
"Apa ?!! " pekik papa Jeni.
"Ada apa pa, udah ketemukan cincinku? Siapa yang ambil pa? Pasti orang miskin dan kampungan yang ambil cincin aku, ya kan pa? " suara Jeni terdengar lantang dan tak difilter. Hal itu membuat beberapa tamu undangan yang ada didekat mereka menoleh ke arah Jeni.
"Susssttt… kecilkan suara mu sayang. " bisik mama Jeni saat menyadari situasi disekitarnya.
"Tapi ma itu benerkan!! " bantah Jeni lagi.
Tak ingin situasinya semakin runyam, papa Jeni membawa putri tunggalnya yang bawel itu untuk menjauhi keramaian.
"Ada apa sih pa, kok bawa Jeni kesini? "
"Tenang dulu Jeni, biar papa jelaskan. Cincinmu tidak hilang nak, ini cincinmu. " papa Jeni menyerahkan cincin itu kepada Jeni.
"Lhoh, udah ketemu ya pa. " senyuman licik menyeruak dari bibir Jeni. Dalam hatinya sangat bahagia, sebab ia mengira kalau bidikannya tepat sasaran. "Terus pelakunya mana pa? " tanyanya penuh dengan percaya diri.
"Pelaku siapa yang kamu maksud sayang? Sudah papa bilang, cincinmu ini tidak hilang. Tadi anak buah papa menemukannya dibawah pot bunga, mungkin karna cincin ini masih sedikit longgar dijarimu, mangkanya saat kau pakai tadi jatuh. " terang papa Jeni.
Seketika wajah Jeni merah padam saat mendengar penjelasan papanya. Tatapan matanya menjadi kosong, pikirannya melayang.
' Gak mungkin, jelas banget aku sendiri yang naruh cincin itu ditas sicewek udik. Bisa bisanya cincin ini ketemu dibawah pot bunga? Jangan jangan dia sudah nyadar kalau ada cincin ditasnya. Wah, gak bisa didiemin nih! Kenapa dia bisa lolos terus sih? Waktu itu dia lolos karna ditolongin Jovan, sekarang dia lolos lagi. Awas kamu cewek udik !! ' Jeni bermonolog dalam hati, tak henti hentinya ia mengumpat Jelita.
"Jeni, ayo kembali kepestamu. Sebentar lagi kita akan akhiri pesta ini, karna suasana diluar sudah tidak enak. Jadi lebih baik kita tutup saja acaranya. " setelah mengatakan itu, papa Jeni melangkahkan kakinya untuk kembali ke ballroom.
Melihat putri kesayangannya masih tak bergeming, mama Jeni pun menghampirinya.
"Sayang, ayo kita kedepan. Cincinmu sudah ketemu bukan? Maka tersenyumlah, putri mama yang tercantik akan terlihat manis bila tersenyum. " ujar mama Jeni sembari melempar senyumnya.
"Iya ma, ayuk kita kedepan. " ucap Jeni dengan muka masam yang sangat kecewa. Langkahnya pun terasa berat, dia benar benar tidak habis pikir dengan kegagalannya ini.
Setelah itu, pesta mereka pun berakhir, dengan gagal nya penjebakan Jelita tadi, jadi bertambah lah rasa benci Jeni kepada Jelita.
*
*
Satu bulan pun berlalu setelah kejadian pesta Jeni, baik Jeni maupun Jelita jarang berkomunikasi. Itu karna mereka tidak satu kelas, ditambah lagi Jelita terkesan menghindari Jeni. Sebab Sita sudah sering mewanti wanti agar sahabatnya itu jaga jarak dari Jeni. Mereka tahu betul bahwa kejadian saat itu merupakan unsur kesengajaan, sehingga cukup bagi mereka untuk mawas diri.
Jelita pun sudah mulai menambah bimbel diluar jam pelajaran sekolahnya, hal itu ia persiapkan untuk mengikuti program beasiswa saat masuk perguruan tinggi nanti.
Sepulang sekolah Jeli hendak menuju tempat parkiran motor, sudah dua minggu ini ia kesekolah menggunakan motor. Kendaraan roda dua itu ia dapat dari orang tuanya, dari hasil bisnis baru yang ditekuni pak Budi dan bu Lastri menghasilkan sedikit tabungan. Sehingga tabungan itu bisa mereka kirimkan ke Jelita, lalu dibelikan sebuah motor matic second.
