
Hari ini barang barang dirumah lama akan dipindah ke rumah kontrakan yang baru. Jelita ikut membantu mengangkat barang yang memang sudah tertata rapi didalam kardus.
Satu persatu kotak kotak kardus itu diletakkan diatas mobil truk yang mereka sewa, sengaja menyewa truck karna barang mereka lumayan banyak. Walau pun sebagian sudah banyak yang dijual, tapi tetap saja masih banyak yang tertinggal.
"Coba dicek lagi barang barang kalian, masih ada yang tertinggal ndak !" titah pak Budi pada putra putri nya.
"Njeh pak. " sahut Jelita dan kenzie bersamaan. Setelah itu mereka berjalan cepat menuju kamar masing masing yang ada dilantai dua, setibanya dikamarnya Jelita memandangi seluruh sudut ruangan itu dengan tatapan sendu.
"Selamat tinggal kamarku yang penuh kenangan. Aku akan berusaha dengan giat untuk belajar agar kelak aku bisa menjadi orang sukses. Supaya nanti aku bisa membeli rumah ini lagi. "
"Pokoknya harus semangat Jelita, jangan pernah menyerah. Anggap saja rumah ini sedang dikontrak sama orang lain, dan suatu saat nanti rumah ini akan kembali lagi menjadi milik keluarga kami. "
Ujarnya penuh dengan semangat, ia terus saja memberi pemikiran yang positif untuk dirinya sendiri. Jelita sangat yakin, bahwa kelak ia akan membeli rumah ini lagi. Sebagai tanda bakti dan rasa terimakasih nya terhadap orang tua, maka dari itu saat ini lah ia harus berjuang mulai dari nol.
Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, semua keluarga pak Budi segera pergi dari rumah itu untuk menempati rumah kontrakan yang baru.
Untuk sampai dikontrakan mereka, hanya membutuhkan waktu dua puluh menit saja dari rumah lama. Setelah tiba disana, mereka bergotong royong untuk mengangkat barang barang untuk dimasukkan dulu kedalam rumah.
Setelah semua barang turun dengan selamat, pak Budi mendekati anak dan istrinya.
"Maafkan bapak ya nduk, le, buk. Untuk sementara kita harus tinggal disini dulu, saat ini bapak hanya mampu mengontrak rumah sederhana ini, kelak kalau kondisi keuangan kita sudah mulai stabil. Kita bisa cari tempat yang agak legaan sedikit. " tutur pak Budi dengan perasaan bersalahnya, sebab ia hanya bisa mengontrak rumah yang bisa dibilang kecil dan sangat sederhana.
Namun beruntungnya pak Budi memiliki istri dan anak anak seperti mereka, yang mau menerima kondisi sulit seperti ini.
"Ndak apa apa kok pak, yang penting kita semua harus tetap semangat. Jangan menyerah, kita pasti bisa bangkit lagi, iya kan nduk le? " sahut bu Lastri dengan senyum yang menyejukkan hati.
"Iya buk, pak. Ndak usah khawatir, kami tau ini semua hanya sementara kok, Tuhan pasti sedang menyiapkan hal yang besar untuk keluarga kita nanti. Jadi kita harus tetap semangat, yak kan dek? !" imbuh Jelita dengan raut wajah ceria nya.
Seakan ia tau tentang kegelisahan orang tuanya, dia pun tak ingin membuat rasa bersalah orang tua, terutama ayahnya semakin dalam atas kehidupan yang mereka jalani saat ini.
"Iya kak, kita semua harus tetep semangat. " sorak Kenzie dengan penuh semangat.
Mereka menata barang barang itu sampai malam tiba, namun belum juga selesai. Akhirnya mereka memutuskan untuk melanjutkan kegiatan itu di esok hari.
*
*
Tak terasa hari terus berlalu, kini tibalah saatnya untuk para siswa mengambil raport hasil ujian kemarin. Untuk pengambilan raport, harus ada wali murid yang datang kesekolah.
Begitu juga dengan Jelita, hari sebelumnya ia sudah mendapat undangan untuk diberikan kepada orang tuanya. Seperti biasanya pak Budi lah yang hadir untuk mengambil raport Jelita.
"Pak, itu ruangan nya. " Jelita menunjuk sebuah ruang kelas yang ada dilorong sekolah.
