
"Hai anak anak… "
Sapaan pertama pria itu saat melihat segerombolan anak anak sedang bermain.
"Onok opo mas? " tanya salah satu diantara mereka.
Pria itu sempat berfikir sejenak, lalu tersenyum.
"Maaf ya dek, kakak gak bisa bahasa daerah. Kalian bisa bahasa nasional kan? " tanya pria itu lagi.
"Bisa kak, ada apa? " sahut anak itu lagi.
"Emm,, kakak mau cari rumahnya Jelita. Disebelah mana ya? Kalian ada yang tau? " tuturnya penuh kelembutan. Mendengar nama kakaknya disebut, Kenzie pun menoleh lalu berdiri dan mendekati pria itu.
"Ada apa kak? Kakak ini siapa? " seolah Ken takut kalau kalau pria dihadapannya ini berbahaya.
"Kakak sedang mencari adik kakak, katanya dia sedang liburan disini bersama temannya yang bernama Jelita. " jelasnya.
"Kakak ini kakaknya mbak Sita? " tanya Ken memastikan.
"Iya betul, nama kakak Nathanael. Panggil aja Nathan, kamu kenal sama Sita? "
"Iya tau, aku adiknya kak Jelita. Kalau begitu ayo aku antar kakak kerumah. " ucap Ken, lalu ia mengambil mainan kesayangannya dan berjalan menuju rumah yang ia tempati.
Tanpa diperintah, Nathan pun ikut berjalan dibelakang Kenzie. Setelah tiba didepan rumahnya, Kenzie membuka pintu lalu memanggil kakaknya.
"Mbak…!! Mbak Jeli… "
"Iyo… onok opo? " sahut Jelita dari arah dapur.
Kemudian Jelita berjalan kedepan, langkahnya pun sempat terhenti saat melihat kakaknya Sita sudah berdiri di depan pintu rumahnya.
"Ini lho mbak, ada kakaknya mbak Sita katanya nyariin mbak Sita. " jelas Ken, sebelum ia pamit untuk main lagi.
"Silahkan duduk kak, Sita nya lagi ada dibelakang. Biar saya panggil dulu. " ucap Jeli sebelum ia berlalu kebelakang. Nathan pun tak menyahuti perkataan gadis cantik itu.
"Siapa yang dateng Jel? " tanya Sita dari arah belakang rumah.
"Itu ada kakakmu didepan Ta. "
"What?? Kakak gue, yang bener lu Jel? Kenapa dia bisa tau alamat elu? "
Jelita hanya bisa menunduk mendengar pertanyaan Sita.
"Ya udah gue temuin dulu deh. " ia segera menemui kakaknya diruang tamu.
*
*
"Ada apa kak? Kenapa elu harus kesini sih? " tanyanya tak senang.
"Gue kesini nyariin elu, kenapa lu kemarin kabur gitu aja?! Bikin susah semua orang aja. Elu juga gak mau angkat telfon gue. " ucapan Nathan terlihat bahwa ia sangat kesal pada adiknya ini.
"Gue bukan anak kecil lagi kak, sebelumnya gue juga udah bilang kalau gue mau liburan ke Solo. Tapi elu malah maksa gue buat ke Bali. " sahut Sita dengan nada yang sedikit meninggi.
"Elu kenapa sih Ta, gak pernah mau nurut sama gue? Masih aja kayak bocah, gua kira udah tambah dewasa, nyatanya enggak. "
"Udah deh kak, gak usah elu ngurusin hidup gue. Mending lu balik sono!! "
"Lu gak sopan Ta… " tangan Nathan sudah melayang di udara, namun dengan sigap Jelita yang baru datang dari dapur segera menahan tangan Nathan.
Hal itu membuat Sita dan Nathan menolah kearah Jelita.
"Elu?? Jangan ikut campur… "
"Aku gak akan pernah biarin kakak berbuat kasar sama Sita. " ucap Jelita lantang.
"Dia itu adik gue, jadi udah kewajiban gue buat ngedidik dia jadi lebih baik. So, elu gak usah ikut campur !! " Nathan tak kalah tegas dari Jelita.
Sepersekian detik mereka terpaku didalam pikiran masing masing. Hingga suara Sita mengembalikan fokus masing masing.
"Ehm !! Kalian udah selesai pandang pandangannya? " tanya Sita dan sukses membuat kedua anak manusia itu salah tingkah.
"Mm… maaf kak! "
"Aku juga minta maaf, karna udah kasar dirumahmu. Aku akan pergi dan cari penginapan disekitar sini. " tutur Nathan yang sudah frustasi.
Saat Nathan hendak keluar, tiba tiba pak Budi masuk. Ia sedikit heran saat melihat ada pria didalam rumahnya.
"Eh, ada tamu to? " tanya nya dengan senyum ramah.
"Iya pak, maaf. Perkenalkan ini kakak saya, dari Jakarta namanya Nathan. "
Sita mencoba memperkenalkan kakaknya kepada pak Budi.
"Oh ini kakaknya Sita? "
Nathan maju mendekati pak Budi, lalu mengulurkan tangannya dan disambut oleh pqk Budi.
"Iya pak, saya Nathan kakaknya Sita. "
"Ya sudah, ayo duduk dulu mas. Jangan sungkan sungkan, Jeli mas e ndak ditawarin maem nduk? "
Nathan dan Sita yang bingung dengan perkataan pak Budi, hanya bisa saling pandang. Jelita mengerti dengan kebingungan kedua kakak beradik ini, ia pun segera menjelaskannya.
"Maksud bapak, kak Nathan disuruh makan dulu. "
"Oh, tidak usah repot repot pak. Tadi saya sudah makan saat dijalan, kebetulan sekarang saya mau keluar untuk mencari penginapan di dekat dekat sini. Karna selama Sita ada disini saya juga akan disini untuk mengawasinya. Itu perintah dari orang tua kami. "
Nathan mencari alasan agar ia bisa tetap ada di kota itu. Namun perkataan nya justru membuat Sita bingung.
' Sejak kapan orang tua gue mulai perduli sama anak anaknya? Selama ini kan mereka cuma peduli sama perusahaan dan saham mereka aja. Wah, pasti ini semua akal akalan kakak doang nih… '
Kata hati Sita menerka nerka.
"Oh nak Nathan mau cari penginapan to? Kalau mau tinggal disini saja, kebetulan adiknya Sita tidur sendiri, jadi bisa bareng sama Kenzie dari pada harus dipenginapan. Itu sih kalau nak Nathan tidak keberatan tinggal di rumah sederhana ini. "
Ternyata pak Budi malah menawarinya tinggal disitu, Nathan pun tersenyum.
"Apa gak ngerepotin nantinya pak? "
"Endak… ndak ngerepotin kok, kalau mau bapak malah senang, istri saya juga pasti akan senang nantinya. "
"Emm… baik lah kalau begitu, saya ucapkan terimakasih banyak ya pak. " ujarnya dengan senyum melebar.
"Sama sama, ya sudah kamu cari adikmu nduk. Biar dia bantu bantu mas Nathan, bapak mau istirahat dulu sebentar. Nanti bapak balik kerja lagi, mas Nathan ! Tidak usah sungkan lho ya. Bapak tinggal dulu. "
"Baik pak, selamat istirahat. "
•
•
•
•
•
•
•
...----------------...