STAY ON HERE

STAY ON HERE
CHAPTER 8



Para preman itu menoleh ke kiri, ke kanan, sedangkan Jelita kembali beraktifitas seperti sebelum nya. Salah satu diantara para preman itu mendekati Jelita, sesungguhnya Jelita pun sangat lah takut. Namun ia tak ingin terlihat lemah didepan orang orang itu.


"Permisi kak, ada jual rokok? " tanya pria itu. Jelita mengalihkan pandangannya pada pria itu, lalu dengan memasang wajah ramah ia pun menjawab.


"Ada pak, mau rokok apa? " tanya Jelita ramah. Kemudian pria itu menyebutkan sebuah merek rokok terkenal. Dengan cekatan Jelita melayani pembeli itu, setelah selesai ternyata teman teman nya ikut nimbrung. Mereka membeli beberapa minuman dingin, Jelita sedikit ketakutan. Sebab gadis itu masih bersembunyi dibalik meja kasir.


"Kak, ada lihat gadis tomboy lewat sini? Kira kira dia seumuran sama kakak pakek topi dan jaket jeans. " tanya salah satu diantara mereka.


"Emm... Kurang tau ya pak, saya gak begitu memperhatikan. Mungkin aja kearah sana, soalnya ini kebelakang masih lumayan luas pak. " jelasnya dengan wajah polos.


Dan sepertinya penjelasan Jelita sangat bisa diterima oleh mereka. Terbukti setelah mengatakan itu, mereka semua segera pergi dari toko eyang Ningsih.


Untuk memastikan, sekali lagi Jelita melihat situasi kedepan. Dan ternyata sudah tidak ada preman preman itu lagi, lalu ia segera berlari kedalam untuk menemui gadis tadi.


"Keluar kamu! disini udah aman. " ucap Jelita sedikit ketus. Gadis itu sedikit mengintip lalu ia berdiri dan menghampiri Jelita.


"Makasih ya udah nolongin gue, oh ya. Kenalin, gue Sita ! " ucap gadis itu sambil mengulurkan tangannya. Awal nya Jelita hanya melirik saja, namun sedetik kemudian ia menyambut uluran tangan nya.


"Aku Jelita, kenapa para preman tadi bisa ngejar ngejar kamu sih? " selidik Jelita.


"Oh.. Mereka ? Sebenarnya mereka tadi lagi malakin para pedagang kaki lima dipinggir jalan raya sana. Karna gue ngerasa itu hal yang gak baik, jadi nya gue coba lawan mereka. Niatnya sih untuk ngasih efek jera aja, supaya besok besok gak diulangin lagi. "


"Eh, gak tau nya pasukan mereka banyak bener. Ya jadinya gue kalah jumlah dong ! Daripada mati sia sia disana, mending gua kabur. Dan sampailah gua disini, bye the way lu bukan anak sini yak? Kaku bener bahasa lu? "


"Iya, aku bukan asli sini. Ini rumah nenek ku, aku asli nya dari Solo. " jelas Jelita.


"Oh, Solo? Pantesan halus banget omongan lu. Udah kerja apa masih sekolah lu? " tanya Sita sembari mengambil minuman dingin dari lemari pendingin.


"Aku masih sekolah kelas tiga SMA. " jawab seperlunya. Sita nampak berfikir lalu ia tersenyum lebar.


"Serius lu kelas tiga SMA? Sama kayak gua, oh ya hampir lupa. Gua ada perlu nih, gue boleh minta tolong gak sama elu? " Sita nampak mengingat sesuatu.


"Minta tolong apa? "


"Handphone gue jatuh tadi dijalan pas lari, gak mungkin juga gua cari cari lagi kan. Nanti kalo sampe ketemu sama preman preman itu, yang ada bisa mampvs gue. " belum selesai menjelaskan, Jelita lebih dulu memotong pembicaraan.


"Terus kamu mau minta tolong apa? Jangan berbelit belit deh ! " sahutnya sedikit ketus.


"Gua mau minta tolong sama elu buat mesenin taksi online, biar mereka gak lihat gue pas dijalan nanti. " jelasnya lagi.


"Tapi aku ndak punya aplikasi seperti itu. " sesungguhnya Jelita mau membantu Sita, namun ia tidak pernah menggunakan aplikasi macam itu.


"Ah, lu katrok banget sih !! Hari gini kagak punya aplikasi transport online? Kemana aja lu !! " secepat kilat Sita meraih handphone Jelita lalu ia mendownload aplikasi itu.


