
Bel pulang sekolah berbunyi, yang berarti pelajaran hari ini selesai. Satu persatu murid keluar dari kelas. Kelas sudah sepi, namun Dafina masih berada di kelas, ia masih mencatat pelajaran yang ketinggalan.
"Fin, gua balik duluan ya," pamit Bunga.
"Iya. Hati-hati gaess," jawab Dafina.
"Fin, balik bareng yuk!" ajak Rayn yang tiba-tiba masuk ke kelas Dafina.
"Gak usah. Gue bisa balik sendiri, lagian rumah gue ama sekolah lumayan dekat cuma sekitar sepuluh menit," tolak Dafina.
"Pokoknya tidak ada penolakan, babe. Gue yang akan nganter lu balik," ucap Rayn.
Dafina memutar bola matanya, kakak kelasnya ini keras kepala. Mau gak mau, ia harus menurutinya.
"Ya udah tunggu lima baris lagi," ucap Dafina tanpa mengalihkan pandangannya kepada buku.
Tak lama kemudian, Dafina selesai mencatat. Mereka berdua berjalan berdampingan ke parkiran.
"Lu tunggu sini, biar gue bawa mobilnya ke sini," ucap Rayn sebelum pergi.
Tin Tin Tin
Rayn turun dari mobil dan berjalan ke Dafina. Rayn menuntun Dafina dan membukakan pintu penumpang yang berada di depan. Di depan gerbang terlihat Rifqi dan Geng-nya asik mengobrol dengan Pak Satpam.
Citttttt Citttt
Tiba-tiba mobil Rayn diberhentikan oleh Rifqi saat mau keluar dari gerbang. Rifqi menatap Rayn dengan tahapan benci. Lalu, Rifqi menghampiri mobil tersebut dan membuka pintu di sebelah tempat duduk Dafina.
"Turun!" perintah Rifqi kepada Dafina. Namun Dafina masih diam di tempatnya, ia bingung harus melakukan apa.
"Siapa lo nyuruh-nyuruh Dafina, huh?!" tanya Rayn ketus dan dengan tahapan dingin.
"Lo gak tau siapa gue bagi Dafina? Baiklah gue bakal kasih tau lo." Rayn mengulurkan tangannya ke Rayn. "Lo mau tau kan gue itu siapanya Dafina? Makanya jabat tangan dulu biar gue kasih tau."
Rayn membalas uluran Rifqi. Dafina bingung harus berbuat apa, ia memilih diam.
"Kenalin gue pacarnya Dafina," ucap Rifqi santai.
Rayn tersentak kaget, ia tidak percaya apa yang dikatakan Rifqi. Ya Rabb, sepertinya kuping gue bermasalah deh. Gue harus memeriksanya ke THT, batin Rayn.
Rifqi pun menggengam tangan Dafina dan membawa Dafina turun dari mobil Rayn. Rifqi membawa Dafina menuju motor sport-nya.
Rifqi naik ke motornya, sementara Dafina masih diam di tempat.
"Ngapain masih berdiri aja? Naik cepetan!" perintah Rifqi.
Dafina pun duduk di bangku belakang Rifqi dan berpengangan.
"Pegangan dong, nanti kalo jatuh gimana? Kalo lo jatuh yang repot gue," ucap Rifqi.
Dafina pun memegang pundka Rifqi.
Jangan pegangan di pundak napa. Dikira gue tukang ojek. Muka ganteng gini masa tukang ojek, Batin Rifqi.
Tidak ada percakapan diantara mereka berdua di sepanjang jalan. Dafina tidak nat untuk mulai percakapan, sementara Rifqi masih memikirkan topik untuk pembicaraan.
"Belok mana? Kiri ato kanan?" tanya Rifqi.
"Kanan," jawab Dafina singkat.
Rifqi memutar bola matanya kesal. Ia tidak puas dengan jawaban Dafina yang sangat singkat.
Tidak lama kemudian, mereka sampai di depan rumah Dafina yang cukup sederhana.
"Makasih," ucap Dafina sebelum masuk ke dalam tanpa menunggu balasan Rifqi. Rifqi masih menunggu Dafina masuk ke dalam.
➷➷➷➷
Suasana di kelas pagi ini sangar ribut. Dafina yang baru masuk bingung, kenapa kelas sangar berisik dan kenapa semua mata tertuju padanya? Michelle menghampiri Dafina.
