
**Jangan lupa kasih vote ⭐, Comment, and share 🌚🌝🌜🌛🌞
Jam berapa kalian baca ini ^^?
Happy Reading** ^_^
❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥
Rasa khawatir adalah awal dari sebuah perasaan yang nyata
❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥❥
Tatapan mata Dafina melebar saat baru masuk ke dalam rumah, di sana ada Rayn yang sedang mengobrol dengan Mamanya. Untuk apa Rayn ke rumahnya? Dari kapan? Rasanya Dafina ingin ngehindar tapi sudah terlambat karna Mamanya sudah melihatnya dengan senyum penuh arti.
"Baru pulang sekolah, Kak?" tanya Mamanya yang terdengar seperti sindiran.
Dafina mengigit bibir bawahnya, lalu memamerkan gigi-giginya dan berjalan mendekati Mamanya.
"Mama tinggal ya, kamu disini ngobrol dulu ama Rayn," kata Mama sebelum pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kak Rayn kesini ngapain?" tanya Dafina.
"Mau mastiin lo ada di rumah apa gak, tapi nyatanya lo baru pulang. Emangnya lo habis darimana sampe-sampe baru balik?"
Entahlah rasanya aneh, Rayn menjadi selalu ingin tahu apa yang Dafina lakukan padahal dirinya sudah menolak cowok itu.
"Dari sekolah," jawab Dafina.
"Sekolah udah bubar dari jam 3."
"Sebenarnya gue disuruh ama Pak Herry buat ngajarin Rifqi setiap pulsek sampe nilai dia bagus," ucap Dafina jujur.
"Gue gak bisa ngelarang lo, Fin. Tapi gue cuma bisa nasehatin lo, jangan buat diri lo sendiri terluka."
Rayn takut kalau Dafina akan bernasib dengan cewek-cewek lainnya. Dia akan dibuat melayang tinggi lalu dihempaskan oleh Rifqi.
"Gue tau dan thanks because sudah ngingetin and perhatiin gue."
➷➷➷➷
Malam ini adalah malam paling menyebalkan. Dia harus mendengarkan omelan dan ceramah dari Mamanya karena insiden hari ini.
"Mama gak pernah ngajarin kamu pulang malam ya," kata Mamanya.
"Iya Ma, maaf. Tapi kan kakak pulang malam karna disuruh Pak Herry ngajarin temen setiap habis jam pulang."
"Iya maaf, Ma."
Untung saja ayahnya sedang tidak ada di rumah, kalau ayahnya ada di rumah maka dia akan diomelin dan diceramahi lebih dari ini. Bagaimanapun orang tuanya, Dafina tetap sayang. Karna jika orang tua memarahi kita berarti mereka saya terhadap anak-anak mereka.
Kedua orang tuanya tidak pernah membandingkan anak-anaknya dengan anak orang lain. Mereka gak mau kalau anaknya dianggap anak lain.
Tiba-tiba telpon Dafina berdering dan benar saja ada panggilan masuk ke telponnya.
"Angkat dulu telponnya, kasihan temen kamu nungguin," kata Mama.
Dafina berdiri dari tempatnya dan berjalan sedikit menjauh dari Mamanya, lalu mengangkat telpon dari Rifqi.
"Ada nelpon gue?" tanya Dafina to the point.
"Gue cuma mau mastiin lo udah nyampe di rumah apa belom."
"Gue udah di rumah," jawab Dafina.
"Bagus deh. Oh ya, besok mau belajar dimana lagi?" tanya Rifqi di seberang sana.
"Maaf kayanya anda salah sambung deh, saya bukan Fina tapi Dafina." Dafina memutuskan sambungan telponnya secara sepihak.
Rifqi menelpon saat tidak tepat apalagi bertanya besok mau belajar dimana.
"Siapa dia? Pacar kakak?" tanya Mama.
Dafina menggeleng, "Temen kok Ma."
"Kamu gak boleh pacaran dulu, Kak! Kalau udah tercapai cita-citanya dan udah punya uang sendiri baru boleh pacaran dan nikah. Kalau suka ama cowok itu wajar, Mama gak ngelarang."
Jlebb
Dafina menelan salivanya saat mendengar perkataan Mamanya.
➷➷➷➷
**Hai hacin 🌝🌚 kita ketemu lagi di chapter ini :333
Maaf ya jika chapter ini pendek ☹️
Jangan lupa tinggalkan vote and comment Kalian semua di chapter ini & chapter2 berikut dan seterusnya ^_^
See u next 💕💕**