Setelah tiba diparkiran sekolah, Jelita menggunakan jaket, sarung tangan serta helm. Sebelum menjalankan motornya, ia melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Waktu saat itu menunjukkan pukul tiga sore, butuh waktu sekitar setengah jam saja untuk bisa tiba dilokasi bimbel.
Dengan kecepatan sedang, Jelita mengendarai motornya menuju lokasi bimbel. Ketika tiba dilokasi ia segera menanggalkan jaket serta helm.
"Hei Jel, baru nyampe ya? " tanya teman baru Jelita ditempat bimbel.
"Eh Doni, iya nih. Kamu sudah nyampe dari tadi ya? "
"Iya beb, ya sudah masuk yuk! "
Jelita dan Doni masuk ke dalam dengan posisi merangkul lengan Jelita dengan posesif. Sesekali Jelita menolak, namun Doni tak menghiraukannya.
"Doni, jangan gitu lho… risih akunya. "
"Alah… gue tuh udah biasa begini kalo lagi jalan. Kayak baru kenal aja deh ! " sungut Doni dengan gaya feminim nya.
"Lha emang kita kan baru kenal Don. " Jelita pun tak mau kalah darinya.
"Ish… rempong deh yey. " antara Doni dan Jelita saling tatap dengan pandangan sengit, namun tangan Doni masih melingkar di lengan Jelita. Tak lama kemudian.
"Ha ha ha hhh… " mereka tertawa secara bersamaan.
Yah, begitulah pertemanan Doni dan Jelita, mengingat pribadi Jelita yang tidak memilih milih dalam pertemanan, serta Doni yang memang supel serta lucu, membuat mereka berdua klop saat bersama.
Selesai menyelesaikan bimbelnya, Jelita gegas melajukan motor kesayangannya kerumah eyang Ningsih.
Waktu pun berjalan begitu cepat, kini langit sudah menggelap. Teriknya cahaya matahari telah digantikan dengan indah nya cahaya rembulan.
"Aku merindukan keluargaku, semoga mereka semua diberikan kesehatan. Oya, bentar lagi kan aku mau lulusan, lebih baik aku hubungi dulu mereka. Supaya nanti mereka semua bisa hadir diacara kelulusanku."
Gadis cantik berwajah polos itu pun mulai mengambil gawainya, kemudian mulai menghubungi orang tuanya dikampung.
"Hallo pak, pripun kabare? "
(hallo pak, gimana kabarnya?)
"*Begini pak, Jeli mau ngasih tau kalau bulan depan ada acara kelulusan Jeli. Kalau berkenan bapak, ibu sama adek dateng ya kesini. "
"Njeh pak, matursuwun*. "
(iya pak, terimakasih).
Setelah mengatakan maksudnya, Jeli segera mengakhiri panggilan.
Dihari berikutnya, Jelita kembali menjalankan aktivitasnya disekolah seperti biasa. Pagi itu menjadi hal yang sangat menyebalkan baginya, sebab baru saja tiba disekolah tiba tiba saja ia bertemu dengan Jeni.
Dimana Jelita tau betul, dan masih sangat ingat tentang penjebakan dirinya yang dilakukan oleh Jeni dipesta ulang tahunnya kala itu. Selama ini Jelita berusaha agar tidak bertemu dengan Jeni, namun entah kesialan apa yang terjadi padanya. Hingga ia bisa bertemu dengan Jeni pagi ini.
Saat itu Jeni and the genk sedang berada ditaman dekat tempat parkir sepeda motor, kebetulan Jelita memang baru saja tiba. Seperti biasanya, gadis itu memarkirkan sepedanya diparkiran.
Saat Jelita melintas, Jeni langsung nyeletuk. "ehm.. bau apa nih gaes, kok kayak bau sampah busuk sih? Kalian cium bau busuk juga gak? " ucap gadis berkulit putih itu sembari menutup hidungnya dengan gaya jijik.
Dan seolah teman teman Jeni pun menyetujui permainan gilanya itu, sehingga merekapun ikut menjawab. "hu'umt nih, beneran bau banget ishh.. uwweeekkk" sahut Chenil yang memang terkenal sangat resek.
Mendengar perkataan mereka, Jeli sempat terhenti beberapa detik. Namun ia kembali ingat, bahwa tidak seharusnya ia membalas. Akhirnya tanpa berkata ia kembali melanjutkan langkahnya.
Akan tetapi Jeni tiba tiba saja menarik tangan Jelita. "Hei udik, loe gak ngerasa kalo loe itu kayak sampah. " ucap Jeni dengan angkuhnya.
