
"Hai Jelita.. !! " sapa Sita yang baru saja keluar dari mobil mewah itu.
"Astaga.. Ternyata kamu ta, kupikir siapa tadi, kamu dari mana kok rapi banget? "
Sita segera menghampiri Jelita dan eyang Ningsih.
"Oh ya ta, kenalin ini nenek ku. Aku biasanya panggil eyang Ningsih. " Jelita mengenalkan eyangnya kepada Sita.
"Halo eyang, aku Sita. Teman satu kelas dan satu meja nya Jelita. "
Dengan sopan, Sita menyalami tangan eyang Ningsih. Eyang Ningsih nampak senang sebab cucu nya sudah mulai bisa beradaptasi. Walau baru hari pertama ia sekolah dikota ini, namun Jelita sudah punya teman.
"Eyang senang, akhirnya Jelita punya teman disini. Sita, eyang minta tolong berteman yang baik ya dengan Jelita. Dia masih baru tinggal dikota ini, jadi kalau ada sesuatu yang mungkin kurang Jelita pahami, tolong dibantu ya nak. " kata eyang Ningsih.
"Iya eyang, Sita senang punya teman seperti Jelita. Jadi kami akan berusaha untuk saling mengerti agar bisa berteman dengan baik. " sahut Sita mantap.
"Bagus lah kalau begitu, jadi eyang gak was was lagi.. "
"Oh ya ta, kamu kok rapi banget mau kemana sih? " tanya Jelita lagi, sebab tadi belum ada jawaban.
"Gue sengaja mau maen kesini Jel, rencananya sih pengen ajakin elu hangout gitu. Itu pun kalo elu nya kagak sibuk sih.. Hehe… "
"Tapi aku gak bisa ta, soalnya aku mau belanja buat barang barang ditoko ini. Udah banyak yang abis nih !! "
"Yah... Padahal gue lagi kepengen ngajakin elu jalan jalan Jel. " terlihat raut kekecewaan dari wajah gadis tomboy nan cantik itu. Seakan tau tentang kekecewaan Sita, eyang Ningsih pun angkat bicara.
"Ya sudah, kalau kalian mau keluar ya keluar aja gak apa apa kok. Nanti biar eyang sama mbak aja yang belanja. "
"Lhoh.. Jangan eyang, biar Jelita aja yang belanja. " Tiba tiba saja Jelita menyela.
"Wait, wait.. ! Emangnya lu mau belanjanya kemana sih Jel? "
"Dipasar ta. "
Mendengar jawaban Jelita justru membuat Sita merasa girang.
"Oh ya udah, gue anter aja kalo gitu. " tawarnya.
"Aduh.. Jangan deh ta, yang ada nanti bajumu kotor semua lho. Pasar itu kan kotor, bau lagi, lagian outfit mu ini gak cocok buat dipakek kepasar tauk… "
Mendengar penuturan Jelita membuat Sita melihat penampilannya sendiri dari atas sampai bawah.
"Masak sih? Tapi gak apa apa kok. Lagian baju gue banyak kali Jel, yah… boleh ya Jel. "
Jelita menoleh kearah eyangnya, lalu eyang Ningsih mengangguk pelan sambil tersenyum.
"Ya udah, iya deh. Tapi kita naik angkot aja ya. " mendengar salah satu nama transportasi umum disebut, membuat Sita mengerutkan keningnya.
"Kenapa mesti naik angkot? Kan gue bawa mobil? " Sita benar benar tidak mengerti tentang jalan pikiran Jelita ini.
"Iya aku tau, kalau pakek mobilmu takutnya kotor nanti. Kita kan mau kepasar, bukan ke mall ! Belum lagi bawa barang barang yang super banyak, yang ada kotor luar dalem nanti ta. " perkataan Jelita justru disambut gelak tawa oleh Sita.
"Hahahaa… "
Jelita pun merasa bingung, kenapa Sita malah tertawa.
