STAY ON HERE

STAY ON HERE
CHAPTER 19



"Kak Ivan ?? "


Jeli sedikit kaget, sebab saat berbalik ia melihat sosok pria yang dulu sempat mengisi hatinya. Yah, dia adalah Ivan kakak kelas Jeli waktu dirinya masih bersekolah di kota Solo.


Saat Ivan sudah kelas tiga Jelita masih baru masuk dikelas satu. Jadi hanya sekitar satu tahun saja mereka bersama satu sekolah.


Bahkan setelah lulus sekolah ia tak pernah lagi mendengar kabar mengenai Ivan. Dulu Jelita sempat merasa suka dengan Ivan, namun selama ini ia tak pernah menyatakan cintanya.


Lantaran Jelita memang pemalu, namun Ivan sangat baik dan perhatian padanya. Hingga sikapnya itu membuat Jelita sempat melambung tinggi. Akan tetapi, kenyataan nya setelah Ivan lulus. Mereka tak pernah bertemu lagi, dan baru kali ini mereka dipertemukan kembali.


"Hai Jeli, apa kabar? " tanya Ivan dengan senyum ramahnya.


"Aku baik kok kak, kak Ivan kok ada disini? "


"Aku sedang menemani mama ku. Beliau sedang mencari bahan baku untuk pembuatan gaun gaun di butiknya. " jelas Ivan dengan gamblang.


"Oh begitu, ya sudah kalau begitu aku duluan ya kak. " ucap Jeli sebelum pergi dari hadapan Ivan, namun sedetik kemudian Ivan meraih lengannya.


"Jeli tunggu !! "


Jelita pun menoleh kembali kearah Ivan.


"Ada apa kak? "


"Aku boleh minta nomer handphone mu ndak? " tanya Ivan malu malu.


"Boleh kak. "


Tanpa ragu Jelita mendektekan nomor pribadinya. Setelah selesai, Ivan pun berpamitan dan mereka berpisah. Namun disatu sisi ada tatapan seseorang yang yang merasa tidak suka dengan interaksi dua insan itu tadi.


Setelah puas berkeliling dipasar, kini kedua tangan mereka bertiga sudah dipenuhi dengan tas belanjaan. Bahkan Sita merasa sedikit keteteran dengan belanjaan nya sendiri.


Ia benar benar kalap kali itu, sebab harga barang barang yang dijual sangat relatif terjangkau. Namun tidak mengurangi keestetikan serta kualitasnya.


Saat ini mereka sudah berada diparkiran, biasanya Sita akan selalu duduk didepan bersama kakaknya. Tapi kali ini ia langsung masuk dan duduk dibelakang bersama semua belanjaannya.


Dengan polosnya Jelita juga ikut masuk kemobil mewah itu dan duduk dibelakang, walaupun sebenarnya sangat sempit karna banyaknya barang belanjaan Sita.


"Lu ngapain disini Jel, pindah kedepan! Ntar kak Nathan marah lho.. " ucap Sita. Bukannya menuruti, Jelita justru merasa sangat bingung.


"Emangnya kenapa? "


"Kalian berdua mau menjadikanku supir pribadi? " pria itu berkata sembari menoleh kebelakang. Jelita merasa lebih bingung lagi dengan perkataan Nathan.


"Udah sana pindah kedepan Jel.. " Sita berbisik dan menyenggol lengan Jelita.


Tanpa membantah lagi, Jelita pindah kekursi depan. Nathan sedikit melirik kesamping untuk memastikan kalau Jelita sudah duduk dengan benar.


Baru beberapa menit mereka menempuh perjalanan, tiba tiba terdengar suara notifikasi dari handphone Jelita.


Dengan sigap Jelita membuka kunci layar benda pipih itu, yang tanpa sengaja dilihat oleh Nathan kode sandinya.


Jelita nampak dengan cekatan mengetik pesan untuk orang disebrang sana, terlihat raut senyuman terukir diwajahnya.


Melihat hal itu membuat Nathan sedikit tidak suka. Cepat cepat ia mengambil alih perhatian Jelita dari kegiatan nya itu.


"Kita makan dulu yuk, kakak laper nih !! "


"Boleh, mau makan dimana kak? " tanya Sita dengan antusias.


"Lhah, kenapa tanya kakak? Kan yang orang sini Jelita. " sahut Nathan sembari melirik gadis manis disampingnya ini.


"Gimana Jel, ada rekomendasi kuliner yang enak gak disini? " tanya Sita.


Mendengar kedua kakak beradik itu menanyakan tentang kulineran kepadanya. Ia pun berfikir akan mengajak kesuatu tempat yang disitu banyak pedagang kaki lima menjajakan dagangannya, mulai dari makanan berat maupun ringan, bahkan desert serta jajanan pasar pun biasanya banyak dijual.


"Ya udah kita ke Manahan aja kak, disana makanan kaki lima gitu sih. Tapi enak enak kok, banyak pilihannya juga. Gimana Ta, mau gak? " ucap Jeli meminta pendapat Sita dan Nathan.


"Boleh ! " sahut mereka bersamaan.


Mobil pun melaju sesuai arahan petunjuk jalan dari Jelita, ternyata tak butuh waktu lama untuk tiba ditempat itu. Setelah memarkirkan mobil, mereka bertiga segera mencari stand yang sekiranya cocok dengan selera makannya.


Makanan sudah dipesan, akan tetapi membutuhkan waktu beberapa menit untuk menyajikannya. Saat tengah menunggu, Jelita terus saja berbalas pesan dengan Ivan.


Bahkan tak jarang Jelita jadi senyum senyum sendiri saat ia sedang memainkan benda pipih itu. Hal tersebut benar benar membuat Nathan merasa tidak nyaman, entah mengapa ia menjadi tidak suka melihat Jelita berinteraksi dengan orang lain dan terlalu berlebihan.


' Pasti dia lagi chat an sama cowok tadi deh, gua harus berbuat sesuatu. ' kata hati Nathan saat melihat Jeli tengah asik sendiri.


Tiba tiba saja terlintas sesuatu dipikirannya..