"Bapak tunggu aja disana, nanti akan dipanggil kalau sudah waktunya. " terang Jelita.
"Iya nduk, bapak kesana dulu ya. Kamu tunggu aja disini. Biar bapak ndak perlu jauh jauh nyariin kamu nanti. " pinta pak Budi.
"Nggeh pak. " sahut Jelita. Lalu pak Budi berlalu dari hadapan Jelita.
Dari kejauhan terdengar sayup sayup suara yang menyebut nama Jelita.
"Jeli.. "
Perlahan Jelita menoleh kesamping kanan lalu kiri, ia mencari siapa yang telah memanggil namanya itu.
"Dedek Jelita ku.. " suara itu semakin jelas dan ternyata Alvin yang sedang memanggil Jelita.
"Kamu to Vin? Ada apa kok panggil panggil? " jawab Jelita saat tau kalau yang memanggilnya ternyata Alvin.
"Bapak ku, lha kalo kamu siapa yang ngambilin? " tanya Jelita balik.
"Lha kalo aku yo jelas kanjeng mami ku to yang ambil, hehe.. Soalnya papi ku lagi sibuk kerja diluar kota. " jelas Alvin.
Saat mereka berdua sedang ngobrol, tiba tiba muncu lahl Risty.
"Hei.. !! " sentak Risty.
"Eh copot, copot.. Kathok copot muncrat.. Eh !! " saking kaget saat Risty muncul, keluar lah kata kata latah dari mulut Alvin.
Hahahaha...
Dan hal itu malah membuat Risty serta Jelita tertawa lepas, mereka merasa lucu dengan kata kata latah nya Alvin.
"Oalah Vin Vin... Ndak ada kata kata lain yang lebih keren gitu apa yak? Haha.. " ucap Risty sambil terus tertawa memegangi perutnya.
"Kamu itu saru banget sih Vin, masak latah nya begitu. " sahut Jelita yang merasa geli dengan ucapan Alvin tadi.
"Duh, ya maafkan babang Al mu ini to dek, ini semua gara gara nenek lampir yang satu ini. " ucap Alvin geram sambil menoyor kepala Risty.
"Adoh !! " teriak Risty sembari memegangi kepalanya yang sakit akibat perbuatan Alvin.
"Kapok !! Sukurin, salah siapa kamu membuat harkat dan martabat ku jatuh bertubi tubi didepan dedek Jeli ku. " protes Alvin.
"Dih, lha iku yo salah mu sendiri to... Salah siapa lanang ( lelaki) kok latah. Iku nama nya gak jentel !! " bantah Risty.
"Opo? Oh... Brani kamu yo ngatain aku, dasar nenek lampir bojo ne grandong. "
"Enak aja kamu ngatain aku lampir bojone grandong, hei gayung rombeng. Bojoku iku guanteng ya, manis, puinter.. Gak kaya kamu itu, dasar gayung rombeng."
"Woolhaa.. Bocah iki matane sewer yo? (Anak ini matanya bermasalah ya?) lha wong guantheng e kayak gini kok dibilang gayung rombeng iku lho. Bilang ae kamu itu iri, soale kamu gak bisa dapetin aku, yo kan? Eh tak bilangin yo, sory sebelume. Kamu iku bukan tipe ku sama sekali, jadi jangan berharap lebih. Tipe ku iku yo kayak dek Jelita gini, ya kan dek? "
Sebelum Risty menjawab perkataan Alvin, Jelita lebih dulu memotongnya.
"Uest ta lah... Kok podo ngamuk ngamuk an iki ngopo'o seh? (Udah lah... Kok pada berantem ini kenapa sih?) kalian gak malu ta dilihatin orang banyak gitu? " ucap Jelita yang berusaha melerai kedua teman nya itu.
Tiba tiba saja pak Budi datang menghampiri Jelita dan kedua temannya.
"Nduk, ini raport mu. " tutur pak Budi sembari menyodorkan buku raport milik Jelita.
Dengan wajah yang berbinar Jelita perlahan lahan membuka buku raport yang kini ada ditangannya.
•
•
•
•
•
•
•
...Udah dulu ya bestie, kitq sambung di chapter selanjutnya. 👋👋...