanya tentang cowok songong tadi, tapi gengsinya terlebih tinggi.
"Jel, cowok itu tadi temen sekolah lu? "
"Jovan maksud kakak? "
"He em. "
"Iya, dia satu sekolahan sama aku kak, beda kelas doang. "
"Tapi bukan pacar lu kan Jel? "
"Hah?? " Jeli tampak syok mendengar perkataan Nathan. "Kok pacar sih kak? "
"Soalnya tadi gue lihat elu deket banget ama dia. "
"Enggak kok kak, aku sama Jovan cuma temen biasa aja. " jawabnya jujur.
"Oh… " ada sedikit rasa lega setelah mendengar jawaban dari Jelita. "Tapi kok elu tadi ngomongin masalah luka sama dia? " jiwa keponya mulai menyeruak lagi. 😆
"Iya kak, tadi Jovan habis nolongin aku. "
"Nolongin kenapa? "
Akhirnya Jelita menceritakan tentang kejadian yang menimpanya beberapa jam yang lalu.
Dilain tempat, tepatnya disebuah rumah mewah yang berada dikawasan real estate. Beberapa anak muda sedang berkumpul mengerjakan tugas kelompok yang diberikan oleh guru mereka disekolah.
Mereka adalah Jovan dan teman temannya, saat ini mereka sedang berkumpul dirumah Jovan untuk mengerjakan tugas. Saat tengah sibuk sibuknya, ada suara bel rumah.
"Nan… nany… " Jovan memanggil art yang sedari ia kecil sudah mengasuhnya.
"Iya den. " art yang diketahui bernama mbok Yuyun itu berlari kecil mendekati Jovan.
"Tolong bukakan pintu, sepertinya ada tamu. " titah Jovan secara halus.
"Baik den. " mbok Yuyun bergegas kearah pintu utama.
Saat sudah membuka pintu, ada seorang gadis cantik yang berdiri paling depan dengan penampilan modisnya.
"Iya non, ada yang bisa dibantu? "
•
•
•
•
•
•
•
...Kira kira siapa ya tamunya Jovan? Ada yang bisa tebak, yuk komen. Biar kita lanjut di next chapter ya. Bye 👋👋😘🤗...