STAY ON HERE

STAY ON HERE
CHAPTER 2



Jelita berjalan menuju teras, seperti yang dikatakan ibunya tadi. Dan ternyata disana bapak nya sedang duduk dikursi sembari memandangi tanaman bunga bunga yang selama ini ditanam oleh bu Lastri.


"Pak, bapak panggil Jelita ya, ada apa pak? " tanya nya dan seketika pak Budi menoleh kearah Jelita.


"Iya nduk, duduk dulu ya. Bapak mau ngomong sebentar. " titah pak Budi.


"Ada apa pak? " tanya Jeli penasaran.


"Sebelumnya bapak sama ibuk mau minta maaf sama jelita, kalau selama ini bapak dan ibuk belum bisa bahagiain Jelita dan Kenzie. "


Sebelum melanjutkan perkataannya, pak Budi menghela nafas dalam dalam.


"Hhuuffhh.. Seperti yang Jelita ketahui, kalau usaha bapak sedang tidak dalam kondisi baik. Dan membuat kita semua harus pindah dari rumah ini, tapi bapak dan ibuk akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian semua. "


"Maka dari itu, bapak sama ibuk sudah sepakat untuk menitipkan mu ke tempat eyang di Jakarta sana. Supaya Jeli bisa bersekolah dengan baik. Jeli dan Kenzie adalah harapan masa depan untuk bapak dan ibuk. "


"Jeli harus tetap bersekolah dengan baik nak, bapak yakin disana Jeli bisa mendapatkan pendidikan yang layak. "


"Tapi pak, Jeli gak mau kalau harus jauh dari bapak dan ibuk. Nggak apa apa kalau Jeli harus berhenti sekolah pak, Jeli akan bantuin bapak dan ibuk. Jeli akan bekerja, asalkan bapak, ibuk dan Kenzie tetap bersama Jeli, Jeli mohon pak!! Hiks hiks hiks.. "


Tangisan Jeli luruh juga saat mendengar permintaan bapaknya. Sejujurnya Jeli mau diajak susah bersama orang tuanya, ia tau betul keadaan orang tua nya yang sedang susah. Ia juga sudah mempersiapkan diri agar bisa sekolah sambil bekerja.


Dia sama sekali tidak berekspektasi untuk keluar dari kota Solo, apalagi tanpa keluarga nya.


"Bapak dan ibuk juga gak mau kalau harus jauh dari kamu nduk. " sahut bu Lastri yang baru saja muncul dari dalam rumah.


"Ibuk.. Hiks hiks hiks.. " Jelita langsung menghambur ke pelukan ibu nya saat melihat bu Lastri.


"Maafkan ibuk sama bapak ya nduk, ini semua kami lakukan demi kebaikan kamu. Walaupun orang tuamu susah, kami nggak ingin melihat anak anak kami juga ikut susah nanti nya. " tutur bu Lastri menasehati putrinya.


Sedangkan Jelita hanya bisa menangis sesenggukan dipelukan sang ibu sembari geleng geleng kepala. Menandakan bahwa dia tak mau bila harus jauh dari orang tua nya.


"Jeli.. " pak Budi memegang pundak putrinya.


"Bapak mau tanya sama Jeli, Jeli sayang gak sama bapak, ibuk dan Kenzie? " tanya pak Budi dengan nada lembut.


"Sssa yangg p pak.. " jawab Jelita sambil menahan tangis nya.


"Kalau Jeli sayang sama kami, Jeli mau kan berjuang bersama sama dengan kami? "


"Dengan Jeli ke Jakarta ikut eyang, Jeli sudah sama saja dengan berjuang bersama bapak dan ibuk. Tugas Jeli disana hanyalah belajar yang rajin, selesaikan sekolah Jeli dengan nilai terbaik. "


" Agar Jeli nanti bisa diterima di universitas yang bagus, syukur syukur bisa ikut program beasiswa. Jadi setidaknya bisa membantu bapak dan ibuk kan nduk? " jelas pak Budi yang mencoba memberikan penjelasan dengan harapan putrinya itu mau untuk pindah ke Jakarta.


Perlahan lahan Jelita mengurai pelukannya lalu mengusap air matanya yang sudah membasahi wajah cantiknya.