Jelitapun menunduk, perlahan ia menoleh kebelakang. "A-apa maksud kalian? " jujur saja Jelita sangat gugup saat itu.
"Eh, ini peringatan terakhir ya buat elo. Jangan pernah loe deketin Jovan lagi, kalo sampe gue tau loe kegatelan sama Jovan lagi, bakalan gue buat loe dikeluarin dari sekolah ini. Cam kan itu? " ancam Jeni kepada Jelita.
"Tapi aku gak ada hubungan apa apa sama Jovan Jen, serius deh!! " Jelita masih berusaha membela dirinya. "Ah, gak usah ngelak deh lue!! Gara gara sikap loe yang kegatelan itu, Jovan jadi sering deketin elu kan? Pokoknya gue gak mau lagi lihat loe deket deket ama Jovan! Kalo loe masih ngeyel, abis loe ama gue!! " telunjuk Jeni tepat mengarah ke wajah Jelita.
Usai mengatakan hal itu, Jeni dan teman temannya segera meninggalkan Jelita yang masih terlihat syok.
Tiba tiba pundaknya ditepuk dari belakang, Jeli pun sempat gugup. Sesegera mungkin ia menghapus air mata yang sempat menetes tadi, lalu ia berbalik arah.
Ternyata Sita yang sudah berdiri dibelakangnya, secara tidak sengaja Sita mendengar suara Jeni tadi. Saat dilihatnya, ternyata Jelita sudah dalam kondisi terintimidasi.
"Loe gak apa apa kan Jel? " tanya Sita.
"Udahlah, mulai sekarang sebisa mungkin hindari mereka. Jeni and the gank itu terkenal kejam, gue gak mau loe sampe kenapa napa karna mereka. Toh sebentar lagi kita lulus kan? Gue harap sih gak akan sulit untuk menghindari mereka, termasuk Jovan! "
Sita menekankan nama Jovan, sebab ia tau penyebab Jeni memusuhinya adalah Jovan.
"Iya Ta, aku bakalan lebih hati hati kok. Ya udah deh, kita ke kelas yuk! "
Kini dua bersahabat itu pun melangkah bersama menuju ruang kelas mereka.
...****************...
Waktu pun terus bergulir, setelah melalui ujian Nasional yang sangat memusingkan. Hari ini adalah pengumuman hasil kelulusan, juga sekaligus sebagai penentu berakhirnya masa putih abu abu.
Pagi ini semua siswa sudah berkumpul disekolahan, terutama siswa kelas dua belas atau kelas tiga SMA. Wajah mereka terlihat sangat antusias menantikan hasil kelulusan itu, mereka juga merasa was was. Takut kalau sampai tidak lulus.
Saat pengumuman sudah diterbitkan, sekaligus mereka diberi amplop. Terlihat kecemasan diwajah Jelita dan Sita.
"Duh Ta, kiro kiro aku lulus gak yo. Aku nervous eh! " ujar Jeli harap harap cemas.
"Ya udah langsung cek aja Jel, kita bukak bareng bareng ya. "
Sita mengajak Jelita agar segera membuka amplopnya.
"Satu! "
"Dua! "
"Tiga! "
"Aaaaa... yeayy..!! "
"Waaa... hahahaha... "
"Aku lulus Ta! "
"Sama Jel, aku lulus juga! huuu... "
Satu persatu suara teriakan para murid mulai terdengar, mereka bereuvoria tentang reward kelulusan yang diterima atas kerja keras mereka selama tiga tahun ini.
Jelita pun memeluk Sita, begitu juga murid yang lain nya saling bertukar kebahagiaan.
Dari pihak sekolah pun memberikan pengumuman kepada semua siswa kelas tiga. Bahwasanya, minggu depan ada acara resmi kelulusan disertai acara perpisahan.
Dan pihak sekolah secara resmi mengundang orang tua murid kelas tiga agar dapat hadir diacara itu nantinya.
"Oh ya Jel, bapak sama ibuk loe dateng kan diacara minggu depan? " tanya Sita saat dijalan hendak mengantarkan Jelita pulang.
"Moga moga sih bisa dateng ya Ta, sebelumnya sih udah aku kabarin mereka biar dateng. " jelasnya.
"Oh gitu, enak ya jadi elu. Bokap nyokap lu peduli banget, nah gue?! Gue sih yakin yak, kalo acara nanti paling cuma kakak gue yang bisa dateng. Gue aja udah dua tahun gak ketemu bokap, kalo nyokap tahun lalu gue masih ketemu. " ungkap Sita dengan wajah sendu, tangan Jelita pun secara otomatis terulur mengelus pundaknya.
