STAY ON HERE

STAY ON HERE
CHAPTER 5



"Wah... !! "


"Selamat ya nduk, tingkatkan terus prestasimu. Bapak bangga sekali sama Jelita. " ucap pak Budi sambil memeluk putri semata wayang nya.


"Iya pak, terimakasih banyak ya pak. "


Sedangkan Risty dan Alvin saling pandang, lalu beralih melihat Jelita yang sedang memegang raport.


"Kamu juara satu lagi Jel? " tanya Risty antusias.


"Iyo Ris. " jawab Jeli dengan binar di wajahnya.


"Wahh... Selamat yo dedek Jeli ku, aku ikut seneng dan bangga sama kamu lho.. " kata Alvin dengan gaya lebay nya. Namun tiba tiba Risty memukul bahu Alvin.


Plakk..


"Aduuhh.. Sakit tau, nenek lampir ngapain seh pegang pegang aku? " ujar Alvin sembari mengusap usap lengannya dengan gaya jijik.


"Eh, wong g3nd3ng.. Kamu iku ndak ngaca ta? Sok sok an bongga bangga, lha kamu sendiri juara piro? " tanya Risty yang setengah mengejek.


"Aku ya unda undi (hampir sama) lah sama dek Jeli, mbok pikir kamu gak pernah rangking? " balas Alvin.


"Sudah sudah.. Kenapa kalian malah bertengkar begitu seh? Kalian ini kan teman sekolah, jadi harus berteman yang baik. Ndak usah saling gontok gontokan begitu. Yang rukun gitu lho!! " nasehat pak Budi pada mereka bertiga.


"Ya sudah, kalau begitu bapak mau keruang kepala sekolah dulu ya. Jelita ayo ikut bapak ! "


Tanpa membantah, Jelita mengekor dibelakang pak Budi. Sedang kedua temannya hanya bisa saling pandang dan melempar pertanyaan dengan bahasa tubuh.


"Eh gayung rombeng, kiro kiro Jelita sama bapak nya kenapa malah ke ruang kepsek yo? " tanya Risty pada Alvin.


"Aku yo penasaran, opo karna dedek Jelita sudah juara kelas berturut turut mangkanya mau dikasih hadiah sama kepsek yo? " terkanya sendiri.


"Bisa jadi seh !! "


"Eh, lha ngopo kok aku jadi akrab banget sama kamu gayung rombeng? Iiihh... Syuh syuh... Pergi sana ! " usir Risty dengan mengibas ngibaskan tangannya.


"Eee... Lhadhala nenek lampir, kan tadi kamu sendiri to yang nanya aku duluan. Kok malah nyalahne aku lho.. " bantah Alvin.


"Nek kamu gak mau pergi ya wes, aku aja seng pergi. Bye !!! " sahut Risty lalu ia berbalik arah dan meninggalkan Alvin.


#ruang kepsek#


"Apakah tidak ada jalan lain pak selain memindahkan Jelita ke Jakarta? Soalnya putri bapak ini termasuk anak yang cerdas dan sangat diperhitungkan disekolahan ini pak. " ujar kepala sekolah yang sedang berusaha membujuk pak Budi.


"Tidak bisa pak, sebab dari sisi keluarga juga banyak yang kami perhitungkan. Dan menurut kami sebagai orang tuanya, memang lebih baik Jelita pindah ke Jakarta ikut eyang nya disana. " jelas pak Budi lagi.


"Kalau ndak, nanti saya bantu cari beasiswa untuk Jelita pak. Setidaknya agar memperingan biaya sekolahnya. " pak kepala sekolah masih berusaha membujuk.


Melihat kegigihan pak kepala sekolah membuat Jelita jadi tak tega melihatnya, pasal nya ia tau kalau keputusan orang tuanya itu tidak akan bisa diganggu gugat lagi. Jadi ia memilih untuk membuka suara, agar semuanya segera selesai.


"Ehm,.. Maaf sebelumnya pak saya menyela, ini semua memang keputusan dari orang tua saya. Akan tetapi saya sendiri sudah menyetujuinya, saya sama sekali tidak dalam kondisi tertekan, saya memang sudah memutuskan untuk pindah ke Jakarta ikut eyang. "


Setelah mendengar penjelasan dari Jelita, akhirnya kepala sekolah mau mengerti akan keputusan mereka.


Hari itu juga pak Budi mengurus surat perpindahan sekolah nya Jelita, karna tiga hari lagi mereka semua harus mengantar Jelita untuk pindah ke Jakarta.


*


*


Sore itu Jelita telah selesai packing barang barang nya yang akan dibawa ke Jakarta, sebelum besok berangkat ia ingin kerumah Risty untuk berpamitan. Karna selama ini ia sama sekali tidak menceritakan tentang kesulitan yang dialami keluarga nya kepada Risty. Kini tiba saatnya ia akan menceritakan semuanya kepada sahabatnya itu, sebelum besok ia berangkat.


Dengan kecepatan sedang, Jelita mengendarai motor kesayangannya menuju rumah Risty. Hanya butuh waktu sepuluh menit saja, ia sudah tiba dirumah Risty.


Tok, tok, tok...


"Kulonuwun... Ris, Risty... !! " panggilnya dari muka pintu utama. Tak lama kemudian ada yang menyahuti dari dalam.


"Monggo.. ! " keluarlah seorang wanita paruhbaya dengan sedikit tergesa gesa.


"Budhe, Ristynya ada? " tanya Jelita pada wanita itu yang diketahui sebagai ibunya Risty. Ia segera menyalami ibunya Risty.


"Eh nduk Jelita to, budhe kirain siapa tadi. Risty ne lagi tak suruh ke warung tadi, beli minyak. Ayo ayo masuk dulu nduk, bentar lagi juga pulang dia. " ibunya Risty mempersilahkan Jelita untuk masuk.


"Nggeh budhe, matursuwun. " Jelita masuk dan menunggu Risty diruang tamu.


"Budhe tinggal dulu yo nduk, tadi budhe lagi masak soale, takut gosong nanti. "


"Nggeh budhe, saya tunggu Risty disini saja. "


Ibunya Risty segera berlalu kedapur guna meneruskan kegiatan masaknya.


Tak lama kemudian Risty pun datang.









...Sudah dulu ya bestie, kita lanjut di CHAPTER selanjutnya Bye.. bye 👋👋...