STAY ON HERE

STAY ON HERE
CHAPTER 6



Risty baru saja tiba dari warung, ia tidak perlu menaiki motor karna warungnya dekat dari rumah. Begitu sampai didepan rumah ia melihat ada motor sahabatnya yang terparkir rapi, dengan mempercepat langkahnya ia segera masuk kerumah.


"Jelita !! " kata pertama nya saat melihat Jelita.


"Eh, Ris. Sory yo, aku main kesini gak ngomong kamu dulu. Hehe.. "


"Ndak apa apa Jel, oh ya tak kebelakang dulu ya. Mau ngasih ini sama simbok. " ucapnya sembari menunjukkan sebotol minyak goreng ditangannya.


"Iya silahkan. " lalu Risty pergi kedapur, dan tak lama kemudian Risty kembali keruang tamu sembari membawa nampan yang berisi makanan ringan serta minuman dingin.


"Dicicipi Jel, ini yang buat ibukku sendiri lho. " kata Risty sambil menyodorkan makanan ringan buatan ibuk nya.


"Iyo Ris, makasih. "


"Oh ya, ngomong omong kamu dari mana Jel? " tanya Risty.


"Aku dari rumah Ris, sengaja mau maen kesini kok. " jawabnya jujur.


"Lha tapi aku kemaren dari rumahmu kok kosong yo? " ternyata hari sebelum nya Risty sudah lebih dulu main kerumah Jelita, namun karna rumah itu sudah tidak dihuni lagi jadinya kosong.


"Emm.. Sebenere aku kesini iku mau cerita sama kamu Ris, tapi kamu ndak sibuk to? Aku takut ganggu waktumu eh. " tutur Jelita yang memang tidak enak hati dengan Risty.


"Yo ndak apa apa to Jel, kamu mau cerita apa? Ngomong ae. "


"Jadi gini Ris, bapak ku itu sebenere lagi dapet musibah. Usaha batiknya rugi besar bahkan sekarang ini sudah bangkrut gara gara ditipu sama temene sendiri. "


"Hah?!! Mosok to Jel, sejak kapan kok aku ndak tau." Risty benar benar kaget dengan ucapan Jelita, pasalnya selama ini Jelita tidak pernah bercerita apapun tentang masalah itu.


"Kasusnya sudah sebulan kurang lebih, tapi aku pindah dari rumah lama ku baru beberapa hari terakhir ini kok Ris. " jelasnya.


"Lha kenapa kamu ndak mau cerita sama aku Jeli.. Kamu gak nganggap aku sebagai sahabatmu to? " Risty sedikit kecewa sebab Jelita tidak mau bercerita dengan nya mengenai kondisi keluarga nya.


"Bukane aku ndak mau cerita sama kamu Ris, aku cuma ndak mau kamu ikut kepikiran terus malah jadi ngrepotin. "


"Ngrepotin piye lho kamu itu... Seenggak nya kan kamu bisa berbagi kesedihan mu itu sama aku Jel, biar aku sebagai sahabatmu ini ada gunanya dikit gitu lho.. "


"Iyo maaf ya Ris, tapi Sebenere ada hal lain yang lebih penting seng mau tak ceritakno sama kamu. " Jelita tampak ragu ketika ingin menceritakannya pada Risty, namun hal itu justru membuat Risty semakin penasaran.


"Onok opo to Jel? Cerita'o.. " titah Risty.


"Besok aku mau ke Jakarta, aku harus pindah sekolah disana ikut eyang ku. " Jelita tak mampu melihat wajah polosnya Risty.


"Sek, sek, sek... Maksudmu gimana to? Aku masih belum paham, kamu mau pindah sekolah di Jakarta ikut eyang mu? " Risty mengulangi pernyataan Jelita tadi, hanya ingin memastikan lagi.


Alhasil Jelita hanya bisa mengangguk sambil tertunduk, ia tidak mampu melihat wajah Risty karna itu akan membuatnya semakin sedih dan berat untuk pindah ke Jakarta.


"Tapi kenapa mesti pindah to Jel? Ndak ada cara lain kah? " kali ini Risty sudah berkaca kaca matanya.


Risty sudah tak tahan lagi, ia langsung saja menangis dan berhambur memeluk Jelita. Hingga membuat Jelita terisak tangis juga.


Awalnya Risty merasa tak rela, sebab jika Jelita pindah ia akan sulit mencari teman sebaik Jelita disekolah. Risty memang tipikal anak yang tidak mudah bergaul dan berteman dengan orang baru. Selama ini hanya Jelita yang mau menemaninya dan sangat akrab dengan nya.


Akan tetapi ia harus rela melepas sahabatnya itu untuk pergi, mungkin saja dalam kurun waktu yang lama mereka tak akan berjumpa lagi. Risty benar benar merasa sedih.


Setelah selesai berpamitan dengan Risty, Jelita segera pulang sebab ia juga harus mempersiapkan dirinya untuk keberangkatan esok hari.


*


*


Waktu telah menunjukkan pukul delapan pagi, Jelita dan keluarga nya sudah ditunggu mobil travel didepan rumah. Satu persatu barang barang milik Jelita yang akan dibawa sudah dimasukkan kedalam bagasi.


"Ayo nduk, le, kita berangkat. Mobilnya sudah menunggu ini. " tutur pak Budi pada putra putrinya yang masih didalam rumah.


Tak berselang lama, Jelita dan Kenzie sudah keluar lalu masuk kedalam mobil, disusul bu Lastri dan pak Budi.


Sebelum mobil benar benar jalan, pak Budi mengingatkan Jelita lagi.


"Barang barangmu sudah semua kan nduk? "


"Sudah kok pak. "


"Ya sudah, sebelum berangkat kita berdoa dulu ya. " pak Budi memberi aba aba untuk berdoa dulu sebelum memulai perjalanan panjang mereka.


Setelahnya mobil travel yang mereka naiki melaju menuju kota tujuan, hanya sekitar dua kali pemberhentian saat dijalan. Saat berhenti dijalan mereka gunakan kesempatan itu untuk buang air dan istirahat sejenak.









...Sampai disini dulu ya bestie, kita lanjut di chapter selanjutnya bye bye 👋👋...