"Sini, biar gua yang download in. " hanya beberapa menit saja, aplikasi itu sudah bisa terpakai dari handphone Jelita.


"Udah selesai, gue juga udah pesen taksi online. Bentar lagi dateng, ini uang minuman gua tadi. " ucap Sita sambil menyerahkan lembaran berwarna biru di atas meja kasir.


"Kembaliannya. " sahut Jelita sambil ingin memberikan uang kembalian Sita.


"Kagak usah, buat lu aja. Tuh taksi nya udah dateng, gua duluan ya. " gadis tomboy itu segera menaikki taksi online yang ia pesan. Dan mobil itu segera melaju menjauh dari hadapan Jelita.


"Anak Jakarta beda banget yo sama anak anak Solo, ngomongnya aja gue elu gue elu gitu. Aku kok jadi minder yo, hehehe… "


Jelita sedikit merasa insecure dengan lingkungan yang baru ini. Namun ia berusaha membuat dirinya agar tetap semangat.


Hari ini ia akan mempersiapkan mental dan perlengkapannya, untuk besok masuk sekolah baru.


*


*


"Jelita, ayo sarapan dulu nduk. " panggil eyang Ningsih pada cucu nya yang sedang bersiap untuk berangkat sekolah.


"Iya eyang. " sahut nya dari dalam kamar.


Tak lama kemudian Jelita keluar kamar, lalu menyusul eyangnya yang sudah lebih dulu duduk diruang makan.


"Selamat pagi eyang. " ucapnya saat duduk dihadapan eyang Ningsih.


"Ndak usah eyang, Jelita kan bisa ambil sendiri to. " tolak nya sembari tersenyum.


"Ya udah kalau begitu, ambil yang banyak biar kenyang yo. Kamu selama disini harus makan seng banyak, biar gendut. Kalau bapak sama ibukmu lihat kamu gendut, mereka pasti seneng. Tandanya kamu disini betah. " kalimat eyang Ningsih justru membuat Jelita tersenyum lebar.


"Kok bisa gitu yang, memangnya kalau gendut itu menjadi tolak ukur bagi seseorang sudah merasa nyaman dengan lingkungan? " protes Jeli.


"Yo ndak, juga seh. Tapi kalau melihat sifat bapak dan ibukmu sih seperti nya begitu. Hehe… " jawab eyang asal asalan.


"Hahaha… eyang ini ada ada saja. "


Mereka berdua melanjutkan sarapan nya hingga selesai, saat hendak berangkat sekolah Jelita berpamitan terlebih dahulu dengan eyang nya.


"Eyang, Jeli berangkat dulu ya. " ucapnya sembari menyalami tangan eyang Ningsih.


"Kamu mau naik opo nduk? "


"Jeli naik ojek online aja eyang. " jawabnya jujur.


"Itu di garasi ada motor eyang yang biasanya dipakek buat belanja mbak. Kamu pakek aja nduk ! "


Eyang Ningsih menawarkan motor yang memang biasa dipakek art untuk belanja keperluan rumah dan toko.


"Ndak usah yang, Jeli sudah pesan ojek soalnya. Ditambah lagi Jeli belum terlalu paham sama jalanan sini. Takut nyasar nanti. " jelasnya.


"Ya sudah kalau begitu, hati hati yo nduk. Belajar seng rajin. "


"Iya eyang, Jeli berangkat. "


Hanya perlu waktu sepuluh menit untuk Jeli sampai disekolah baru nya.


"Ini ongkosnya mas. " Jeli memberikan uang ongkos kepada mas ojol saat sudah tiba ditujuan.


"Terimakasih kak. "


"Sama sama... "


Setelah selesai membayar, Jelita segera melangkahkan kakinya menuju ruang kepala sekolah. Karna nanti kepala sekolah sendiri yang akan mengantar Jelita ke kelasnya.


Saat sedang menyusuri lorong sekolah, tiba tiba Jelita menyenggol seseorang.


Bugh…


"Auwhh.. " rintih orang itu. Secara reflek Jelita segera meminta maaf.


"Maaf yo mbak, maaf.. Saya ndak sengaja eh ! " ucapnya sambil mengusap lengan gadis itu.


Gadis itu nampak tidak suka dengan Jelita, karna merasa risih sudah dipegang oleh Jelita. Jadi dia mendorong Jelita hingga terhuyung kebelakang, beruntung nya ada seseorang yang menolongnya.


"Kamu… !! "









...Sampai disini dulu ya, kita sambung next chapter dha… dha… bye bye… 👋👋😉...