STAY ON HERE

STAY ON HERE
CHAPTER 24



"Eh, non Jeni. Silahkan masuk non !! " bi Yuyun mempersilahkan Jeni masuk.


"Bik, Jovannya dimana? " ia nampak celingukan mencari Jovan.


"Den Jovan ada diruang tengah non, lagi ngerjain tugas sama temen temennya. " jawabnya sambil menunjuk ke arah ruang tengah.


"Oh, oke makasih bik. Saya kesana dulu ya. "


Sebelum Jeni melangkah keruang tengah, bi Yuyun menawari minum.


"Apa aja deh bik. " katanya sambil lalu.


Kini Jeni sudah sampai diruang tengah, ia melihat Jovan dan teman temannya sedang fokus mengerjakan tugas sekolah. Ia melangkahkan kakinya dengan mantap, dan mereka pun menyadari kedatangan Jeni.


"Jeni, ada apa lu kesini? " tanya Jovan heran.


"Aku cuma mau main kok Jo, sekaligus aku mau ngundang kalian semua secara khusus. " ucapan Jeni membuat Jovan dan kawan kawannya bingung mengenai undangan khusus.


"Undangan apa Jen? " tanya David salah satu temannya Jovan, sedangkan yang lainnya hanya menyimak saja.


"Nih !! " Jeni menyodorkan beberapa lembar kertas berwarna emas. "Ini undangan pesta ulang tahun gue yang ke 18 tahun. Kalian semua harus dateng ya, terutama kamu Jo! " ucapnya dengan senyum sumringah.


"Oh, elu ulang tahun. Selamet ya Jen, wah pasti pesta lu nanti bakalan mewah dan meriah banget nih.. " sahut Marchel teman Jovan.


"Ya so pasti lah Chel, pokoknya lu pada harus dateng. oke !! "


"Oke !! " timpal mereka serempak, kecuali Jovan. Ia hanya menyimak dan tampak tak bersemangat dengan pesta itu.


Seketika Jovan mengingat tentang kejadian yang menimpa Jelita tadi. Lalu ia berinisiatif untuk mengajak Jeni berbicara, namun belum sempat Jovan membuka suara, Jeni lebih dulu menyadari luka yang ada ditangan kanan Jovan.


"Jo ! Tangan lu kenapa? " dengan cepat ia menarik tangan Jovan untuk melihat lukanya.


"Gue gak apa apa, cuma luka kecil. O ya Jen, ada yang mau gue omongin sama elu. " tanpa aba aba, Jovan langsung menarik tangan Jeni dan diajaknya menuju taman samping.


"Lu mau ngomong apa Jo? " tanyanya setelah mereka sama sama sudah duduk dikursi kayu.


"Gue mau ngomong tentang hal yang ada hubungannya sama luka ini. " Jo menunjuk luka yang ada ditangan kanannya.


"Oke, apa hubungan nya luka itu sama gue? " Jeni nampak heran dengan perkataan Jovan.


"Gue terluka karna tadi gue nolongin Jelita, pas pulang sekolah dia hampir aja jadi korban tabrak lari. Beruntung gue bisa nolongin dia dengan tepat, kalau enggak mungkin dia akan terluka parah. " jelasnya.


Dan nampak terlihat sekali raut wajah Jeni langsung berubah seketika, ia jadi terlihat gugup dan seperti menahan sesuatu. Jovan pun cukup tanggap dengan perubahan mimik wajah Jeni, walau gadis itu berusaha menutupinya.


"Sorry, bukannya gue nuduh elu. Tapi karna kejadian tadi siang dikantin, gue jadi berfikir… "


Tiba tiba Jeni menyela ucapan Jovan.


"Stop! Maksud elu ngomong kayak gini apa Jo? Lu nuduh gue? " Jeni nampak menahan amarahnya.


"No! Gue gak nuduh elu, tapi kenapa elu ngerasa tertuduh? "


"Ucapan lu barusan mengarah kesitu Jo, sejahat jahatnya gue. Gak mungkin gue ngelakuin hal itu Jo! "


"Oke, kalau emang bukan elu pelakunya, gue percaya. Tapi kalau sampe gue tau siapa pelaku sebenarnya, gue gak akan pernah kasih ampun. Apalagi kalo sampe itu semua buntut dari tindakan bullying. " perkataan Jovan penuh dengan penekanan, sehingga membuat Jeni merasa tertekan.


"Ya udah deh Jo, kalo gitu gue pamit dulu. Masih mau ketempat temen temen yang lain. " Jeni beranjak dari duduknya.


"Kok tumben cepet amat mau pulang, biasanya betah kalo lu disini. "


Lagi lagi Jeni dibuat kikuk dengan kata kata Jovan.


"Gue masih harus ngundang temen temen yang lain Jo, ya udah ya gue cabut. Bye !! " ia melangkah cepat tanpa menoleh lagi kebelakang. Sedangkan Jovan hanya bisa geleng geleng kepala melihat tingkah Jeni.


