STAY ON HERE

STAY ON HERE
CHAPTER 7



Rombongan keluarga pak Budi tiba di Jakarta sekitar pukul empat sore, sebab mereka berangkat melalui jalur darat dan perjalanan ditempuh kurang lebih selama tujuh jam.


Sekitar pukul tiga sore hari, mereka telah sampai dirumah eyang Ningsih. Eyang Ningsih merupakan ibu kandung dari pak Budi yang selama ini memang tinggal di Jakarta. Pak Budi sendiri memiliki dua saudara kandung, namun kedua saudaranya tidak tinggal dikota yang sama.


Pak Budi anak kedua, kakak nya perempuan tinggal di Jerman sebab sudah menikah dengan orang sana dan tinggal menetap disana. Sedangkan adik pak Budi juga perempuan yang kini tinggal di Lombok dengan suami dan keluarga nya.


Jadi, kini tinggal lah eyang Ningsih yang tinggal di kota metropolitan itu sendirian, dan lantaran pak Budi merupakan anak laki laki sendiri ia tidak enak bila harus meminta bantuan pada saudara saudara nya yang anak perempuan.


Sehingga pak Budi memilih untuk memendam masalah nya sendiri, hanya kepada ibunda nya saja ia mau berbagai keluh kesah. Sebagai bentuk bantuannya untuk anak laki laki satu satunya dikeluarga itu, bu Ningsih memberi tawaran agar Jelita dipindah ke Jakarta. Supaya biaya sekolah dan kehidupannya dibantu sang nenek.


Suami bu Ningsih merupakan pensiunan angkatan militer, beliau sudah lebih dulu berpulang kerumah Tuhan sekitar sepuluh tahun yang lalu. Jadilah bu Ningsih tinggal di Jakarta hanya dengan para pembantu saja.


Bu Ningsih mempunyai usaha sampingan, beliau membuka toko kelontong disamping rumahnya. Toko itu memang tidak terlalu besar, namun cukup untuk menambah pemasukan nya selain dari uang pensiunan mendiang suami.


Saat keluarga pak Budi tiba dirumah bu Ningsih, beliau sempat menangis. Akibat kabar yang menimpa putranya itu sempat membuat kesehatan bu Ningsih drop. Tapi demi anak dan cucunya, ia harus semangat. Karna Jelita akan tinggal disana bersamanya, dan hal itu cukup membuat hatinya senang. Setidaknya ia tidak akan kesepian lagi, karna kedepannya ada cucu nya Jelita yang akan menemani.


"Apa nggak lebih baik kalian semua ikut tinggal disini Bud? Setidaknya kalian bisa memulai usaha yang baru disini, nanti ibu akan membantu mu mencari pekerjaan yang bagus. Selain itu, Lastri juga bisa membantu ibu berjualan ditoko kan? " bujuk bu Ningsih pada putra dan menantunya.


"Mohon maaf sebelumnya buk, bukan nya kami menolak untuk tinggal dengan ibuk. Tapi kami masih ada urusan yang harus diselesaikan disana, walau bagaimanapun uang yang hilang itu sangatlah banyak. Aku akan berusaha untuk mencari pelakunya !! " pak Budi mencoba menjelaskan tentang kondisi yang terjadi.


Bu Ningsih pun mencoba untuk mengerti, beliau tau kalau putranya sedang memperjuangkan hak nya.


*


*


Hari ini pak Budi dan Jelita mendatangi sebuah sekolah swasta yang berada tak jauh dari rumah bu Ningsih. Mereka sengaja memilih sekolah swasta karna sudah beberapa kali mendatangi sekolah negri, namun tidak ada yang mau menambah siswa baru. Itu dikarenakan tahun ajaran yang hanya tinggal satu tahun lagi, jadi memang sulit mencari sekolahan yang mau menerima siswa baru saat mendekati ujian kelulusan.


SMA HARAPAN BANGSA


Saat ini pak Budi dan Jelita sedang menunggu di ruang kepala sekolah, dimana kepala sekolah dan dewan yang bersangkutan sedang meneliti berkas berkas milik Jelita. Sekaligus mereka sedang menilai, apakah gadis polos berwajah cantik ini pantas untuk diterima menjadi siswa disekolah itu.


Semua trekrecord Jelita dari sekolab lama pun benar benar dinilai, walaupun sekolah swasta tapi mereka sangat memperhitungkan tentang bibit bebet bobot siswanya.