"Tapi it's oke, gue udah terbiasa kok. Dan gue bersyukur karna kakak gue baik banget sama gue, dia selalu perhatian sama gue, dia juga selalu menomor satukan gue dari pada kepentingannya sendiri. Kak Nathan lah yang selama ini menggantikan sosok orang tua buat gue, selama ortu gue sibuk dengan kerjaannya. " imbuhnya.
"Lalu, bagaimana sama kakak kamu yang tinggal diBali itu Ta? Apa dia gak pernah jenguk kamu juga toh? " jiwa keppo nya Jeli mulai menyeruak.
"Oh, kak Angel? Semenjak nikah dia udah sibuk sama keluarganya sendiri, dia pun mau kesini karna gak ada bokap sama nyokap jadi males. Palingan gue sama kak Nathan yang nyamperin kesana kalo lagi liburan. " jelas Sita.
"Ya udah, nanti kalau papa sama mama mu gak bisa dateng biar diwakilin sama ibuk ku aja. Gimana? " tawar Jeli yang mencoba menghibur sobatnya ini.
"Emang ibuk mau Jel? " Sita nampak antusias dengan tawaran Jeli.
"Mau lah, kenapa enggak? "
"Wah, thankyou so much ya Jel. You are my best friend. hehe.. "
Tak terasa mereka berdua sudah tiba didepan rumah eyang Ningsih. Setelah mengantar Jeli, Sita lekas tancap gas menuju rumahnya.
Tiga hari setelah pengumuman kelulusan itu, Jelita yang sedang membantu eyang Ningsih menjaga toko kelontongnya, tiba tiba saja mendapat sebuah email yang masuk di telfon genggam nya.
"Ada email dari siapa ini yo? "
Perlahan gadis kelahiran kota Solo itu mengeluarkan gawai nya lalu membuka email tersebut.
"Ya gusti... iki temenan ta? Maturnuwun gusti.. " tak terasa air matanya pun mengalir deras usai ia membaca isi email itu.
Eyang yang saat itu tengah bersantai didepan televisi mendengar suara Jelita, ia pun segera bangkit untuk melihat cucunya.
"Ada apa nduk? " tanya eyang Ningsih dengan nada khawatir.
"I i ini lho yang, Jeli dapet email dari kampus yang kemarin Jeli ikutin program beasiswa nya. Dan ternyata Jeli diterima yang, jadi Jeli bisa lanjutin kuliah dengan jalur beasiswa. " ucap Jeli dengan penuh semangat, walaupun awal awalnya grogi.
"Lhoohh... iya ta nduk? Wah, selamet ya nduk cah ayu. Eyang yakin kalau cucu eyang ini anak yang pintar. Doa eyang selalu bersamamu ya nduk, semoga masa depanmu cerah dan kelak menjadi orang yang sukses. " sahut eyang dengan penuh harap.
"Amin, terakasih banyak ya yang atas doanya. "
"Iya nduk, sama sama. Ya sudah kalau begitu kamu jangan lupa kabari orang tuamu ya, soalnya besok mereka kan berangkat kesini. Barang kali ada berkas atau keperluan apa yang kamu butuhkan bisa nitip sama mereka. " saran eyang benar adanya, sehingga Jelita pun menyetujuinya.
"Oke deh yang, Jeli telfon bapak dulu ya. "
Dengan semangat Jelita menelfon bapaknya yang ada dikampung, ia pun menceritakan tentang beasiswa itu.
Sama dengan eyang Ningsih, pak Budi pun juga sangat bahagia saat mendengar berita tentang beasiswa yang diterima oleh Jeli.
Hari pun berganti, jam sudah menunjukkan pukul satu siang hari. Pagi tadi Jelita sudah mendapat sms dari bapaknya, kalau hari ini pak Budi serta keluarga berangkat dari kota Solo menuju Jakarta pukul tujuh pagi tadi.
Kalau sesuai estimasi sih seharusnya sebentar lagi mereka akan sampai. Namun entah mengapa siang itu perasaan Jelita sangat tidak tenang, ia merasa gelisah.
kring.. kring.. kring..
Dering ponsel nya berbunyi, Jeli melihat nomor yang memanggil tidak tersimpan dihp nya.
"Sopo iki sek telfon? " ia hanya bisa bertanya tanya sendiri. Kemudian ia mengangkatnya.
"Hallo? "
"Iya betul, ini siapa ya? "
"Apa?? "
Bruugghh..