"Kenapa tertawa? "
"Ya habisnya elu lucu Jel, masak kotor luar dalam sih? Namanya mobil dipakek itu ya wajar kalau kotor, lagian kotor tinggal dicuci ini. " ucap nya santai.
"Ayo Jel, kagak usah kelamaan mikir deh!! " ucap Sita.
"E eh.. Tunggu dulu ta, belum juga pamit sama eyang. "
Sontak saja Sita melepas tangan Jelita, karna lupa akan keberadaan eyang Ningsih.
"Eh, iya maaf ya eyang. Sita sama Jelita berangkat dulu. " ujar Sita sembari menyalami tangan eyang Ningsih.
"Ya sudah hati hati kalian dijalan ya. " tutur eyang Ningsih sambil tersenyum.
"Jeli berangkat dulu ya eyang, kalau eyang capek istirahat aja. Biar digantiin embak. " Jelita tau betul bahwa eyangnya itu tidak boleh terlalu capek.
"Iya, nanti biar eyang gantian sama embak. Ya sudah, kalian berangkat sana! Takut nanti pasarnya keburu sepi lho… " pungkas eyang Ningsih.
Dan mereka berdua pun berangkat kepasar tradisional yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah eyang Ningsih, hanya butuh waktu lima belas menit saja sudah sampai.
Jelita mengira kalau Sita akan sangat jijik bila melihat pasar, tapi nyatanya tidak. Sita malah terlihat sangat senang, bahkan Sita dengan semangat membawakan barang belanjaan Jelita yang super banyak itu.
Setelah berkeliling pasar demi berburu barang dagangannya, kini Jelita mengajak Sita untuk istirahat sejenak sambil makan bakso yang ada diruko dekat parkiran.
"Ta, kita istirahat dulu yuk ! Aku capek nih, itu ada tukang bakso diruko sana. Kita ngebakso dulu mau gak? Aku yang traktir. " ajak Jeli.
"Boleh, ayuk lah kalo gitu. " Sita pun menyetujuinya.
Mereka memesan bakso dan es teh, memang segar setelah berkeliling dipasar lalu makan bakso, ditambah es teh lagi.
Seusai nya mereka pun kembali kerumah eyang Ningsih dengan setumpuk barang belanjaan untuk toko. Sita benar benar merasa senang dengan Jelita, ia merasa memiliki saudara.
Jelita memang orang yang supel, dan asik untuk diajak berteman. Berbeda dengan teman temannya yang sebelumnya, kebanyakan mereka hanya berteman dengan Sita karna tertarik akan hartanya saja. Teman teman nya itu tidak tulus berteman dengan Sita, hal itu sungguh membuat Sita merasa kecewa. Hingga ia harus menutup diri, dan lebih selektif lagi dalam memilih teman.
*
*
Hari terus berganti, pertemanan Jelita dan Sita semakin akrab dan seru. Sita sering main kerumah eyang Ningsih, namun sekali pun Sita belum pernah ngajak Jelita untuk main kerumah nya.
Hal itu terjadi karna Sita sendiri merasa tidak nyaman berada dirumah nya yang selalu sepi, tanpa kehadiran orang tua nya. Dirumah eyang Ningsih, Sita merasa memiliki keluarga baru. Eyang Ningsih pun menyayangi Sita seperti cucu nya sendiri.
Dan sudah seminggu ini, Jelita dan Sita menghadapi ujian semester. Tak terasa memang, waktu berjalan begitu saja. Jelita pun sudah enam bulan berada di kota yang super sibuk itu.
Sebentar lagi sekolah mereka akan ada libur semester, rencana nya saat libur semester ini Jelita akan pulang ke kampung nya guna menjenguk adik dan orang tua nya dikota Solo.
•
•
•
•
•
•
•
...Kita lanjut di chapter selanjutnya ya, bye.. 👋👋...