"Bagaimana pak, apakah putri saya dapat diterima disekolah ini? " tanya pak Budi saat kepala sekolah kembali keruangannya.


"Begini pak, sebenarnya untuk siswa kelas dua belas yang dimana sudah mendekati ujian nasional ini, kami tidak dapat menerima lagi pak. Tapi... "


Pak Budi sempat merasa khawatir akan keputusan pihak sekolah, akankah mereka mau menerima putri nya agar bisa belajar dan bersekolah disekolahan itu?


"Karna kami melihat prestasi dari ananda Jelita, maka dari pihak sekolah memutuskan untuk menerimanya menjadi salah satu siswi disekolah ini. Dan diharapkan kedepannya, ananda Jelita bisa cepat dalam beradaptasi dan mengikuti semua peraturan yang ada disekolah ini. " jelas pak Kepala sekolah.


Mendengar penerimaan itu, Jelita dan pak Budi sangat bahagia. Mengingat betapa sulitnya mencari sekolahan yang mau menerima Jelita dibeberapa hari terakhir ini, membuat mereka sedikit bernafas lega.


"Terimakasih banyak pak, saya akan berusaha semampu saya untuk menyesuaikan diri secepatnya. " ucap Jelita dengan binar kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya.


"Saya juga mengucapkan terimakasih banyak ya pak pada sekolah ini, karna sudah mau menerima putri saya. Selama putri saya sekolah disini kedepannya mohon bimbingannya, saya titip putri saya. " imbuh pak Budi.


"Amin, saya usahakan ya pak. " sahut Jelita sambil tersenyum.


"Ya sudah kalau begitu saya pamit dulu pak, nanti untuk masalah administrasi nya akan segera kami selesaikan secepatnya. " pak Budi mulai berpamitan pada kepala sekolah.


"Iya baik pak, silahkan. Hati hati dijalan, Jelita sampai ketemu di ajaran baru nanti ya. " pungkas kepala sekolah. Lalu pak Budi dan Jelita bergegas meninggalkan ruangan kepala sekolah.


Semua kebutuhan sekolah untuk Jelita sudah disiap kan oleh eyang nya, mulai dari pakaian sekolah, buku buku yang diperlukan, sampai biaya administrasi nya pun sudah dibayar lunas oleh eyang Ningsih.


Orang tua Jelita sudah kembali ke Solo, setelah semua urusan persiapan sekolah putrinya sudah selesai. Saat ini Jelita sedang membantu nenek nya berjualan di toko kelontong, tepatnya sehari sebelum masuk tahun ajaran baru disekolah baru.


Saat Jelita sedang mengelap etalase yang terlihat kotor dan berdebu, tiba tiba saja ada seorang gadis yang sepantaran dengannya berlari sambil terus menoleh kearah belakang.


Ketika tiba didepan toko, gadis itu menoleh ke arah Jelita. Tanpa berfikir panjang, dia langsung berlari kearah Jelita, namun saat dihadapan Jelita bukan nya berhenti, malah terus berlari lalu bersembunyi dibalik meja kasir.


Seketika Jelita teriak teriak.


"Hei.. Mau apa kamu, hei kamu maling ya, maling.. Maling.. !! "


Gadis penyusup itu terlihat mendegus kesal, lalu berjalan cepat kearah Jelita.


Hup..


"Emmm... mmm… m… " Jelita berusaha memberontak, sebab gadis itu membekap mulut nya. Lalu membawa Jelita duduk dilantai tempat persembunyiannya tadi.


"Diamlah, kalau kau ingin selamat dan tokomu aman. Aku sedang dikejar kejar sama preman di ujung gang sana, aku hanya ingin menumpang sembunyi sebentar. Berjanjilah tidak teriak dan kau akan menolong ku, maka aku akan melepaskan tanganku dari mulut mu. "


Jelita melihat dari sorot mata gadis itu, ia tau bahwa gadis ini bukan orang jahat. Tanpa berfikir panjang, ia menganggukkan kepalanya. Dan perlahan lahan gadis itu melepas tangannya dari mulut Jelita.


"Huh… huh…huh!! " nafas Jelita sedikit tersengal akibat dibekap tadi. Didepan toko, ternyata ada segerombolan pria berpakaian seperti preman yang terlihat sedang mencari seseorang.









...Udah dulu ya bestie, kita sambung dichapter selanjutnya, bye bye 👋👋...