"Tapi nanti bapak sama ibuk gimana disini? Adek Kenzie juga gimana? Jeli ndak tega jika harus jauh sama kalian dalam kondisi yang seperti ini buk, pak. Hiks hiks hiks.. "


"Percaya saja sama Tuhan nduk, semua pasti baik baik saja. Kita sama sama berdoa, supaya kondisi ini tidak harus berlangsung lama. Moga moga saja, bapak dan ibuk bisa segera merintis usaha baru lagi. Bisa bangkit lagi, supaya kita bisa secepatnya kumpul kembali. Hem? "


Bu Lastri tetap berusaha meyakinkan Jelita agar putrinya itu mau menerima saran dari mereka.


Sebenarnya ia tak ingin membantah dan menolak permintaan kedua orang tuanya, namun disatu sisi ia tak tega bila harus meninggalkan keluarga nya dalam kondisi yang terpuruk seperti ini.


Karna sebagai anak pertama, ia sadar akan tanggung jawabnya terhadap keluarga. Anak pertama mempunyai tanggung jawab yang besar kepada keluarga, harus menjadi contoh yang baik juga terhadap adik adiknya.


Dan itu membuat Jeli harus berfikir seribu kali lipat, jika ia harus meninggalkan keluarga nya.


Akhirnya perlahan lahan Jeli memantapkan hatinya untuk memberi jawaban kepada bapak dan ibuk.


"Emm.. Iya pak buk, baiklah Jeli mengerti kondisinya. Jeli sudah mengambil keputusan, Jeli akan menuruti permintaan bapak dan ibuk. "


"Huhff.. " sebelum melanjutkan perkataannya, ia mengambil nafas dalam dalam lalu menghembuskan nya.


"Jeli mau ikut eyang di Jakarta, Jeli akan kesana. Tapi Jeli minta waktu sampai libur kenaikan kelas nanti, seminggu lagi Jeli ambil raport, lalu setelah itu libur panjang. Saat libur itu nanti Jeli akan kesana, tidak apa apa kan pak, buk? "


Pak Budi dan bu Lastri saling pandang dan melempar senyum, lalu pak Budi menjawab, sedangkan bu Lastri berbinar senyum.


"Boleh nak, nanti bapak dan ibuk akan mengantar Jeli kesana. Bapak dan ibuk sendiri yang akan memastikan sekolahan terbaik buat Jeli. " tutur pak Budi dengan senyum merekah dibibirnya.


"Terimakasih ya pak buk, Jeli sayang sama kalian semua. " Jelita langsung berhambur memeluk kedua orang tuanya.


"Ya sudah, sekarang mending kamu bantuin ibuk packing barang barang kita ya nduk. Karna mulai besok akan ada mobil yang mengangkutinya. " ujar bu Lastri.


"Baik buk, memangnya sudah ada kontrakan yang akan kita tempati nanti? " tanya Jelita penasaran.


"Sudah nduk, kemarin bapak sama ibuk sudah lihat tempatnya. Dan sudah dibayar DP nya, jadi barang barang kita bisa mulai dibawa kesana. " jelas bu Lastri.


"Lagipula rumah ini sudah harus dijual nak, orang orang dari bank terus saja mendesak bapak. Jadi mau ndak mau kita harus segera mengosongkan rumah ini, agar kita bisa segera mencari pembeli dan segera melunasi hutang hutang bapak. " imbuh pak Budi.


Jelita hanya bisa manggut manggut saja saat mendengar penjelasan dari orang tuanya, bersyukurnya ia mendapatkan didikan yang baik dari pak Budi dan bu Lastri. Sehingga ia tidak mengeluh saat situasi seperti ini, ia bisa mengerti dan menerima kondisi orang tuanya yang sedang kesulitan itu.


"Ya sudah, ayo sekarang kita beres beres saja, tidak ada yang boleh sedih sedih lagi yo. Semuanya harus semangat, oke! " sahut pak Budi.


"Semangat " jawab Jelita dan bu Lastri serempak. Lalu mereka kembali mengemasi barang barang yang akan dibawa kerumah kontrakan nanti.









...Udah dulu ya readers tercinta, kita lanjut lagi di chapter berikutnya.. Da da.. Bye bye.. 😘👋👋...