"Daf, lu pacaran ama kakel yang bernama Rifqi Pratama Bramasta?" tanya Michelle memastikan. Dafina kaget, pagi-pagi sudah ditanyakan begini dan lebih bingungnya mereka pada tahu darimana.
"Kata siapa?" tanya Dafina.
"Kata gue," jawab Rayn yang masuk ke dalam kelas.
Semua mata termasuk Dafina tertuju kepada Rayn. Rayn menatap Dafina dengan tatapan dingin. Dafina menghampiri Rayn yang menyender di pintu.
"Lo jadi yang nyebarin kabar gue jadian ama Rifqi?" tanya Dafina to the point.
"Fakta kan?" tanya balik Rayn.
"Gak usah fitnah deh lo!" bentak Dafina kesal.
"Gue cuma mau kasih tau, lo mau aja jadi mainannya Rifqi." ucap Rayn.
Dafina me bisa saat mendengar ucapan Rayn. Ia tahu, Rifqi memang suka mempermainkan hati perempuan
➷➷➷➷
Rifqi tidak peduli sama sekali tahapan dari semua orang bahkan bisikan mereka yang terdengar olehnya. Dengan gaya tak acuhnya, ia langsung duduk di bangkunya.
"Eh Rif, lo beneran pacaran ama adkel? Pacaran ama Dafina Destarihanifa?" tanya Angga memastikan ketika Rifqi baru saja mendaratkan bokongnya.
"Menurut lo?"
"Lo gak bercanda kan? Lo lagi gak kesurupan kan?" tanya Angga lagi.
Lagi-lagi Rifqi hanya diam membisu.
"Kalo iya, putusin dia!" perintah Angga.
Kali ini Rifqi tidak bisa diam. Rifqi menatap Angga dengan wajah ketidaksukaan.
"Ya gue memang pacaran ama dia. Siapa lo yang berani nyuruh-nyuruh gue mutusin hubungan gue dengannya?!"
Angga terbentuk saat Rifqi untuk pertama kalinya membentak dirinya.
"Denger dulu, Rif. Maksud gue bukan itu. Maksud gue–" ucapan Angga dipotong oleh Rifqi yang langsung cabut tanpa menunggu penjelasan Angga.
➷➷➷➷
Jarak antara Dafina dengan Rayn semakin terbentang begitupun Rifqi dengan sahabat-sahabatnya. Seakan ada tembok yang sangat besar menghalangi mereka.
"Kok kak Rayn ngomong gitu sih? Sebenarnya ada apa sih?" tanya Cleo.
"Jadi gini, kemaren gue telat. Terus ama Dio gue diajak lewat gerbang kecil yang terletak di kantin itu. Ternyata saat itu semua anak OSIS sedang berjaga. Kena dah gue." Dafina menghela nafas, lalu melanjutkan ceritanya.
Cleo, Bunga, dan Michelle menahan tawa mereka saat mendengar cerita Dafina.
"Napa pada ketawa sih. Orang gak ada yang lucu juga," protes Dafina kesal.
"Padahal lumayan lho. Rifqi kan ganteng, tajir, tinggi, ketos lagi, dan lo bisa famous karna pacaran ama dia," ucap Bunga sebelum memakan siomay-nya.
Dafina menggeleng cepat, "Ish, apa-apaan sih kalian! Gue tuh ke sini tuh tujuannya menuntut ilmu bukan famous."
Mereka menghentikan pembicaraan ketika melihat Carissa, Bima, dan Rifqi membawa makanan dan minuman sambil berjalan menghampiri mereka.
"Kita boleh duduk di sini kan?" tanya Bima.
"Hmm boleh kok kak," jawab Cleo.
"Chelle, gue pengen duduk di situ. Lo geseran dong," perintah Rifqi kepada Michelle.
Michelle menggeser posisi duduknya sesuai yang diperintahkan oleh Rifqi. Dafina mendengus kesal seraya melemparkan tatapan ketidaksukaan.
"Oh ya, dimana Kak Angga?" tanya Bunga heran, biasanya mereka selalu berempat ini malah bertiga.
"Emm, dia masih di kelas, biasa ada urusan," alibi Rifqi menutupi perselisihan antara dirinya dan Angga.
"Ishhh jangan duduk di samping gue napa!" suara cempreng Bunga. Dafina mengalihkan pandangannya, menemukan Bunga sedang membentak Bima.
"Siapa juga yang mau duduk di sebelah cewek bar bar," ketus Bima tak mau kalah.
Bima pindah tempat duduk di sebelah Carissa.