"Mau sejauh apa lu bersembunyi Jen. " ia menyunggingkan senyuman liciknya.


*


*


Tiga Hari Kemudian


Hari itu semua pelajaran sekolah berjalan dengan lancar, begitupun dengan Jelita ia sangat antusias menjalani perannya sebagai seorang siswi. Sebab tidak lama lagi, ia akan lulus dan segera melanjutkan keperguruan tinggi.


Oke, kita kembali pada cerita hari ini. Karna Jelita hanya satu kelas dengan Sita, tidak dengan genk Jeni ataupun Jovan. Jadi mereka semua hanya bisa bertemu saat jam istirahat saja. Dan kebetulannya, saat itu sudah waktunya jam istirahat. Semua siswa berbondong bondong untuk keluar kelas, ada yang menuju kantin, ada yang menuju toilet, dan lain sebagainya.


Kali ini Jelita hendak menuju perpustakaan, sebab ia akan mencari buku buku pendamping untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Seandainya belipun ia tidak memiliki cukup uang, sehingga pilihan yang tepat adalah meminjam diperpustakaan sekolah.


Saat menuju perpustakaan, ia melewati segerombolan siswa yang sedang berkerumun. Awalnya terlihat biasa saja, lama kelamaan mereka terlihat heboh. Dan saat jelita memperhatikan, tiba tiba namanya ada yang memanggil.


"Jelita… "


Merasa namanya dipanggil ia pun mendekat. "Iya, ada apa ya? " Ternyata yang memanggilnya adalah Jeni, namun kali ini gadis cantik berpenampilan modis itu hanya sendirian, tidak ada teman yang biasanya kemanapun selalu mengikutinya.


"Lu yang namanya Jelita kan? " tanya Jeni memastikan.


"Iya, ada apa Jeni? "


"Oh, ternyata lu masih ingat nama gue ya. Em… ini gue mau ngasih undangan buat elu. " ucapnya seraya menyerahkan kertas undangan.


"Undangan untuk apa? "


"Itu undangan ulang tahun gue yang ke 18 tahun, mereka semua juga gue undang kok. Lu jangan lupa dateng ya!! "


Untuk sejenak Jelita berfikir, akankah ia datang ke pesta itu? Apalagi melihat tingkah Jeni yang mendadak baik dan ramah seperti itu, membuat Jelita merasa aneh. Saat tengah bertempur dengan pikirannya sendiri, tiba tiba Jeni kembali bertanya.


"Hei, gimana? Lu bisa dateng kan? "


"Aku usahain ya Jen. "


"Pokoknya elu harus dateng, biar tambah rame. Oke! " pintanya kembali. Dan Jelita pun terpaksa mengiyakan nya.


"Oke deh, nanti aku bakalan dateng. "


"Siip, ya udah deh kalo gitu. Gue samperin temen temen yang lain dulu ya bye!! " Jeni pun pergi meninggalkan Jelita.


' Haruskah aku dateng ke acara ini? Apa aku minta pendapat Sita dulu aja ya nanti, ya udah deh nanti aku tanya Sita dulu. Sekarang mending kekantin dulu, keburu jam istirahat kelar ' Jelita bergumam dalam hati sambil menatap kertas undangan itu.


Setelah dari perpustakaan, kini Jelita sudah berada dikelas lagi sebab waktu istirahat telah berakhir. Kini saatnya mengikuti pelajaran kembali.


Beberapa jam kemudian bel tanda berakhirnya pelajaran telah berbunyi. Sebelum keluar dari kelas, Jelita berniat menanyakan perihal undangan dari Jeni tadi kepada Sita.


"Ta, kamu dapet undangan dari Jeni gak? "


"Dapet, lu dapet juga Jel? "


"Ho'oh. Tapi menurutmu aku dateng gak yo Ta? Bingung eh,… " Sita tampak menautkan alisnya.


"Bingung kenape sih lu? "


"Gak tau, perasaanku gak enak aja Ta. " nampak sekali raut wajah Jelita berubah pias.


"Udah sih, jangan mikir yang aneh aneh dulu. Kali ini banyak yang dia undang, jadi gak mungkin kalo dia bakalan ngelakuin hal konyol. Dia gak mungkin ngerjain elu Jel, lagian kan ada gue. Gue pasti jagain elu kok. "


Seolah Sita tau tentang kekhawatiran yang dirasakan sahabatnya itu, sehingga ia memberikan keyakinan pada Jelita untuk hadir diacara itu.


"Oke, deh kalo gitu. Nanti bareng aja ya Ta, aku belum tau rumah Jeni. "


"Siap! Hehehe… " setelah mendiskusikan nya dengan Sita Jelita merasa jauh lebih lega.









...Kira kira dipesta ulang tahun Jeni nanti akan ada kejadian apa ya gaes? Penasaran kan.. Yuk, kita lanjut di next chapter. See you bye bye 👋👋😊...