
"Ada apa Jeni? " tanya papa Jeni panik, saat mendengar teriakan putrinya.
"Pa, cincin kado dari papa dan mama tadi kok gak ada ya? " tanya Jeni dengan wajah yang panik.
"Memangnya kamu letak dimana tadi sayang? " mama Jeni pun terlihat sangat panik, sebab cincin itu bukan cincin biasa.
"Tadi ada pa dijariku, cuma memang masih sedikit kendor saat ku pakai. " ia menunjukkan salah satu jarinya yang dipakai untuk menyematkan cincin tadi.
"Lalu tadi kamu kemana aja sayang? Mungkin kamu lupa meletakkan nya disuatu tempat. " mama Jeni kembali memberi penuturan hal lain yang mungkin terjadi.
"No ma, setelah dari atas panggung tadi aku hanya menemui Jovan beserta teman temannya. Setelah itu aku kembali kesini. " jelas Jeni dengan air mata yang sudah berlinang dipipinya.
"Mungkin saja jatuh, coba kita cari lagi. Pasti masih disekitar sini, papa akan kerahkan anak buah papa untuk bantu mencari cincin itu. Kamu tenang ya sayang. " papa Jeni mencoba untuk menenangkan putrinya yang sedang kalut.
Seketika semua anak buah papa Jeni yang sedang mengamankan jalannya pesta, langsung dikerahkan untuk mencari cincin itu diseluruh penjuru ballroom. Tak terkecuali dengan para tamu yang hadir, satu persatu mereka diperiksa untuk mencari keberadaan cincin dua milyar milik Jeni.
Saat proses pencarian, Jeni terus saja menunjukkan wajah sedihnya. Sehingga semua orang pun merasa iba dengannya, bahkan terlihat sesekali sorot matanya seperti mencari cari seseorang. Teman temannya pun mencoba untuk menenangkan Jeni.
' Kemana nih gadis udik itu, kok gak kelihatan. Jangan sampe dia kabur terus bawa cincin berlian gue dan gak ketahuan. Bisa rugi besar gue !! ' ia hanya bisa bergumam dalam hati sambil terus menunjukkan wajah sedihnya.
Entah dari mana pemikirannya itu, bisa bisanya Jeni menjebak orang lain dengan cara kotor seperti itu.
"Pa, tutup semua akses keluar masuk ballroom ini. Jangan sampai pelakunya kabur pa!! " ucap Jeni merengek seperti seorang anak yang kehilangan mainannya.
"Tenang dulu sayang, papa gak yakin kalau cincin itu dicuri mungkin saja cincin itu jatuh. Mereka semua sedang berusaha mencarinya. Sabar ya.. " papa Jeni mencoba untuk menenangkan putri semata wayangnya itu.
"Tapi pa, cincin itu barang mahal siapa saja yang menemukannya sudah pasti gelap mata. "
"Iya sayang, papa tau. Tapi kita tidak boleh bertindak gegabah, sebab tamu undangan disini bukanlah orang orang biasa. Mereka semua colega dan orang orang penting dinegri ini. Papa tidak mau kita terlihat murahan, hanya karna cincin dua milyar pesta putri kesayangan papa jadi kacau semua. Bahkan biaya untuk melangsungkan pesta ini saja lebih dari dua milyar sayang. Jadi papa mohon, bersabarlah. Oke! " terang papa Jeni dengan nada penekanan.
"Dan yah satu lagi, kalau sampai cincin itu tidak ketemu juga. Relakanlah, nanti papa belikan lagi yang lebih mahal. " imbuhnya, lalu ia segera pergi dari hadapan Jeni.
Jeni benar benar merasa kecewa dengan tanggapan papanya, bukan seperti itu yang ia harapkan. Ini semua karna keluarga mereka kaya raya, sehingga kehilangan cincin dua milyar pun tidak menjadi masalah bagi seorang Jhony Alexander.
' Awas kau Jelita, gue gak bakalan biarin lu kabur bawa cincin dua milyar gue. Dasar miskin kampungan, lihat aja nanti gue bakalan mempermalukan elu didepan umum. ' seringai licik muncul dari sudut bibirnya tatkala ia mengecam Jelita.
Sungguh permainan kampungan Jeni, author harap semoga kau segera sadar. 😭
Dilain tempat, Jelita yang saat ini sangat diharapkan oleh Jeni bisa tertangkap basah oleh anak buah papanya. Justru saat ini sedang dalam perjalanan pulang, ia bersama dengan Sita keluar dari ballroom sebelum kejadian menghebohkan itu terjadi.