"Lu kenapa duduk di depan gue sih?!" tanya Bunga lagi, kali ini tak kalah sewot dengan yang barusan.
"Lah? Trs gue duduk dimana?" balas Bima.
"Udah woy! Jangan kaya anak kecil," tegur Carissa kepada keduanya. Mereka langsung diam.
"Oh ya, dimana Kak Angga?" tanya Bunga heran, biasanya mereka selalu berempat ini malah bertiga.
"Emm, dia masih di kelas, biasa ada urusan," alibi Rifqi menutupi perselisihan antara dirinya dan Angga.
"Ishhh jangan duduk di samping gue napa!" suara cempreng Bunga. Dafina mengalihkan pandangannya, menemukan Bunga sedang membentak Bima.
"Siapa juga yang mau duduk di sebelah cewek bar bar," ketus Bima tak mau kalah.
Bima pindah tempat duduk di sebelah Carissa.
"Lu kenapa duduk di depan gue sih?!" tanya Bunga lagi, kali ini tak kalah sewot dengan yang barusan.
"Lah? Trs gue duduk dimana?" balas Bima.
"Udah woy! Jangan kaya anak kecil," tegur Carissa kepada keduanya. Mereka langsung diam.
"Hai Kak Dafina!" sapa seorang cewek yang tiba-tiba menghampiri Dafina.
Dafina mendengar ke cewek itu, "Iya dek, ada apa?"
"Kak, saya mau nanya. Kakak tau gak dimana Kak Rayn?" tanya cewek itu.
Dafina diam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Sementara dirinya dengan Rayn sedang tidak baik saat ini.
"Emm, saya tidak tau, Dek. Maaf ya," jawab Dafina jujur.
"Oh ya udah makasih, Kak." Ucap cewek itu sebelum pergi.
"Eh iya, bagaimana kabar Rayn?" tanya Bima kepada Dafina.
"Gak tau," jawab Dafina.
"Lah? Gak tau? Bukannya kalian berdua itu deket banget ya?" tanya Carissa heran.
"Gue ama dia lagi gak baik akhir-akhir ini, " jawab Dafina.
"Kenapa emangnya?" tanya Bima penasaran.
"Hmm..." Dafina bingung bagaimana harus mengatakannya. Dafina menatap teman-temannya dengan tatapan, Plz bantu gue! Tapi mereka malah diam.
"Pasti gara-gara gue jadi pacar lu kan?" tebak Rifqi. Dafina memutuskan diam mengunci mulutnya rapat-rapat.
"Bener kan dugaan gue," ucap Rifqi. Setelah itu, cowok itu bangkit dari tempat duduknya dan pergi dari sana.
➷➷➷➷
Sepanjang jalan, Dafina sibuk memikirkan kejadian di kantin tadi. Dia masih mencermati tindakan Rifqi. Ada apa dengan cowok itu? Kenapa dia pergi tiba-tiba?
"Lo kenapa melalui aja? Awas nanti ketabrak baru tau rasa," tanya Cleo.
Dafina tersenyum, lalu menggeleng, mengisyaratkan dirinya baik-baik saja, padahal nyatanya tidak.
Dafina berjalan menuju kelas Rifqi. Angga muncul dan berpapasan dengannya.
Angga mendekati Dafina lalu berkata, "Lu nyari Rifqi?" tanya Angga.
Dafina mengangguk.
"Gue cuma mau kasih tau, lebih baik lu putus dari Rifqi. Gue gak mau lu jadi mainannya dia," ucap Angga.
Dafina mengernyitkan dahinya atas perkataan Angga barusan.
"Kalo lu mau tau dimana Rifqi, dia ada di ruang OSIS," lanjut Angga tersenyum miris.
"Makasih." ucap Dafina sebelum pergi dari sana.
Di perjalanan menuju ruang OSIS, ia melihat Rifqi keluar dari toilet dengan seragam sekolahnya dikeluarkan, sedangkan dua kancing paling atas dibiarkan terbuka sehingga terpampang jelas kaos hitam yang timbul dari balik seragam sekolahnya.
"Rifqi!" Panggil Dafina, namun Rifqi menghiraukan panggilannya.
Dafina pun mengejar Rifqi, tapi sayangnya jalan Rifqi lumayan cepat baginya. Sesampai di depan ruang OSIS, ia mengetuk pintu sebelum dibuka. Seketika air matanya menetes saat membuka pintu tersebut. Dafina menutup pintunya kembali dan berlari sambil nangis.
