
Sudah sekitar satu minggu Nathan dan Sita menginap dirumah kontrakan Jelita. Mereka benar benar mendapatkan pengalaman baru ditempat itu, karna kehidupan yang sangat berbeda dari kehidupan mereka di Jakarta.
Biasanya semua kebutuhan mereka selalu disiapkan oleh para pelayan, sekarang semuanya harus disiapkan sendiri. Hari itu Jelita ingin mengajak Sita dan kakak nya untuk liburan kedaerah pegunungan, tepatnya dikaki gunung Lawu yang berada dikabupaten Karanganyar.
Dengan senang hati Nathan dan Sita mengikutinya, dan saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju tempat wisata air terjun yang memang sangat familiar ditempat itu.
Perjalanan mereka tempuh kurang lebihnya sekitar dua jam, selain Sita Nathan dan Jelita, Kenzie juga turut bersama mereka.
"Masih jauh lagi gak ini? " tanya Nathan sambil menatap kearah kaca yang mengarah ke Jelita dibelakang.
"Dikit lagi kak, depan situ nanti ada plangnya tinggal masuk ke kiri aja. " jelas Jelita.
Benar saja, lima menit kemudian mereka sudah tiba digerbang wisata yang terkenal itu. Nathan menawarkan diri, agar dirinya saja yang membayar semua tiket mereka.
Ternyata didalam sangatlah sejuk dan asri, bahkan Sita sudah siap untuk basah bsahan. Mereka semua sengaja membawa baju ganti, sebab selain di air terjun itu, disediakan kolam renang juga.
Selain Sita, Kenzie pun juga terlihat sangat antusias. Dan saat ini hanya tinggal Jelita serta Nathan yang duduk disalah satu kursi pengunjung. Mereka hanya melihat dua orang yang berbeda usia itu saling bermain air.
"Jel ! " suara Nathan tiba tiba menarik perhatiannya.
"Iya kak. " Jelita mengalihkan perhatiannya pada pria tampan disampingnya.
"Thanks… "
"Untuk?? " Jelita bingung, mengapa pria ini mengucapkan kata terimakasih.
" Untuk kebaikan lu sama adik gue, karna selama ini gue gak pernah lihat dia punya temen sedeket elu sama dia. "
Jelita semakin tertarik dengan pembicaraan Nathan.
"Gue tau betul, kalau selama ini dia sangat kesepian. Bokap nyokap kita sangat sibuk, jadi gak pernah ada waktu buat anak anaknya. Dan gue selalu berusaha untuk bisa mengisi kekosongan hatinya, mencoba untuk jadi kakak yang baik buat dia, tapi yang ada justru dia semakin menjauh dari gue. "
"Dia selalu bilang kalau dia bukan anak kecil lagi, padahal gue cuma gak pengen dia ngerasa kesepian, tapi ya itulah Sita. So, gue hanya bisa berusaha menjaga dia dari jauh. Gue sangat merasa kalau dia adalah tanggung jawab gue, dan gue sangat sayang sama dia. "
Matanya terlihat berkaca kaca saat mengatakan itu semua.
"Aku salut sama kalian kak, kalian begitu tegar. Aku juga melihat Sita sangat kuat, walaupun mungkin sebenarnya hatinya sangat rapuh. Dan aku sangat beruntung bisa punya temen kayak dia. "
Nathan menoleh ke arah Jelita, ia tersenyum pada gadis polos nan cantik disampingnya itu.
' Manis!! '
Satu kata yang ia gambarkan saat melihat wajah Jelita.
"Em, oya. Gue denger dari Sita, lu baru ya pindah ke Jakarta? Sebelumnya sekolah lu disini? "
Nathan berusaha mengalihkan pikiran anehnya.
"Iya kak, aku pindah ke Jakarta sekitar enam bulan yang lalu. " jawab Jelita tanpa menoleh ke arah Nathan.
"Dan lu betah tinggal di Jakarta? "
Pandangan mereka sempat bertemu sepersekian detik, dan hal itu membuat Jelita salah tingkah.
"Ehm,. " ia mencoba menghilangkan groginya saat Nathan terus terusan menatapnya.
"Ee… kak aku mau ikut mereka berenang dulu. Kayaknya seru deh. " tanpa mengajak Nathan, Jelita segera berlari menyusul Sita dan Kenzie.
Sedangkan Nathan hanya tersenyum penuh arti, tatapan matanya memang tak bisa dibohongi.
' Kenapa nih jantung gue? Kok cepet banget. ' Nathan bergumam dalam hati sembari memegangi dadanya.
Dan setelah puas menikmati keindahan alam ditempat itu, mereka semua kembali pulang, karna hari memang sudah mulai petang.
*
*
Dua hari setelah liburan kemarin, kini mereka bersiap hendak ke pasar untuk mencari beberapa oleh oleh untuk teman teman serta keluarga yang ada di Jakarta.
Karna rencana nya lusa mereka semua sudah harus kembali ke Jakarta lagi. Waktu liburan akan segera usai.
Kali ini mereka ke pasar tradisional namun sudah terlihat lebih bersih dan tertata rapi. Untuk belanja kali ini mereka membeli kain batik serta baju batik khas kota ini.
"Kamu mau motif yang mana Ta? " tanya Jeli saat Sita memilah milih kain.
"Aku mau yang ini aja Jel, simpel tapi kelihatan elegan. "
Sita mengambil kain batik dengan motif yang simpel namun tetap terlihat mewah. Jelita juga membelikan kain batik untuk eyang serta mbak yang bekerja disana.
Saat Jeli sedang asik memanjakan matanya, tiba tiba ada seseorang yang menepuk pundak nya dari belakang.
Puk… puk… puk !!
Sontak saja ia melihat ke belakang, dan terlihat raut wajahnya sedang terkejut saat melihat orang dibelakangnya.
•
•
•
•
•
•
•
...----------------...