"Ta, sejujurnya gak tau kenapa sebelum kamu ngajak pulang tadi perasaanku gak enak banget. Tapi untungnya kamu langsung ajakin aku pulang. Rasanya tuh kayak pengen cepet pulang aja gitu. " Jelita bercerita tentang perasaan nya saat dipesta tadi, dan hal itu membuat Sita menoleh kearahnya.
"Sebenarnya gue juga ngerasain hal yang sama saat disana tadi Jel, gak tau kenapa gue pengen nyamperin elu, waktu elu lagi ngobrol sama Jovan terus tiba tiba Jeni ikutan nimbrung. " jelas Sita.
"Ho'oh, tapi saat gue nyamperin elu tadi, tiba tiba ada kejadian yang gue lihat langsung dengan mata kepala gue sendiri Jel. " terang Sita, lalu ia berhenti disebuah taman komplek. Sita mengajak turun dari mobil, kini mereka berdua sudah duduk disalah satu bangku taman itu.
" Gimana gimana Ta, tadi kamu mau cerita apa? "
"Tadi secara gak sengaja, gue lihat Jeni naruh sesuatu di tas lu Jel. Awalnya gue gak ngerti itu apa, pas gue deketin elu, barulah kelihatan barang itu. Ternyata Jeni sengaja naruh cincin berlian dia yang kado dari bonyoknya ke tas elu. Gue sendiri sih belum paham betul ya apa niatan dia ngelakuin itu, tapi demi keslamatan elu, akhirnya gue lempar cincin itu kesembarang arah. Setelah itu buru buru gue ajakin lu balik. "
Kali ini Jelita dibuat syok mendengar penjelasan Sita, pasalnya ia sama sekali tak menyangka kalau Jeni akan senekat itu. Sampai sampai dirinya hampir saja menjadi kambing hitam. Mungkin saat ini dipesta Jeni semua orang sedang kalang kabut akibat hilangnya cincin itu. Atau mungkin saja cincin itu sudah ditemukan lalu dikembalikan pada Jeni dan pesta berlangsung dengan lancar. Entah lah, yang pasti Jelita merasa trauma bila akan menghadiri pesta orang orang kaya semacam pesta Jeni ini.
"Apa salahnya aku ya Ta, sampe sampe Jeni tega ngelakuin itu sama aku? " setelah mendengar penjelasan Sita, raut wajah Jelita berubah menjadi sendu. Ia sama sekali tak habis pikir, keberadaan orang miskin seperti nya sangatlah riskan bila bercampur dengan orang kaya. Karna bisa saja ia dimanfaatkan bahkan difitnah demi kepentingan pribadi.
"Lu nggak salah apa apa Jel, emang dasarnya si Jeni aja tuh yang overthinking ama lu. Udahlah gak usah dipikirin lagi. " kali ini perannya Sita sebagai sahabat sangatlah diperlukan. Jelita sedang mode down, maka Sita sebagai seorang sahabat harus bisa menghiburnya serta memberikan semangat.
"Ngomong omong, tadi gue disana belum sempet makan nih. Lu udah makan belum Jel? "
Jelita hanya bisa menggeleng pelan, sambil pandangan nya terus menerawang kedepan.
"Ya udah, kalo gitu kita ke warteg aja mau gak? Dideket sini ada warteg yang terkenal enak makanan nya. Gimana, mau ya? " bujuk rayu Sita membuat luluh juga, sebab perut Jelita pun sudah bunyi bunyi. Cacing kreminya minta jatah makan makanan bergizi.
"Ayuk lah, aku udah laper juga nih. "
Akhirnya Sita dan Jelita membeli makanan disebuah warteg yang letaknya memang tak jauh dari taman komplek itu.
Kembali ke pesta Jeni. Saat ini pencarian cincin berlian itu masih berlangsung, bahkan wajah Jeni serta mamanya sudah sangat sedih. Namun, saat semua orang tengah sibuk mencari cincin itu tiba tiba salah satu anak buah papa Jeni mendekat, lalu membisikkan sesuatu kepada bigbosnya.
"Apa??! " pekik papa Jeni, dan sontak saja membuat Jeni serta mamanya menoleh.
•
•
•
•
•
•
...Kira kira bisik bisik apa sih gaes? Keppo deh Mamayo, ya udindang kita lanjoot di next chapter, oke!! Bye 👋👋😊...