➷➷➷➷
Sehabis dari kamar mandi, Rifqi balik ke ruang OSIS. Saat ia buka pintu, ia melihat Irish ada di sana.
"Irish?" ucap Rifqi datar.
"Hai Rif!" sapa Irish memeluk Rifqi.
"Eh hai. Btw, lu kenapa ke sini?" tanya Rifqi heran, biasanya Irish sudah jarang ke sini.
"Gue mau ketemu ama lo. I miss you so much," ucap Irish.
Irish menepuk jidatnya, "Hampir aja lupa. Gue punya sesuatu buat lo," Kata Irish.
"Apa?"
Irish menarik tangan Rifqi menuju tasnya yang di taruh di atas meja. Tapi mereka tidak melihat ke bawah saat melangkah, sehingga mereka berdua jatuh ke lantai dengan posisi Irish dibawah Rifqi.
Di sisi lain, Dafina melihat Rifqi yang **** Irish dan jarak antar mereka sangat dekat. Dafina pergi dari sana dalam keadaan menangis dan hancur.
"Ma-maaf," ucap Rifqi bangun dari tempatnya.
Irish memberikan sebuah kotak berwarna abu-abu dengan pita di menghiasinya. Rifqi menerima hadiah yang diberikan Irish.
"Buka dong, Rif!" Seru Irish.
Rifqi membuka kotak tersebut. Di dalam kontak itu terdapat kacamata, jam tangan, dan beberapa kado lainnya.
Dafina berlari menuju gerbang, ia melihat Rayn di gerbang yang sedang duduk di atas motornya. Dafina mengelap air matanya lalu menghampiri Rayn.
"Rayn!" Panggil Dafina.
Rayn menoleh, "Ada apa ke sini? Kalo nyari Rifqi kayanya lu salah deh, gue gak tau dimana keberadaannya."
"Bukan. Gue bukan nanya Rifqi atau apapun. Gue cuma mau ngomong sama lo," ucap Dafina.
"Gak usah ngomong apapun sama gue mulai sekarang! Anggap aja kita berdua tidak saling kenal," ucap Rayn.
"Tapi Rayn, gue mau jelasin semuanya. Gue ama Rifqi tuh–"
"Gue gak butuh penjelasan lo." Rayn memotong ucapan Dafina.
Rayn pergi meninggalkan Dafina tanpa menunggu penjelasannya.
➷➷➷➷
Rifqi menarik gas motornya hingga motornya itu melaju sangat kencang. Emosinya meningkat, ia sudah tidak tahan dengan kelakuan Rayn yang menyebarkan hubungannya dengan Dafina. Tempat tujuannya adalah sebuah Cafe. Cafe yang dulu sering dipakai tempat kumpul mereka.
Ketika Rifqi sampai, ia bisa melihat Rayn sedang mengobrol dengan Angga. Rayn menoleh menyadari kehadiran Rifqi di Cafe itu. Rifqi tersenyum miring. Angga pun ikut menoleh.
"Eh ada anak Akuntansi," sapa Angga yang sebenarnya itu ejekan.
"Gue anak OTKP–Otomatisasi Tata Kelola Perkantoran–bukan anak Akuntansi!" ucap Rifqi dengan penuh penekanan.
"Anak OTKP jadian ama anak Akuntansi maksud lho?" sendiri Angga.
"Anak OTKP temenan ama anak Akuntansi. Bukan Akuntansi saja tapi semua jurusan." Rifqi membenarkan perkataan Angga.
"Yayaya serah lho deh."
"Maksud lo apa nyebarin berita kaya gitu, hah?" tanya Rifqi emosi kepada Rayn.
"Gue mau kalian putus," Jawab Rayn.
"SIAPA LO NGATUR-NGATUR KEHIDUPAN GUE AMA DIA? HUBUNGANNYA SAMA LO APA?!" Bentak Rifqi.
"Lo nanya apa hubungannya ama gue? Jelas-jelas ada hubungannya ama gue, karna lo udah ngerebut milik gue," ucap Rayn.
"Bukan gue yang ngerebut Dafina dari lo. Tapi lo-nya yang kalah telak sama gue."
➷➷➷➷
***Halo gaess??
Bagaimana kabar kalian semua?
Haduh tuh cowok-cowok napa pada rebutan Dafina sih, mendingan author :v
Iya gak gaess?
Kalian di tim siapa nih?
Atau... kalian di tim yang nulis cerita ini lagi :v?
Jangan lupa vote dan comments gaess ^_^
See u next time 😚😚****